Tampilkan postingan dengan label Just Opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Just Opinion. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juni 2011

SuFor vs ASI

Salah satu saudara mempost status facebook pagi ini dengan laman berita online yang mengabarkan bahwa ilmuan China tengah mengembangkan produk susu formula (sufor) bagi anak-anak dengan kualitas yang menyerupai susu ASI. Sepertinya saudaraku ini makin berang dengan pemberitaan belakangan yang makin marak mengenai sufor vs ASI. Penekanan statusnya berkaitan dengan artikel tsb bahwa bagaimanapun itu, kualitas sufor tidak akan pernah menyamai kualitas ASI. Menariknya, statusnya tersebut ternyata menggelitik salah satu temannya untuk berkomentar bahwa pengembangan formula sufor adalah sah saja mengingat problema sulit menyusui melanda beberapa ibu muda belakangan ini. 

Semua yang berasal dari Tuhan tidak akan pernah tergantikan dengan apapun, meski teknologi paling canggih sekalipun. Dan semua orang (seharusnya) tahu & menyadari itu. Permasalahan yang muncul adalah, ketika seorang Ibu tidak atau tidak lagi memberikan ASI nya pada anaknya, maka makanan layak (sejenis susu ASI) apa yang pantas diberikan untuk sang anak ? Tentu kebanyakan kita akan menjawab susu formula.

Kalau saya pribadi berpendapat bahwa sufor selayaknya dijadikan sebagai pelengkap saja, dengan asumsi kualitas susu ASI seorang Ibu baik sehingga sang Ibu bisa menyusui dengan normal. Lantas bagaimana dengan seorang Ibu muda yang tidak mampu menyusui anaknya karena problem anatomi terkait yang menyebabkan ybs sulit memberikan ASI pada bayi nya? 
Ya...dan hal itu benar-benar terjadi pada salah satu saudaraku yang lain. 

Saat itu dia bercerita bahwa betapa berat hatinya membiarkan anaknya 'bergantung' dengan produk susu formula. Butuh waktu yang cukup lama untuk menerima kenyataan bahwa dia tidak dapat memproduksi ASI  dengan normal layaknya Ibu pada umumnya. Dia bisa menyusui, tapi dengan kualitas ASI yang  keluar sangat sedikit. Maka dengan berat hati dia harus dapat memfokuskan fikirannya untuk selektif terhadap sufor demi asupan gizi tambahan bagi sang anak.

Jujur saja, saya empati setiap mendengar atau membaca berita serupa. Ibu mana sih yang tidak ingin menyusui anaknya sendiri? dekapan serta sentuhan kulit antara si anak dan Ibu ketika proses breastfeeding memang menjadi satu-satunya kelebihan ASI yang tidak akan terjadi jika anak diberikan sufor. 
Maka saya katakan bahwa betapa hebatnya mental seorang Ibu yang terpaksa tidak bisa menyusui secara maksimal buah hatinya. Sungguh pergulatan batin yang luar biasa hebat. 
 
Lalu bagaimana dengan Ibu yang tidak menyusui anaknya lantaran dikaitkan dengan problem kecantikan dan bentuk payudara yang tidak lagi indah? Perlu diluruskan dulu, mungkin "tidak menyusui" disini maksudnya adalah tidak adanya proses breasfeeding dalam pemberian ASI. (bukan benar-benar tidak 'menyumbangkan' ASI-nya.) 
Krn melalui banyak informasi  yang pernah saya baca, dalm keadaan normal, ASI pasti akan tercipta seiring dengan proses kehamilan seorang wanita. Tidak dapat mengeluarkannya secara normal biasanya lantaran problem anatomis ybs. Lantas bagaimana dengan "tidak menyusui" tadi? 

Hhhmm...kalau ini menurut saya kita jangan justifikasi dulu bahwa Ibu yang tidak menyusui anak-anak nya secara langsung adalah Ibu yang takut bentuk payudaranya tidak bagus lagi. Banyak juga problem ibu-ibu muda yang berkaitan dengan proses breastfeeding ini. Aktivitas sebagai seorang wanita kantoran misalnya. Hal tersebut membuat si Ibu tidak dapat total 100% melakukan proses menyusui secara langsung sepanjang hari untuk anak-anak mereka. Lalu, apakah kita katakan mereka sebagai Ibu yang tidak mencintai anak mereka?

Mungkin metode jaman nabi dengan "mencari ibu sepersusuan" bisa diterapkan bagi kasus yang berkaitan dengan anatomis sang Ibu yang saya ceritakan diatas tadi. Tapi tetap lagi-lagi : seorang Ibu akan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Jadi wajar saja kalau seorang Ibu tersihir dengan jargon iklan sufor yang makin kian gencar. 


***


Alasan ilmuan di Cina yang membuat formula sufor identik dengan kandungan gizi ASI adalah sebagai berikut:

"Kekhawatiran negara barat tentang etika dari modifikasi genetik adalah salah tempat. Ada 1,5 miliar orang di dunia yang tidak mendapatkan makan dengan cukup, menjadi tugas kita untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi," 

-direktur proyek penelitian China's Agricultural University (Profesor Li Nin)-



Senin, 16 Mei 2011

Ta'aruf

Dari beberapa dalil yang menjadi dasar istilah ini, yang paling populer adalah surat Al-Hujuraat ayat 13 ".....sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu......"

Saya tidak akan mengupas secara harfiah dari ayat tersebut ataupun dalil-dalil nya., karena saya merasa tidak kompeten untuk hal tersebut. Tapi disini saya akan sedikit berkomentar dari sisi pendapat saya pribadi sejauh pengetahuan yang saya tahu. 

