Tampilkan postingan dengan label Women. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Women. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juni 2011

SuFor vs ASI

Salah satu saudara mempost status facebook pagi ini dengan laman berita online yang mengabarkan bahwa ilmuan China tengah mengembangkan produk susu formula (sufor) bagi anak-anak dengan kualitas yang menyerupai susu ASI. Sepertinya saudaraku ini makin berang dengan pemberitaan belakangan yang makin marak mengenai sufor vs ASI. Penekanan statusnya berkaitan dengan artikel tsb bahwa bagaimanapun itu, kualitas sufor tidak akan pernah menyamai kualitas ASI. Menariknya, statusnya tersebut ternyata menggelitik salah satu temannya untuk berkomentar bahwa pengembangan formula sufor adalah sah saja mengingat problema sulit menyusui melanda beberapa ibu muda belakangan ini. 

Semua yang berasal dari Tuhan tidak akan pernah tergantikan dengan apapun, meski teknologi paling canggih sekalipun. Dan semua orang (seharusnya) tahu & menyadari itu. Permasalahan yang muncul adalah, ketika seorang Ibu tidak atau tidak lagi memberikan ASI nya pada anaknya, maka makanan layak (sejenis susu ASI) apa yang pantas diberikan untuk sang anak ? Tentu kebanyakan kita akan menjawab susu formula.

Kalau saya pribadi berpendapat bahwa sufor selayaknya dijadikan sebagai pelengkap saja, dengan asumsi kualitas susu ASI seorang Ibu baik sehingga sang Ibu bisa menyusui dengan normal. Lantas bagaimana dengan seorang Ibu muda yang tidak mampu menyusui anaknya karena problem anatomi terkait yang menyebabkan ybs sulit memberikan ASI pada bayi nya? 
Ya...dan hal itu benar-benar terjadi pada salah satu saudaraku yang lain. 

Saat itu dia bercerita bahwa betapa berat hatinya membiarkan anaknya 'bergantung' dengan produk susu formula. Butuh waktu yang cukup lama untuk menerima kenyataan bahwa dia tidak dapat memproduksi ASI  dengan normal layaknya Ibu pada umumnya. Dia bisa menyusui, tapi dengan kualitas ASI yang  keluar sangat sedikit. Maka dengan berat hati dia harus dapat memfokuskan fikirannya untuk selektif terhadap sufor demi asupan gizi tambahan bagi sang anak.

Jujur saja, saya empati setiap mendengar atau membaca berita serupa. Ibu mana sih yang tidak ingin menyusui anaknya sendiri? dekapan serta sentuhan kulit antara si anak dan Ibu ketika proses breastfeeding memang menjadi satu-satunya kelebihan ASI yang tidak akan terjadi jika anak diberikan sufor. 
Maka saya katakan bahwa betapa hebatnya mental seorang Ibu yang terpaksa tidak bisa menyusui secara maksimal buah hatinya. Sungguh pergulatan batin yang luar biasa hebat. 
 
Lalu bagaimana dengan Ibu yang tidak menyusui anaknya lantaran dikaitkan dengan problem kecantikan dan bentuk payudara yang tidak lagi indah? Perlu diluruskan dulu, mungkin "tidak menyusui" disini maksudnya adalah tidak adanya proses breasfeeding dalam pemberian ASI. (bukan benar-benar tidak 'menyumbangkan' ASI-nya.) 
Krn melalui banyak informasi  yang pernah saya baca, dalm keadaan normal, ASI pasti akan tercipta seiring dengan proses kehamilan seorang wanita. Tidak dapat mengeluarkannya secara normal biasanya lantaran problem anatomis ybs. Lantas bagaimana dengan "tidak menyusui" tadi? 

Hhhmm...kalau ini menurut saya kita jangan justifikasi dulu bahwa Ibu yang tidak menyusui anak-anak nya secara langsung adalah Ibu yang takut bentuk payudaranya tidak bagus lagi. Banyak juga problem ibu-ibu muda yang berkaitan dengan proses breastfeeding ini. Aktivitas sebagai seorang wanita kantoran misalnya. Hal tersebut membuat si Ibu tidak dapat total 100% melakukan proses menyusui secara langsung sepanjang hari untuk anak-anak mereka. Lalu, apakah kita katakan mereka sebagai Ibu yang tidak mencintai anak mereka?

