Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Mei 2012

Lebih baik telat daripada tidak samasekali. *LOL

Setelah dulu jaman SMA telat menggemari drama Taiwan, sekarang saya telat lagi nih menggemari drama korea. hihihi. 
Orang sudah membahas korea sampai kemana-mana ehh saya baru aja mulai menggilai drama nya. 

Dimulai dari iseng mengikuti kisah Bread Love and Dreams di ANTV sebelumnya angin2an lebih dulu menggemari Sassy Girl-(Chun-Yang), akhirnya nagih deh drama korea lainnya. Dan kemarin adalah untuk kali pertamanya saya nonton lewat VCD. 
Drama duapuluh seri itu akhirnya diselesaikan dalam dua hari. Yippie! hihihi. 

Adalah 49 Days judulnya. 
Cewek cantik bernama Ji-Hyun dengan kehidupan yang nyaris sempurna meninggal di hari-hari menjelang pernikahannya. Ji-Hyun diberikan waktu selama 49 hari untuk menyelesaikan urusan duniawi yang belum terpecahkan. 
Selama 49 hari tersebut Ji-Hyun baru tersadar siapa orang yang benar benar tulus menyayangi dia dan yang berpurapura baik dengan dia.


49 days
Saya terhipnotis banget deh dengan serial drama korea yang satu ini. Apalagi dengan sosok watak Hang-Kang yang cool dan setiaaaa banget. Finally, sempat ada beberapa kali adegan airmata deh. hahaha

Agenda selanjutnya adalah Bread Love and Dreams.  Gak seru nonton di stasiun tivi. Kurang greget karena sering kepotong iklan. Belum lagi dubbing pula. Aihhh...

By the way kalau dulu sering gak habis pikir sama adik yang kuat banget begadang demi menghabiskan serial korea, sekarang malah bilang "Untung adik gue penggila korea. Jadi serial populer dijamin stoknya ada. Tinggal sebut aja." hahaha

**

Drama Korea yang penuh intrik, tapi gak lebay kayak sinetron. Tanpa mata mendelik-delik, tanpa tokoh antagonis dengan sasak tinggi, tanpa adegan amnesia atau operasi plastik demi memperpanjang episode. 
Tanpa itu semua, konflik yang dihadirkan justru lebih menarik. Pastinya bikin penasaran. 
So, siap siap mengurangi jatah substitusi tidur malam nih. wkwkwk





Sabtu, 24 Desember 2011

Who decides what makes a mother?


 “Makna Ibu tidak selalu berarti orang yg melahirkan anak, Ibu bermakna kasih sayang, cinta kasih dan kepedulian…” 

Kutipan status salah satu teman di jejaring sosial facebook mungkin bisa diselaraskan dengan film garapan Stephen Gyllenhaal yang berjudul “Losing Isaiah”. Film produksi tahun 1995 ini berkisah tentang seorang anak kulit hitam, Isaiah (diperankan oleh Marc John Jeffries) yang diadopsi oleh sebuah keluarga kulit putih.  Alih-alih dapat mengasuh dan membesarkan sang anak sampai dewasa, beberapa tahun kemudian ternyata Ibu kandung sang anak, Khaila Richards (diperankan oleh Halle Berry) berupaya dengan segala daya memperjuangkan kembali sang anak tersebut agar dapat kembali ke pelukannya. Sang ibu angkat, Margaret Lewin (diperankan oleh Jessica Lange) ternyata tidak rela begitu saja melepas hak asuhnya. Alasannya sederhana: rasa cinta kasihnya yang sudah tumbuh terhadap sang anak. 

Tentu tidak mudah bagi keduabelah pihak dalam memperjuangkan apa yang  mereka inginkan.  Khaila Richards yang belakangan diketahui adalah seorang mantan pecandu narkoba berada pada posisi sulit untuk dapat meloloskan tuntutannya. Sementara Margaret Lewin, dengan latar belakang kulit putihnya, dijadikan senjata ampuh bagi pengacara Khaila Richards, Kadar Lewis  (diperankan oleh Samuel L.Jackson) untuk menyerangnya dari sisi ras. 

Film ini bertema sederhana, namun memiliki alur cerita yang padat dan utuh. Ketegangan proses persidangan ditampilkan sewajarnya, dengan penekanan pada pembelaan masing-masing pihak atas alibi hak asuh mereka.
Penghayatan peran masing-masing pemain tidak diragukan lagi. Bahkan, Marc John Jeffries pun sukses memainkan perannya dengan sangat natural.
Jujur, saya sampai beberapa kali sempat menitikkan airmata. hehehe 

Losing Isaiah menggambarkan betapa cintakasih seorang Ibu adalah sesuatu yang tumbuh alami. Tidak mampu dibayar oleh apapun, tidak mampu terkikis oleh waktu meski sesulit apapun rintangan yang akan membatasi jaraknya pada sang anak. Lantas...“Who decides what makes a mother?”






*Selamat Hari Ibu untuk seluruh wanita di dunia*



Selasa, 12 April 2011

Tanda Tanya (?)

 




Film pertama yang akan saya ceritakan ini belakangan sempat jadi kontroversi di kalangan komunitas Nahdatul Ulama,lantaran menampikan komunitas Barisan Ansor Serba Guna (banser) yang menurut tokoh NU tidak sesuai fakta sebenarnya.