Sejatinya taaruf adalah suatu proses saling mengenal antara seorang wanita dan seorang laki-laki dengan tujuan ke arah pernikahan. So, ada dua penekanannya: menikah; perkenalan. Mengapa saya mendahulukan kata "menikah"? Karena taaruf harus didahului dengan niat untuk menikah. Setelah niat itu ada, barulah melakukan proses perkenalan kepada sang calon yang dimaksud. Perkenalan disini maksudnya lebih kepada segala informasi yang sifatnya pribadi seperti watak si calon yang mau kita taaruf-in, bagaimana kehidupan sehari-harinya, bagaimana keluarganya, dsb. Apakah si calon (calon yg mau di taarufin loh...bukan calon bakal istri or suami..karena belum pasti juga lanjut apa enggak?) ini punya sifat temperamental? penyabar? dsb yang berkaitan dengan kepribadiannya.
Informasi yang diperoleh dari taaruf juga bisa juga bisa seputar pekerjaannya, pendidikannya, dst. Tapi penekanan utamanya adalah kepada kepribadian dan penilaian orang-orang terdekat mengenai sang calon.

Segala informasi ini biasanya diperoleh lewat sahabat, guru, atau keluarga sang calon yang akan di taaruf-in. Alternatif lain adalah lewat komunikasi. Lewat ngobrol, tukar pikiran, dst. Tapi untuk tahap ngobrol, tetap tidak diperkenankan berdua-dua an, demi menghindari terjadinya hal diluar yang diinginkan (you know what i mean?hehe) 

Lalu ada pertanyaan dari seorang sahabat: Berarti taaruf itu sudah pasti harus jadi donk? karena kan sudah jelas tuh sasarannya siapa dan mau apa? Soalnya kalau tidak jadi, kasian pihak wanitanya...
Hhhmmm....menurut saya, ada dua hal yang perlu diluruskan bahwa:

1. Taaruf itu bukan sesuatu yang sifatnya pasti. Keyakinan untuk menikah itu maksudnya adalah niat si pelaku taaruf untuk menikah. Bukan permasalahan si pelaku taaruf mau menikahi si "A" atau si "B" dan lalu dia melakukan proses taaruf...lalu selama proses taaruf itu nanti barulah terbesit niat untuk serius menikah. Bukan seperti itu Sista... Niat si pelaku untuk segera menikah, ditambah dketertarikan si pelaku terhadap si "A" atau si "B", menyebabkan si pelaku melakukan taaruf. So,kombinasi keduanya lah yang menyebabkan terjadilah itu taaruf...Makanya, dalam taaruf, durasi waktu yang diperkenankan cukup singkat, biasanya paling tidak sekitar tiga bulan. Dengan begitu diharapkan tidak terjadi hal diluar itu (seperti berdu-dua-an, sayang2an, dsb) , serta segala informasi yang diharapkan mengenai si calon bisa digali dengan efektif.

2. Sepemahaman saya, taaruf itu tidak melulu harus laki-laki. Kebiasaan "laki-laki yang maju duluan" adalah suatu bentuk paham yang  terjadi pada negara yang menganut budaya patriarki. Salah satunya negeri kita.
Rasul pada zamannya di taaruf-in oleh Khadijah koq...Khadijah tertarik dengan Rasul berkat kabar kejujuran beliau. Saat itu rasul belum menjadi "orang terkenal" selain sebagai seorang pemuda biasa yang jujur. Oleh karena itu, untuk mencari informasi yang mendalam mengenai Rasul, Khadidjah melakukan taaruf yang diperantarai utusannya.

So, untuk pertanyaan tersebut, yang dikatakan wanita sebagai objek derita atas taaruf adalah tidak sepenuhnya benar. Objek derita juga bisa terjadi pada laki-laki jika yang melakukan taaruf  adalah wanita. Jadi, redaksional yang lebih tepat adalah :  yang akan jadi objek derita adalah laki-laki/perempuan yang terlalu berharap banyak pada subjek pelaku taaruf ketika proses ta'aruf  berjalan. (hahaha. Bingung gak dgn kalimat gue??)

Ta'aruf juga tidak melulu harus di awali saling ketertarikan keduabelah pihak dulu. Sudah jelas pada contoh yang saya ceritakankan di atas, Khadijah adalah pihak yang duluan tertarik dengan Rasulullah. Beliau melakukan taaruf kepada Rasul. Khadijah yang sudah terkenal sebagai wanita mulia pada zamannya saat itu tidak ditolak  oleh Rasul. Alasan tidak ditolaknya Khadidjah oleh Rasul adalah karena kemuliaan akhlak Khadijah yang sudah terkenal. Meski seorang janda, Khadijah bisa menjaga harga diri dan martabatnya. Banyak saudagar kaya yang hendak menikahi Khadijah, tapi tak satupun yang berhasil meluluhkan hati beliau, kecuali kabar kejujuran seorang Muhammad SAW. 
Pernikahan beliau langgeng, dan Rasul tidak berpoligami semasa bersama Khadijah.  

Itu defenisi ta'aruf menurut pemahamanku. Silahkan teman-teman cari rujukan lain demi kelengkapan & keakuratan informasi. (hihihi)
Kesimpulan yang terpenting adalah, baik pihak yang melakukan taaruf, ataupun pihak yang di taarufin sama-sama memiliki posisi tawar yang tinggi (hehe...baraaang kaleeee...!). Jadi jangan serahkan jiwamu  (apalagi ragamu.hehe)100% dulu pada sesuatu yang belum pasti. Karena taaruf bisa saja dilakukan kepada lebih dari satu orang. Karena jika ternyata ta'aruf batal diteruskan, kita yang akan tersiksa donk kalau sudah terlalu maen hati. hehehe.
Pertanyaan selanjutnya: "Apakah ta'aruf merugikan pihak wanita?"
Jawaban saya: "Justru ta'aruf sangat menjaga harga diri & kehormatan wanita" :)

Allahu'alam...