Mungkin metode jaman nabi dengan "mencari ibu sepersusuan" bisa diterapkan bagi kasus yang berkaitan dengan anatomis sang Ibu yang saya ceritakan diatas tadi. Tapi tetap lagi-lagi : seorang Ibu akan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Jadi wajar saja kalau seorang Ibu tersihir dengan jargon iklan sufor yang makin kian gencar. 


***


Alasan ilmuan di Cina yang membuat formula sufor identik dengan kandungan gizi ASI adalah sebagai berikut:

"Kekhawatiran negara barat tentang etika dari modifikasi genetik adalah salah tempat. Ada 1,5 miliar orang di dunia yang tidak mendapatkan makan dengan cukup, menjadi tugas kita untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi," 

-direktur proyek penelitian China's Agricultural University (Profesor Li Nin)-



Senin, 16 Mei 2011

Ta'aruf

Dari beberapa dalil yang menjadi dasar istilah ini, yang paling populer adalah surat Al-Hujuraat ayat 13 ".....sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu......"

Saya tidak akan mengupas secara harfiah dari ayat tersebut ataupun dalil-dalil nya., karena saya merasa tidak kompeten untuk hal tersebut. Tapi disini saya akan sedikit berkomentar dari sisi pendapat saya pribadi sejauh pengetahuan yang saya tahu. 

Sejatinya taaruf adalah suatu proses saling mengenal antara seorang wanita dan seorang laki-laki dengan tujuan ke arah pernikahan. So, ada dua penekanannya: menikah; perkenalan. Mengapa saya mendahulukan kata "menikah"? Karena taaruf harus didahului dengan niat untuk menikah. Setelah niat itu ada, barulah melakukan proses perkenalan kepada sang calon yang dimaksud. Perkenalan disini maksudnya lebih kepada segala informasi yang sifatnya pribadi seperti watak si calon yang mau kita taaruf-in, bagaimana kehidupan sehari-harinya, bagaimana keluarganya, dsb. Apakah si calon (calon yg mau di taarufin loh...bukan calon bakal istri or suami..karena belum pasti juga lanjut apa enggak?) ini punya sifat temperamental? penyabar? dsb yang berkaitan dengan kepribadiannya.
Informasi yang diperoleh dari taaruf juga bisa juga bisa seputar pekerjaannya, pendidikannya, dst. Tapi penekanan utamanya adalah kepada kepribadian dan penilaian orang-orang terdekat mengenai sang calon.

Segala informasi ini biasanya diperoleh lewat sahabat, guru, atau keluarga sang calon yang akan di taaruf-in. Alternatif lain adalah lewat komunikasi. Lewat ngobrol, tukar pikiran, dst. Tapi untuk tahap ngobrol, tetap tidak diperkenankan berdua-dua an, demi menghindari terjadinya hal diluar yang diinginkan (you know what i mean?hehe) 

Lalu ada pertanyaan dari seorang sahabat: Berarti taaruf itu sudah pasti harus jadi donk? karena kan sudah jelas tuh sasarannya siapa dan mau apa? Soalnya kalau tidak jadi, kasian pihak wanitanya...
Hhhmmm....menurut saya, ada dua hal yang perlu diluruskan bahwa:

1. Taaruf itu bukan sesuatu yang sifatnya pasti. Keyakinan untuk menikah itu maksudnya adalah niat si pelaku taaruf untuk menikah. Bukan permasalahan si pelaku taaruf mau menikahi si "A" atau si "B" dan lalu dia melakukan proses taaruf...lalu selama proses taaruf itu nanti barulah terbesit niat untuk serius menikah. Bukan seperti itu Sista... Niat si pelaku untuk segera menikah, ditambah dketertarikan si pelaku terhadap si "A" atau si "B", menyebabkan si pelaku melakukan taaruf. So,kombinasi keduanya lah yang menyebabkan terjadilah itu taaruf...Makanya, dalam taaruf, durasi waktu yang diperkenankan cukup singkat, biasanya paling tidak sekitar tiga bulan. Dengan begitu diharapkan tidak terjadi hal diluar itu (seperti berdu-dua-an, sayang2an, dsb) , serta segala informasi yang diharapkan mengenai si calon bisa digali dengan efektif.