Tapi terlepas dari itu, film karya Hanung Bramantyo ini menurutku terbilang menarik dan berkualitas bila dibandingan film tanah air kebanyakan.  Alur cerita jelas dan sesuai dengan pesan yang hendak disampaikan.  Ceritapun mengalir tanpa ada kesan menggurui, meski ada beberapa scen yang mencirikan Hanung banget, serta beberapa cerita yang dibuat dramatisir. Tapi itu semua masih dalam batas wajar selayaknya karya fiksi.

Bagi sebagian orang, film besutan penulis skenario Titien Wattimena ini dianggap  menyudutkan Islam dan melanggar beberapa aturan agama seperti;  Surya (Agus Kuncoro), seorang muslim tapi melibatkan diri dalam pementasan drama di sebuah gereja katholik ; Menuk (Revalina S.Temat), seorang muslim namun bekerja di sebuah restoran cina yang menyediakan panganan babi; atau Rika (Endhita) yang sebelumnya beragama Islam lantas menjadi penganut katholik lantaran “kecewa” dengan (mantan) suaminya yang hendak meminta berpoligami; serta sosok Soleh (Reza Rahadian) yang di anggap agamanya bagus (shaleh) namun memiliki perangai temperamental. 

Tapi (masih) menurutku, penonton juga selayaknya tidak menafikan bahwa sang sutradara berusaha menampilkan sisi manusiawi dalam cerita tersebut. Diceritakan bagian-bagian dimana para tokoh merasakan gejolak batin yang hebat pada setiap keputusan yang di ambilnya. Pun digambarkan bagaimana usaha keras mereka untuk memilih serta mempertahankan keimanan dalam diri masing-masing meski berada dalam komunitas yang berbeda. 

Agar seimbang, sutradara juga mencoba menampilkan sosok “antagonis” di masing-masing agama. Doni (Glenn Fredly), seorang penganut katholik yang sinis terhadap muslim, serta Tan Kat Sun (Hengky Sulaeman) yang temperamental, masih dalam masa pencarian jati diri, dan begitu membenci Islam lantaran sakit hatinya ditinggal Menuk yang lebih memilih Soleh karena seiman.

Dalam film ini, tidak semua muslim ditampilkan (seolah-olah) kasar, temperamental, suka berpoligami dan labil dalam mempertahankan keimanan serta aqidahnya.  Tokoh muslim yang teguh pendirian terhadap akidahnya dan berperangai santun digambarkan pada sosok Menuk, serta Ustadz (David Chalik) yang penyabar dan bijaksana. Pada agama Katholik, sosok penuh welas asih digambarkan dalam diri seorang Romo Gereja Santo Paulus (Dedy Soetomo), dan pada agama Kong Hu Cu, diwakilkan oleh majikan Menuk, Lim Giok Lie (Edyman) dan istri yang penuh toleransi dan kasihsayang.  

Pada akhir cerita, Ada adegan dimana ditemukan sebuah bom di dalam gereja katholik yang tidak diketahui pengirimnya. Tidak pula disitu digambarkan bahwa “tersangka”nya adalah ummat muslim. Justru dalam film tersebut diceritakan bahwa yang menyelamatkan jemaat gereja dari ledakan bom tersebut adalah seorang muslim (Sholeh). 
Sosok Rika pun dalam cerita tsb digambarkan meski sudah menganut Katholik, masih memendam aqidah Islam lewat defenisi Tuhan yang dijabarkannya melalui “Asmaul Husna”. 
Lim Giok Lie, sebelum wafat mewariskan amanah pada anaknya, Tan Kat Sun, untuk mempelajari agama Islam yang pada akhir cerita menuntunnya menjadi mualaf.

Ketika ada adegan dimana Sholeh dan jemaah masjid lainnya melakukan penyerangan ke restoran milik Lim Giok Lie, menurut saya adegan tersebut bukan hendak menggambarkan bahwa Islam itu kasar dan radikal seperti kritik beberapa pihak, tapi yang hendak disampaikan justru pesan untuk dapat menjaga sikap toleransi yang seharusnya difahami oleh warga muslim dan non muslim. Juga pesan bahwa kesalahfahaman dan sikap gegabah bisa menimbulkan pertikaian yang sia-sia.

Jadi menurut saya, gambaran tokoh serta cerita dalam film ini cukup adil dan tidak terkesan mendeskreditkan agama tertentu,apalagi Islam.

Namun sedikit kritik dari saya adalah, dalam beberapa karyanya, mengapa Hanung gemar sekali me “mati”kan salah satu tokoh dalam hampir setiap episode cinta segitiga? Juga bagi Revalina S. Temat, ini adalah kali ke dua nya dia berperan sebagai sosok wanita muslimah yang ditinggal wafat suaminya (setelah sebelumnya cerita serupa dalam Perempuan Berkalung Sorban). Hehehe

Begitu setidaknya pendapat saya. Saya memaknai film ini murni sebatas sebagai penikmat karya sineas, tidak sebagai posisi ulama ataupun cendikia muslim yang berkompeten. Jadi, silahkan teman-teman nikmati film ini, dan temukan pesan moril serta kritik sendiri di dalamnya. :)


***