Kamis, 21 April 2011

Selamat Hari Kartini


Setiap 21 April sudah barang tentu jadi “ladies day” di negeri kita.  Rata-rata kantor akan mewajibkan “hari kebaya nasional” bagi para karyawan perempuan.  Rangkaian berita di berbagai media yang mengangkat tema perempuan akan gencar jadi topik utama.  Bahkan, Luna Maya, dalam sebuah acara live music di salah satu stasiun televisi swasta tadi pagi bernyanyi dengan balutan busana kebaya modern berwarna biru tosca (saya suka motif & warna kebayanya :p )

Yuhuy! Ini adalah hari mu perempuan Indonesia! Hari dimana namamu akan senantiasa didengungkan dari segala penjuru pelosok negeri, walau ada juga yang tak peduli atau bahkan menganggap tak ada yang perlu dibesar-besarkan.  Aku salah satunya.:D
Bukan aku tidak menghargai dan mengenang jasa-jasa beliau yang (konon katanya) berperan dalam tegaknya emansipasi wanita. Tapi jujur saja, sejauh ini segala seremonial yang berbau Kartini kuikuti sebatas formalitas dan ikut-ikutan saja.. :p Mungkin someday aku sebaiknya mencari dan menelusuri literature biografi beliau. Supaya kecintaanku pada beliau dan rasa nasionalismeku tumbuh. Hahaha.

Tapi terlepas dari itu, emansipasi seorang wanita menurutku berakar dari sebuah “kebebasan”. Dalam arti, seorang wanita harus diberikan kebebasan untuk mengungkapkan isi hatinya dan apa yang ada didalam benak serta fikirannya tanpa merasa terancam atau tertekan, diberikan ruang untuk mengaplikasikan apa yang ada dibenak serta pemikirannya tsb. Tidak sebatas itu, seorang wanita juga harus dapat menjalankan setiap jengkal pilihan dalam hidupnya dengan penuh kesadaran dan tanpa tekanan dari manapun.   
Ketika kemerdekaan seorang wanita terwujud, maka baru lah emansipasi wanita dapat ditegakkan. Wanita bebas menjadi apa dan seperti apa yang dia inginkan, selagi itu membawa dampak positif bagi dirinya dan sekelilingnya. 

Sebagai langkah awal, kemerdekaan seorang wanita butuh dukungan dan pengertian sekelilingnya ; suami, orangtua, teman kerja, bahkan sampai institusi dimana dia bekerja. Di lingkungan kantoran misalnya: memberikan ruang khusus breastfeeding bagi karyawan perempuan yang masih dalam tahap menyusui adalah salah satu contoh pemenuhan hak dan emansipasi wanita.  
Terkesan ribet? tidak. Asalkan lingkungan sekitarpun ikut menyadari arti kata pemenuhan hak bagi kaum wanita. Mengandung, melahirkan, menyusui, adalah sebuah dilema yang harus dipertimbangkan oleh pemangku jabatan jika memang benar hendak menjunjung hak wanita dalam berkarir.

Tapi jangan berfikir bahwa emansipasi wanita hanya tercermin sebatas menjadi wanita kantoran, teman…
Pilihan untuk menjadi seorang ibu rumahtangga rumahan juga bisa menjadi simbol kemerdekaan dan terwujudnya emansipasi seorang wanita, jika pilihan tersebut diambil dengan 100% kesadaran serta keinginan tanpa tekanan darimanapun. Mengatur isi rumahnya, menentukan "jam malam" bagi anak-anaknya, memilih si mbak yang akan membantu dirumah, bahkan sampai menentukan merk pembersih lantai tanpa intervensi darimanapun adalah gambaran terwujudnya kebebasan seorang wanita.

Jadi, sebelum seorang wanita memahami arti kata "emansipasi", ada baiknya lingkungan sekitarnya terlebih dahulu memahami makna kata tersebut. Sehingga emansipasi yang diperjuangkan seorang wanita tidak terbentur pada opini sebagai "wanita pemberontak/wanita yg lupa kodrat". :D 

So, everyday is Kartini day…
Bravo for ladies! ^^



Sabtu, 16 April 2011

Rupa-Rupa Kontroversi

Belakangan makin geleng-geleng liat berita tentang rencana pembangunan gedung baru anggota DPR yang memakan biaya sebesar 1,16 Trilliun itu (ada juga media yg menyebutkan 1.8 Trilliun). Ditambah lagi statment yang gak kalah sengitnya oleh para anggota dewan dan ketuanya yang ngotot menyegerakan bangunan nyaman tersebut. 
Dalam sebuah wawancara di salah satu media massa, Marzuki Ali bisa saja mengatakan bahwa besaran biaya pembangunan gedung baru tersebut tidak seberapa dicomot dari APBN bila dibandingkan dengan anggaran lainnya untuk rakyat. Namun apa dikata ketika media menandingkan pernyataan tersebut dengan jumlah nominal pengeluaran yang bakal dihabiskan negara jika pembangunan gedung itu berjalan? Maka wajar saja jika rakyat dan kalangan aktivis, apalagi politisi lain menjadi berang. 

Lain hal lagi dengan marak pemberitaan pernikahan Krisdayanti-Raul Remos. Pernikahan bak ABG (Anak Baru Gede) yang sedang dimabuk kepayang itu tidak sedikit menjadi gunjingan publik. Bahkan di salah satu forum komunitas, pernikahan pasangan ini diolok-olok dengan kalimat yang sungguh tidak enak didengar.
Kalau mau fair, sangat manusiawi jika sebuah pasangan mendambakan pesta pernikahan yang berkesan. Namun ketika pesta pernikahan tersebut diselenggarakan secara publikasi, konsekuensinya adalah publikpun akan banyak berkomentar. "KD dan Raul tidak pantas bikin pesta begitu heboh. Apa dia gak mikir perasaan anak-anaknya?", begitu komentar salah satu teman.

"Sesuatu yang sebenarnya wajar akan menjadi tidak wajar ketika diterapkan atau dilaksanakan pada saat, tempat, dan waktu yang tidak tepat". 

Mungkin itu kalimat yang lebih cocok perihal kontroversi yang sering bermunculan. Maka jangan heran kalau sesuatu yang sifatnya kontroversi akan semakin ramai diburu oleh media. Kontroversi akan gencar diberitakan sampai ada kontroversi baru yang lebih layak dipertontonkan.