2. Sepemahaman saya, taaruf itu tidak melulu harus laki-laki. Kebiasaan "laki-laki yang maju duluan" adalah suatu bentuk paham yang  terjadi pada negara yang menganut budaya patriarki. Salah satunya negeri kita.
Rasul pada zamannya di taaruf-in oleh Khadijah koq...Khadijah tertarik dengan Rasul berkat kabar kejujuran beliau. Saat itu rasul belum menjadi "orang terkenal" selain sebagai seorang pemuda biasa yang jujur. Oleh karena itu, untuk mencari informasi yang mendalam mengenai Rasul, Khadidjah melakukan taaruf yang diperantarai utusannya.

So, untuk pertanyaan tersebut, yang dikatakan wanita sebagai objek derita atas taaruf adalah tidak sepenuhnya benar. Objek derita juga bisa terjadi pada laki-laki jika yang melakukan taaruf  adalah wanita. Jadi, redaksional yang lebih tepat adalah :  yang akan jadi objek derita adalah laki-laki/perempuan yang terlalu berharap banyak pada subjek pelaku taaruf ketika proses ta'aruf  berjalan. (hahaha. Bingung gak dgn kalimat gue??)

Ta'aruf juga tidak melulu harus di awali saling ketertarikan keduabelah pihak dulu. Sudah jelas pada contoh yang saya ceritakankan di atas, Khadijah adalah pihak yang duluan tertarik dengan Rasulullah. Beliau melakukan taaruf kepada Rasul. Khadijah yang sudah terkenal sebagai wanita mulia pada zamannya saat itu tidak ditolak  oleh Rasul. Alasan tidak ditolaknya Khadidjah oleh Rasul adalah karena kemuliaan akhlak Khadijah yang sudah terkenal. Meski seorang janda, Khadijah bisa menjaga harga diri dan martabatnya. Banyak saudagar kaya yang hendak menikahi Khadijah, tapi tak satupun yang berhasil meluluhkan hati beliau, kecuali kabar kejujuran seorang Muhammad SAW. 
Pernikahan beliau langgeng, dan Rasul tidak berpoligami semasa bersama Khadijah.  

Itu defenisi ta'aruf menurut pemahamanku. Silahkan teman-teman cari rujukan lain demi kelengkapan & keakuratan informasi. (hihihi)
Kesimpulan yang terpenting adalah, baik pihak yang melakukan taaruf, ataupun pihak yang di taarufin sama-sama memiliki posisi tawar yang tinggi (hehe...baraaang kaleeee...!). Jadi jangan serahkan jiwamu  (apalagi ragamu.hehe)100% dulu pada sesuatu yang belum pasti. Karena taaruf bisa saja dilakukan kepada lebih dari satu orang. Karena jika ternyata ta'aruf batal diteruskan, kita yang akan tersiksa donk kalau sudah terlalu maen hati. hehehe.
Pertanyaan selanjutnya: "Apakah ta'aruf merugikan pihak wanita?"
Jawaban saya: "Justru ta'aruf sangat menjaga harga diri & kehormatan wanita" :)

Allahu'alam...




Selasa, 26 April 2011

In the name of L.O.V.E


Ini cerita pribadi.

Meski aku working wife, ada satu kebiasaan lucu suamiku: Dia minta aku untuk membuatkannya bumbu soto dengan jumlah yang lumayan banyak. Bumbu itu kemudian akan disimpan di lemari pendingin (kulkas). Nanti ketika hasrat makan sotonya muncul, bumbu itu tinggal dia cemplungkan ke dalam air mendidih lalu dicampurlah dengan berbagai campuran selayaknya soto ayam (untuk ayam-nya,dia tinggal membeli ayam goreng dikantin kompleks). Seperti bumbu instant, aku sudah menumisnya terlebih dahulu.  Cukup praktis juga membuatnya karena aku tinggal memblender bahan-bahan bumbu tersebut. hehehe