Selasa, 12 April 2011

Tanda Tanya (?)

 




Film pertama yang akan saya ceritakan ini belakangan sempat jadi kontroversi di kalangan komunitas Nahdatul Ulama,lantaran menampikan komunitas Barisan Ansor Serba Guna (banser) yang menurut tokoh NU tidak sesuai fakta sebenarnya.

Tapi terlepas dari itu, film karya Hanung Bramantyo ini menurutku terbilang menarik dan berkualitas bila dibandingan film tanah air kebanyakan.  Alur cerita jelas dan sesuai dengan pesan yang hendak disampaikan.  Ceritapun mengalir tanpa ada kesan menggurui, meski ada beberapa scen yang mencirikan Hanung banget, serta beberapa cerita yang dibuat dramatisir. Tapi itu semua masih dalam batas wajar selayaknya karya fiksi.

Bagi sebagian orang, film besutan penulis skenario Titien Wattimena ini dianggap  menyudutkan Islam dan melanggar beberapa aturan agama seperti;  Surya (Agus Kuncoro), seorang muslim tapi melibatkan diri dalam pementasan drama di sebuah gereja katholik ; Menuk (Revalina S.Temat), seorang muslim namun bekerja di sebuah restoran cina yang menyediakan panganan babi; atau Rika (Endhita) yang sebelumnya beragama Islam lantas menjadi penganut katholik lantaran “kecewa” dengan (mantan) suaminya yang hendak meminta berpoligami; serta sosok Soleh (Reza Rahadian) yang di anggap agamanya bagus (shaleh) namun memiliki perangai temperamental. 

Tapi (masih) menurutku, penonton juga selayaknya tidak menafikan bahwa sang sutradara berusaha menampilkan sisi manusiawi dalam cerita tersebut. Diceritakan bagian-bagian dimana para tokoh merasakan gejolak batin yang hebat pada setiap keputusan yang di ambilnya. Pun digambarkan bagaimana usaha keras mereka untuk memilih serta mempertahankan keimanan dalam diri masing-masing meski berada dalam komunitas yang berbeda. 

Agar seimbang, sutradara juga mencoba menampilkan sosok “antagonis” di masing-masing agama. Doni (Glenn Fredly), seorang penganut katholik yang sinis terhadap muslim, serta Tan Kat Sun (Hengky Sulaeman) yang temperamental, masih dalam masa pencarian jati diri, dan begitu membenci Islam lantaran sakit hatinya ditinggal Menuk yang lebih memilih Soleh karena seiman.

Dalam film ini, tidak semua muslim ditampilkan (seolah-olah) kasar, temperamental, suka berpoligami dan labil dalam mempertahankan keimanan serta aqidahnya.  Tokoh muslim yang teguh pendirian terhadap akidahnya dan berperangai santun digambarkan pada sosok Menuk, serta Ustadz (David Chalik) yang penyabar dan bijaksana. Pada agama Katholik, sosok penuh welas asih digambarkan dalam diri seorang Romo Gereja Santo Paulus (Dedy Soetomo), dan pada agama Kong Hu Cu, diwakilkan oleh majikan Menuk, Lim Giok Lie (Edyman) dan istri yang penuh toleransi dan kasihsayang.  

Pada akhir cerita, Ada adegan dimana ditemukan sebuah bom di dalam gereja katholik yang tidak diketahui pengirimnya. Tidak pula disitu digambarkan bahwa “tersangka”nya adalah ummat muslim. Justru dalam film tersebut diceritakan bahwa yang menyelamatkan jemaat gereja dari ledakan bom tersebut adalah seorang muslim (Sholeh). 
Sosok Rika pun dalam cerita tsb digambarkan meski sudah menganut Katholik, masih memendam aqidah Islam lewat defenisi Tuhan yang dijabarkannya melalui “Asmaul Husna”. 
Lim Giok Lie, sebelum wafat mewariskan amanah pada anaknya, Tan Kat Sun, untuk mempelajari agama Islam yang pada akhir cerita menuntunnya menjadi mualaf.

Ketika ada adegan dimana Sholeh dan jemaah masjid lainnya melakukan penyerangan ke restoran milik Lim Giok Lie, menurut saya adegan tersebut bukan hendak menggambarkan bahwa Islam itu kasar dan radikal seperti kritik beberapa pihak, tapi yang hendak disampaikan justru pesan untuk dapat menjaga sikap toleransi yang seharusnya difahami oleh warga muslim dan non muslim. Juga pesan bahwa kesalahfahaman dan sikap gegabah bisa menimbulkan pertikaian yang sia-sia.

Jadi menurut saya, gambaran tokoh serta cerita dalam film ini cukup adil dan tidak terkesan mendeskreditkan agama tertentu,apalagi Islam.

Namun sedikit kritik dari saya adalah, dalam beberapa karyanya, mengapa Hanung gemar sekali me “mati”kan salah satu tokoh dalam hampir setiap episode cinta segitiga? Juga bagi Revalina S. Temat, ini adalah kali ke dua nya dia berperan sebagai sosok wanita muslimah yang ditinggal wafat suaminya (setelah sebelumnya cerita serupa dalam Perempuan Berkalung Sorban). Hehehe

Begitu setidaknya pendapat saya. Saya memaknai film ini murni sebatas sebagai penikmat karya sineas, tidak sebagai posisi ulama ataupun cendikia muslim yang berkompeten. Jadi, silahkan teman-teman nikmati film ini, dan temukan pesan moril serta kritik sendiri di dalamnya. :)


***



Kamis, 31 Maret 2011

Legal or ilegal ?


Seorang sahabat kemarin sms aku, yang isinya adalah menawarkanku atau saudaraku, atau kenalanku untuk masuk pns dengan jalur ‘belakang’. Kompensasi nominal yang harus dibayar gak tanggung-tanggung: ratusan juta rupiah.
Gosh…! I was surprised. Karena seingatku (mudah2an aku gak salah ingat), sahabatku ini masih memegang teguh nilai-nilai idealisme dalam beberapa hal.

Sebelumnya kasus serupa juga sering ditujukan padaku oleh seorang sahabat lainnya yang let say memang gemar bertransaksi beginian (mengerti kan kalian maksudku “beginian”?).

Seorang sahabat yang lain juga pernah curhat mengenai betapa pesimisnya dia berkompetisi memperebutkan jatah bangku di instansi pemerintahan atau Badan Usaha Milik Negara. Perasaan tersebut muncul lantaran betapa seringnya dia ditawari melalui jalur belakang dengan imbalan nominal yang fantastis!  Semakin bonafid instansi,semakin tinggi kompensasinya.
Bahkan suamiku pernah bercerita dia pernah ditodong dengan pertanyaan bernada sinis dan nyinyir: “ bayar berapa masuk sana?” . “duabelas ribu rupiah untuk dua buah materai”, Jawab suamiku sekenanya.

Aku tidak bisa mengatakan transaksi begini dikategorikan “haram”. Karena toh MUI pun sampai sekarang belum mengeluarkan fatwa mengenai hal tersebut,. Padahal nyata-nyata jalur seperti ini sudah menjadi rahasia umum di masyarakat kita. Bahkan pemerintahpun mengategorikan ini sebagai jalur ilegal.  Bukankah segala sesuatu yang illegal itu sifatnya tidak sah? Dan segala sesuatu yang tidak sah itu adalah tidak diakui keberadaannya? Entahlah. Aku bukan pakar hukum yang patut membahas seputar legalitas dan hal terkait lainnya. Tapi yang pasti koq hati kecilku sampai sekarang sangat menentang hal begini dan sejenisnya yah?

“Beberapa sahabatku; beberapa keluargaku; bahkan suamiku mendapatkan itu tanpa melalui jalur belakang. Mereka berpeluh berjuang bersama ribuan manusia yang memiliki keinginan yang sama, bahkan beberapa di antaranya sempat kusaksikan sendiri perjuangannya. Mereka berjuang bukan berarti mereka merasa memiliki tingkat intelektualitas di atas rata-rata. Mereka sama seperti kita semua. Tidak ada yang istimewa."


Mungkin kalimat tsb bisa kujadikan senjata dalam menangkis setiap statement yang bernada pesimistis akan hal tersebut.
Namun aku juga perlu realistis bahwa ada pembelaan tandingan yang berkata bahwa 
“ tidak semua bernasib sebaik beberapa sahabat; beberapa keluarga; atau suami mu”.


***

Jumat, 18 Maret 2011

Tentang PLTN

Marak pemberitaan mengenai kontroversi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir membuat aku tertarik untuk sedikit berkomentar. 
Menurutku sangat wajar kalo banyak pihak (termasuk beberapa para professor kita) meragukan proyek pembangkit listrik tenanga nuklir tersebut. Tidak sedikit yang bilang: "Jepang yang sudah sedemikian teknologinya saja ternyata kebobolan, apalagi kita..."  bahkan ada juga yang lebih sadis berkomentar: "Boro-boro mau bikin PLTN, ngurusi lumpur lapindo aja gak mampu".

Melalui salah satu acara di salah satu stasiun televisi swasta, pemerintah yang diwakili oleh Kepala Bapeten, As Natio Lasman, boleh saja bersikukuh menyatakan bahwa bisa menjamin pembangunan proyek akan berjalan aman, namun pemerintah juga tidak bisa menafikan bahwa gempa serta tsunami adalah ancaman besar yang dapat secara rutin terjadi di pasific region, dimana Indonesia adalah salah satu bagiannya. 

Mungkin saya bukan termasuk orang yang bertipe Risk Taker sehingga saya mengharapkan pemerintah dan pihak terkait lainnya mengkaji ulang kebijakan tersebut. Saya juga tetap lebih pro pada renewable energy seperti yang telah dilakukan oleh negara Amerika, Spanyol, dan China yang memanfaatkan tenaga angin sebagai sumber energi listrik mereka.
Bukankah setiap negeri dianugerahkan Tuhan keberlimpahan yang berbeda-beda? dan patutlah bersyukur karena Indonesia dilimpahi kekayaan alam yang gemah ripah loh jinawi...

Mengutip pernyataan salah satu tokoh pemerhati lingkungan hidup di negeri ini yang bilang: "Negara maju seperti Amerika dan Jerman saja membatalkan rencana pembangunan PLTN. Lah koq kita dengan pede dan berani maju kedepan pasang badan?"



Kamis, 30 Desember 2010

Garuda di dadaku! Timnas Idolaku!

Menyakitkan. Tapi sekali sakit ya sekalian aja. wkwkwkwk :D
Score agregat 4-2 menurutku sebuah prestasi yang cukup kompetitif. Walau sebenarnya kalo mau dihitung-hitung sih akumulasi score kita lebih banyak dibanding gol yang dicetak Malaysia ke gawang kita. hehehe

Ketertarikanku pada bola kaki belum ada hitungan satu tahun. Itupun kemarin sebatas sekelas piala nasional aja.
Sungguh,AFF membuat fans dadakan bola berkali lipat jumlahnya. Termasuk aku di dalamnya. :D dan walau tergolong fans bola amatiran, aku punya beberapa pendapat:
Yes :
Arif Suyono. Pemain bertubuh kecil ini menurutku lincah dan agresif. Gerakan yang dilakukannya cukup berperan dalam memanipulasi musuh. Walau Arif begitu gampang cedera, tapi aku tetap menjagokan pemain SFC yang satu ini. Namun sepertinya keberuntungan "Si Keceng" ini pada pertandingan AFF ada di menit-menit terakhir. hehe..masih ingat rasanya bagaimana dia sempat membuat penonton tersentak dengan tendangan gol manisnya saat kita melawan Laos dan Malaysia di babak penyisihan. Wow! Makanya sempat disayangkan sih koq dia dimasukin dalam tim cadangan sie?? hiks...
Kedua, Firman Utina. 
Aku suka dia karena sebagai kapten tim, menurutku dia memiliki stabilitas emosi yang baik ketika dilapangan. Walau terkadang dia tiba-tiba loss of power ditengah-tengah permainan, namun umpan-umpan yang diberikan Utina cukup berperan dalam tercetaknya gol Timnas. 