Maklum teman, aku dan suami tinggal di satu atap yang berbeda dari hari senin-jum’at.  Suamiku bekerja pada sebuah Badan Usaha Milik Negara, dengan SK penempatan sementara ini disebuah kabupaten yang berjarak cukup jauh dari domisiliku, Makassar. Alhamdulillah masih dalam satu provinsi. Setidaknya itu yang memungkinkan kami untuk tetap bertemu paling tidak satu minggu tiga hari (jum’at sore-minggu malam).  
Diterimanya aku bekerja di salah satu kantor akuntan publik di Makassar mengharuskan aku terpaksa sementara ini berjauhan dengan suamiku. Akibatnya,perjumpaanpun selama empat hari (senin-jum’at sore) pun harus terpangkas. Kasian? hhmm…yang terpenting adalah aku dan suami menjalani ini dengan perasaan happy. ^^

Dia sangat menggilai Soto Ayam.  Tapi dia selalu merasa kerepotan jika harus membuatnya dari awal. Dulu ketika dia masih single, Ibu mertuaku yang sering membuatkan dan mengirimkannya kerumah via paket. Kalo sekarang, aku justru merasa menjadi seorang yang “tidak penting” jika sampai bumbu soto saja masih mengharapkan kiriman dari Ibuk! Hahaha.

Bagaimanapun sibuknya kamu sebagai seorang istri, kewajibanmu untuk mengurus suami adalah hal utama. Meski suamimu tidak memintanya, tapi suami mana yang tidak senang jika diperhatikan istrinya??kecuali kl dalam pernikahan tsb tidak ada rasa saling cinta. Bisa saja dia risih diperhatikan istrinya...?”

Itu wejangan dari Ibuku yang selalu didengungkannya pada hampir setiap pembicaraan beliau ditelpon. Wejangan seorang wanita yang tentunya hidup pada zamannya, dengan segala ideologi dan falsafah hidup yang tumbuh dan berkembang pada jiwa dan nuraninya. 
Well, setiap nasihat yang baik patut didengarkan. Itu pesan Rasul bukan? Apalagi jika pesan tersebut sampainya lewat seorang Ibu? Mustahil membawa keburukan.

“Kewajiban seorang istri adalah mengurus suami” adalah sebuah kalimat yang terkesan seperti bermakna penjajahan, ada unsur perintah, dan semena-mena. Laki-laki seolah memiliki power (kekuasaan) untuk dilayani layaknya raja, dan istri adalah dayangnya.  Itu makna sinis yang ditangkap bagi sebagian orang mengenai tagline tsb.

Lantas, bagaimana bila kata “mengurus suami” itu dilakukan dengan penuh kesadaran, dan rasa kasihsayang? Bagaimana bila si istri telah menganggap mengurus suami adalah sebuah wujud tanggungjawabnya serta wujud ekspresi sifat keibuannya? Bagaimana ketika melakukan pengabdiannya tsb seorang istri melakukannya dengan tersenyum dan tanpa mengeluh? Apakah itu juga masih dimaknai sebagai suatu kalimat yang terkesan menjajah dan semena-mena dari seorang laki-laki?

Bagaimana jika pengabdian yang diberikan oleh seorang istri adalah bentuk rasa terimakasihnya kepada suami yang telah menjadi partner dalam hidupnya?
Bukankah istri-istri Rasul pada zamannya melakukan pengabdian kepada Rasul semata karena rasa kasihsayang dan hormatnya kepada Beliau? 

Bagaimana jika hal serupa (baca: pengabdian dengan ketulusan dan rasa kasihsayang) terjadi pula pada kebanyakan wanita di negeri kita, teman? Apakah itu masih dianggap sebagai bentuk penjajahan? Dan apakah para suami yang menerima bentuk pengabdian tersebut adalah suami yang semena-mena serta tidak menyayangi istri?

Kembali pada pesan Ibuku: “….suami mana yang tidak senang jika diperhatikan Istrinya? kecuali kalau dalam pernikahan tsb tidak ada rasa saling cinta…”

Allahu’alam…. 