Next,Oktovianus Maniani.
Kelincahan Okto tidak jauh berbeda dengan Arif. Posisi winger memang pas buat Okto yang memiliki kecepatan berlari di atas rata-rata. Intermezo: Belakangan diketahui kalo Okto itu kakak kelas SMA adikku ketika kami berdomisili di Papua. Saat itu Okto belum bergabung di Timnas. Namun bakatnya sudah menonjol. Makanya dia menjadi salah satu anggota inti tim bola kaki sekolahnya.

Sebenarnya aku juga suka Bambang Pamungkas. Selain soal jam terbang, Bambang punya kualitas tendangan jitu. Walau banyak yang bilang BP kualitasnya menurun dan sudah mulai malas ngejar bola dilapangan , tapi menurutku gak juga. BP begitu menurutku karena dia merasa perlu adanya regenerasi di lapangan. Yah...meskipun seharusnya yang namanya bertanding mah harus all out...
Mungkin itu juga alasan Alfred Riedl selalu menurunkan BP di menit-menit terakhir. Sayang yah?Apalagi di permainan final melawan Malaysia tadi malam...menurutku BP harusnya diturunkan sejak awal. Selain dia dikabarkan cukup mengenal baik tipe bermain lawan (karena pernah bergabung di tim Malaysia),BP sudah punya kematangan emosi yang stabil dalam menguasai lapangan. Meski kadang sedikit terlihat egois ingin nge-gol sendiri. :p 

No: Markus dan Irfan Bachdim.
I'm sorry I have to say it. Its just an opinion.
Entah napa yah,koq aku ngerasa si Markus itu temperamental?hihihi (gak make sense alesannya! :p). Kontrol penjagaan gawangnya sangat menakutkan. Tak jarang terlihat beberapa kekonyolan yang dilakukan Markus  dengan cara mengawal gawang sampai pada garis batas terlalu jauh, sehingga membuat chance untuk kebobolan besar sekali.
Tangkapan bola Markus juga kurang mantap. Sering mental.
Bukan bermaksud membandingkan, Ferry Rotinsulu kupikir bermain lebih stabil. Let say secara fisik dia tidak se jangkung Markus (Itu kelemahannya), namun kontrol penjagaan gawangnya menurutku lebih stabil. Yang paling aku suka, tangkapan bolanya mantap alias bola tidak mental kalo sudah jatuh ditangannya. :D
Last,Irfan Bachdim: Hhhmmm...Menurutku he needs to practice more. Permainannya masih 'grasah-grusuh' dan belum stabil. Yang menonjol dari dia adalah ambisinya di lapangan yang patut dijadikan dasar untuk berkembang lebih baik. Walau terkadang sikap ambisinya itu terkadang jadi boomeran bagi dia sendiri ketika bermain di lapangan. Selain itu?Nothing special...Mungkin karena wajah innocent-nya itu yah yg bikin banyak bilang dia "cakep&kinclong"! hehehe.

Yah, begitu pendapat sekilas dari penggemar dan pemerhati bola amatiran sepertiku. :D 
Tapi kalo mau di rata-rata mereka semua hebat dan punya kelebihan masing-masing dalam bermain. Pastinya  Riedl punya alasan kuat dalam menempatkan posisi mereka masing-masing. So, apapun yang terjadi, mau ribut-ribut soal ketua PSSI kek, soal stadion GBK yang jelek kek, soal manajemen panitia AFF di Indonesia yang dibilang buruk kek, aku tetap 100% mendukung Timnas Garuda! Hidup Timnas Indonesia!hohohoho


P.S: Mau liat Ibu Ani gak jaim??di pertandingan AFF tuh...!hihihi (^^)V

Kamis, 28 Oktober 2010

Bukan karya Ilmiah,hanya opini

Innalilahiwa'innailaihi rodjiuunn...
Semoga Allah,Tuhan yg Esa mengampuni kita semua, & ke-khilaf an para pemimpin negri ini.
Semoga DIA senantiasa melindungi kita;hamba yang tersisa, dari bencana yang mengerikan.
Semoga DIA senantiasa memuliakan kita, dan kelak me mati kan kita dalam keadaan yang baik.


Ikut meramaikan pemberitaan & perbincangan tentang musibah yang begitu sering melanda bangsa ini.
Satu yang membuat aku tertarik menyuarakan opiniku:
Meninggalnya Mbah Marijan dalam posisi sujud menghadap ke Selatan (ke arah keraton Yogyakarta).

Sebuah visualisasi yang seolah-olah menjelaskan bahwa beliau hendak menyampaikan maaf serta penyesalan yang mendalam kepada kerajaan keraton hadiningrat yang begitu sangat dihormatinya atas ketidakmampuan beliau mereda kehendak Yang Maha Kuasa. 
Suatu gambaran pengabdian yang begitu tanpa pamrih, sampai nyawa pun beliau korbankan demi menjaga kepercayaan yang diyakini sebagai junjungan tertinggi serta mulia. Sungguh wujud kesetiaan yang nyata.

Kesetiaan adalah suatu rangkaian yang menurutku bermuara dari keyakinan, lalu berlanjut dalam bentuk kepercayaan.
Maka tak heran ketika seseorang meyakini sesuatu biasanya ybs cenderung akan percaya dengan keyakinannya tersebut. Jika apa yang dipercayainya terbukti, maka terjalinlah sebuah kesetiaan akan keyakinannya itu.
Yakin bahwa setia dan patuh terhadap sesuatu akan membawa ybs percaya akan datang kebahagiaan batin. Yakin bahwa jika tidak setia pada sesuatu itu maka ybs percaya akan mendapat petaka & musibah,  serta bentuk keyakinan2 lainnya dimana hanya si penganut tsb yang tahu.