Kamis, 21 April 2011

Selamat Hari Kartini


Setiap 21 April sudah barang tentu jadi “ladies day” di negeri kita.  Rata-rata kantor akan mewajibkan “hari kebaya nasional” bagi para karyawan perempuan.  Rangkaian berita di berbagai media yang mengangkat tema perempuan akan gencar jadi topik utama.  Bahkan, Luna Maya, dalam sebuah acara live music di salah satu stasiun televisi swasta tadi pagi bernyanyi dengan balutan busana kebaya modern berwarna biru tosca (saya suka motif & warna kebayanya :p )

Yuhuy! Ini adalah hari mu perempuan Indonesia! Hari dimana namamu akan senantiasa didengungkan dari segala penjuru pelosok negeri, walau ada juga yang tak peduli atau bahkan menganggap tak ada yang perlu dibesar-besarkan.  Aku salah satunya.:D
Bukan aku tidak menghargai dan mengenang jasa-jasa beliau yang (konon katanya) berperan dalam tegaknya emansipasi wanita. Tapi jujur saja, sejauh ini segala seremonial yang berbau Kartini kuikuti sebatas formalitas dan ikut-ikutan saja.. :p Mungkin someday aku sebaiknya mencari dan menelusuri literature biografi beliau. Supaya kecintaanku pada beliau dan rasa nasionalismeku tumbuh. Hahaha.

Tapi terlepas dari itu, emansipasi seorang wanita menurutku berakar dari sebuah “kebebasan”. Dalam arti, seorang wanita harus diberikan kebebasan untuk mengungkapkan isi hatinya dan apa yang ada didalam benak serta fikirannya tanpa merasa terancam atau tertekan, diberikan ruang untuk mengaplikasikan apa yang ada dibenak serta pemikirannya tsb. Tidak sebatas itu, seorang wanita juga harus dapat menjalankan setiap jengkal pilihan dalam hidupnya dengan penuh kesadaran dan tanpa tekanan dari manapun.   
Ketika kemerdekaan seorang wanita terwujud, maka baru lah emansipasi wanita dapat ditegakkan. Wanita bebas menjadi apa dan seperti apa yang dia inginkan, selagi itu membawa dampak positif bagi dirinya dan sekelilingnya. 

Sebagai langkah awal, kemerdekaan seorang wanita butuh dukungan dan pengertian sekelilingnya ; suami, orangtua, teman kerja, bahkan sampai institusi dimana dia bekerja. Di lingkungan kantoran misalnya: memberikan ruang khusus breastfeeding bagi karyawan perempuan yang masih dalam tahap menyusui adalah salah satu contoh pemenuhan hak dan emansipasi wanita.  
Terkesan ribet? tidak. Asalkan lingkungan sekitarpun ikut menyadari arti kata pemenuhan hak bagi kaum wanita. Mengandung, melahirkan, menyusui, adalah sebuah dilema yang harus dipertimbangkan oleh pemangku jabatan jika memang benar hendak menjunjung hak wanita dalam berkarir.

Tapi jangan berfikir bahwa emansipasi wanita hanya tercermin sebatas menjadi wanita kantoran, teman…
Pilihan untuk menjadi seorang ibu rumahtangga rumahan juga bisa menjadi simbol kemerdekaan dan terwujudnya emansipasi seorang wanita, jika pilihan tersebut diambil dengan 100% kesadaran serta keinginan tanpa tekanan darimanapun. Mengatur isi rumahnya, menentukan "jam malam" bagi anak-anaknya, memilih si mbak yang akan membantu dirumah, bahkan sampai menentukan merk pembersih lantai tanpa intervensi darimanapun adalah gambaran terwujudnya kebebasan seorang wanita.

Jadi, sebelum seorang wanita memahami arti kata "emansipasi", ada baiknya lingkungan sekitarnya terlebih dahulu memahami makna kata tersebut. Sehingga emansipasi yang diperjuangkan seorang wanita tidak terbentur pada opini sebagai "wanita pemberontak/wanita yg lupa kodrat". :D 

So, everyday is Kartini day…
Bravo for ladies! ^^