Keyakinan tidak mengenal jenjang pendidikan ataupun banyaknya harta.
Aku pernah cukup dekat dengan salah satu pendidik di kampusku dulu. Meski secara keilmuan sangat aku kagumi, namun masalah keyakinan sungguh berseberangan walau kami satu iman (means,agama).
Seorang saudara juga pernah bercerita mengenai salah satu keyakinan yang percaya bahwa rumah2an kertas yang ikut dibakar bersama jenazah ybs kelak akan menjadi rumah mendiang di kehidupan selanjutnya. 

Yah..semua tentang keyakinan. Dia yakin, dia percaya,maka dia akan teguh pada apa yang diyakininya.
Seperti layaknya Mbah Marijan yang yakin bahwa kecintaan serta pengabdian kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah sebuah keyakinan yang tepat untuknya. Beliau hanya meyakini titah Hamengkubuwono IX yang 'dirasanya' belum terkontaminasi oleh digitalisasi intelektualitas keduniawian. 
Bahkan waktu merapi menggeliat tahun 2006 lalu, meski Sultan Hamengkubuwono X telah meminta mbah ini untuk turun, beliau bersikukuh tidak mau dengan alasan belum ada bisikan titah dari mendiang sang Raja ke IX untuk meninggalkan Merapi "sendiri". Beliau cinta pada sang Raja, maka beliau yakin pada sosok dan figur sang Raja, lalu beliau juga akan yakin dengan apa yang di titahkan padanya.


Berdasarkan iman yang aku yakini pula, ada satu pesan yang begitu sering di ulang2 dalam kitab suci agamaku: Bahwa jangan pernah meyakini apa yang tidak pernah disampaikan oleh-Nya,dan apa yang dilarangNya, serta jangan lah mencintai apapun melebihi cinta kepadaNya, karena jika diresapi dengan benar dan di amalkan dengan baik, maka sesungguhnya kecintaan kepadaNya telah mengandung kecintaan kepada diri sendiri, orangtua, saudara, alam, serta sesama...Allahu'alam...*sebagaiPengingatDiriSendiri*



Senin, 06 September 2010

MUDIK



Empat hari lagi lebaran. Sekarang aku udah berada di kampung halaman suami. Lebaran ke-3 InsyaAllah kita ke kampung halamanku di Palembang.
Alhamdulillah tahun ini yang namanya “mudik” bisa kami jalani. So, sebagai perantau dari dua pulau yg berseberangan (suami Jawa, saya Sumatera), tentu mudik x ini lebih ribet dibanding mudik ketika aku masih berstatus sebagai mahasiswa. Selain mencari tanggal yang pas, aku dan suami harus bisa mengatur agar agenda mudik bisa dibagi di dua pulau dengan adil & proporsional. Terkesan (sepertinya) sangat memaksakan diri?Jawabannya tidak. Karena insiatif ini memang bersumber dari keinginan kami berdua, dan tentunya dengan beberapa pertimbangan sebelumnya. :)

Mudik ketika hari raya besar di Indonesia adalah suatu yang unik karena (sepertinya) tidak terjadi di negara lain. Ketika hari raya besar tiba, tidak lengkap rasanya kalau tidak ada agenda pulang kampung. So, selain ketupat & opor ayam, mudik juga merupakan agenda unik yang biasanya “wajib” ada di setiap hari-hari besar agama di tanah kelahiran kita. Sesuatu yang bisa dijadikan sampel keunikan tradisi dan budaya.

Meski begitu, bukan berarti sepanjang sejarah perantauan aku tak pernah absen mudik. Dulu (th.2005,ketika aku masih kuliah) sewaktu orangtua berdinas di Papua aku memiliki jatah mudik setahun sekali. Karena jadwal libur semester hanya selang 1 bulan dari Idul Fitri, maka diambil kebijakan lebih baik sekalian aku ketempat ortu ketika liburan semester saja (mudik dsini di defenisikan berkunjung/pulang ke tempat dimana ortu berada).

Apakah saat itu aku sedih?Mungkin iya karena lebaran tidak kulalui dengan keluarga. Tapi Alhamdulillah perasaan tsb tidak berlarut karena aku mencoba memandang bahwa mudik sebagai sesuatu yang semata-mata “tradisi” saja. Dengan begitu tidak ada rasa penyesalan karena tidak mudik-pun tidak akan mengurangi esensi Idul Fitri itu sendiri. Setuju bukan? 

Salah satu efek dari agenda mudik yaitu terkurasnya dana lebaran melebihi jika tidak mudik (Hehehe). Apalagi kalau transportasi yang digunakan adalah transportasi udara, dimana harga tiket pesawat dipermainkan seperti permainan para spekulan di pasar bursa. :D Belum lagi ongkos tinggal selama perjalanan serta amplop angpao untuk para keponakan yang tentunya salah-salah bisa mengeruk pundi-pundi lebih dalam. Hohoho.

Nah, berikut sedikit tips dariku buat teman-teman yang bernasib sama (rantauan), serta yang (mungkin) berniat mudik di lebaran berikutnya:

  1. Jika berniat mudik pas lebaran nanti, jauh sebelum masuk ramadhan usahakan menata pos-pos financial dengan sedikit lebih ‘ketat’. Selektif terhadap konsumsi yang kiranya kurang bermanfaat. Bonus-bonus dari kantor atau fee dinas usahakan untuk ditabung dalam pos tersendiri supaya kita tahu besaran penghasilan diluar take home pay yang kita dapatkan dalam beberapa bulan menjelang ramadhan. Hal ini dimaksudkan untuk jaga-jaga jika anggaran yang kita butuhkan ternyata melebihi THR. So, dengan memiliki pos tersendiri untuk bonus-bonus serta fee perjalanan dari dinas-dinas, kita tidak perlu mengambil dari take home pay bulanan untuk menutupi kelebihan anggaran yang (kiranya) sulit untuk ditekan. Tapi langkah prioritas tetap usahakan pengeluaran mudik tidak melebihi THR. Jika punya bisnis, hati-hati terhadap investasi modal. Jangan terlalu jor-jor an berinvestasi hanya karena iming-iming laba yang diproyeksikan lebih besar. Bersikap lebih skeptis akan lebih baik. Bisa juga menggunakan metoda “don’t put your eggs in one basket” agar risikonya minim kalo salah satu bisnis ternyata merugi. Bagi istri rumahan, bagus juga jika mencoba berfikir untuk mencari peluang bisnis dadakan seperti order kue atau jahitan baju,dll. Manatau bisa menjadi celah untuk mengepakkan sayap di dunia bisnis di kemudian hari? ;) 
  2. Tetap menabung dengan nominal seperti biasa. Jangan lebih besar, ataupun lebih kecil guna menutupi anggaran mudik (Ini penting dan bersifat wajib!)  
  3. Satu atau dua bulan menjelang lebaran usahakan untuk mulai hunting tiket pulang. Perusahaan kan biasanya punya travel agent langganan kantor, nah, bisa dimanfaatkan tuh salah satu kenalan disana untuk pantau harga murah pada kisaran tanggal yang kita minta. :p  Lumayan loh selisih harganya…. ;)
  4. Kalau tiket sudah dapet, hitung anggaran “salam tempel”/amplop angpao. Jangan anggap remeh soal yang ini. Karena meski terkesan sepele, pengeluaran kita bisa banyak banget untuk yang satu ini . So, saranku, data aja saudara atau ponakan yang kiranya akan kita kasih nanti serta besaran nominalnya (lbh bagus jg kalo suami-istri patungan untuk yg satu ini). Untuk saudara yang sudah berumahtangga, THR cukup diberi ke anak2nya saja, dan untuk orangtuanya (saudara kita) kita bawakan oleh2/cinderamata. Saudara protes? Cuek aja. Paling nanti dia malu sendiri udah tua koq maksa dikasih THR! Hahaha.
  5. Jangan lupakan orangtua. Menjelang lebaran biasanya rejeki para karyawan berlebih kan?;) Menyisihkan dengan nominal yang sedikit lebih dari biasanya kupikir tidak akan mengurangi jatah rizki kita. Meskipun katakanlah ortu kita memiliki perekonomian yang mumpuni, pemberian dari kita lebih beliau artikan sebagai wujud kasihsayang dan perhatian. So, berapapun nominalnya, jadikan ini sebagai agenda wajib khusus ketika menjelang lebaran supaya rejeki yang kita terima barokah. InsyaAlah.
  6. Untuk baju lebaran perlakuannya sama dengan menyusun pos-pos financial: lakukan jauh2 hari! Dengan begitu selain kita tidak perlu berdesakan di pasar menjelang lebaran, kita hanya tinggal membeli seperlunya saja yang kiranya ingin ditambah menjelang lebaran. Walau begitu, banyak juga yang ,menganggap baju baru bukan sesuatu yang harus ada menjelang lebaran. Karena ini optional, kembalikan pada kemampuan anggaran masing-masing.
  7. Nah, setelah semua di anggarkan, sisa kumpulan pos bonus fee & THR bisa dipindahkan ke pos tabungan bulanan. Jika ternyata tidak ada lebih (nge-pas) atau malah kurang, artinya perlu ada koreksi terhadap anggaran kita atau jika tidak selamat berfikir keras untuk mencari income tambahan sebelum ramadhan tiba. ^^
  8. Kiranya terlalu berat dan boros, tidak mudik juga bukan berarti tidak berlebaran kan?Rencanakan dengan sewajar & semampunya saja. Toh tidak ada dalam Al-Qur’an atau tuntunan Rasul untuk mudik setiap lebaran bukan? Sekali lagi mudik sebatas pada tradisi yang setiap dari kita tentu berbeda dalam memaknai & mengartikannya. :)  
  9. Selamat Lebaran.........................! ^^



  

Sabtu, 17 Juli 2010

Universitas Favorit

Hari ini pengumuman hasil ujian SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri).
Entah uda berapa kali ganti nama, yang pasti intinya sama; ujian masuk perguruan tinggi negeri. 
Para pemburu perguruan tinggi negeri mempunyai ragam alasan mengapa mati2an berharap bisa diterima di ujian nasional ini. 
Ada yang beralasan bahwa biaya pendidikan yang jauh lebih murah dibanding swasta, bahkan tak sedikit pula yang beralasan akan prestige (gengsi).
Nah, karena alasan ke-dua ini lah maka tak heran para kapitalis pendidikan memanfaatkan momentum yang pas atas nama BHMN

Seingatku,
Kuliah di universitas negeri itu tak sampai belasan apalagi puluhan juta rupiah untuk uang pangkalnya. Bahkan, program lanjutan dari D III pun tidak menyentuh angka sepuluh juta rupiah. 
Maka tak heran, menjelang aku lulus, aku dan beberapa teman-teman se angkatan sempat geleng-geleng kepala begitu mendengar kabar biaya pendidikan di universitas negeri sudah menyamai biaya pendidikan di universitas swasta. "Untung kita gak sekolah di jaman ini. Coba kalo iya, mungkin aku ga lanjut kuliah deh..." celetuk seorang kawan yang mengaku padaku merasa punya standart IQ menengah, padahal IPK-nya di atas rata-rata.

Well, kembali ke soal biaya kuliah yang mahal tadi...
Sebenarnya pada jamanku dulu sudah mulai ada yang namanya program "mahal" diluar dari SNMPTN, tapi program tersebut hanya dilirik oleh beberapa kalangan saja. "Terlalu mahal". Begitu alasan kebanyakan para orangtua. Special case untuk jurusanku, kalo dibandingkan dengan sekarang, program yang katanya mahal itu tidak sampai pada nominal puluhan juta. Let say, belasan juta lah...
Makanya aku sempat terperangah begitu mendengar angka puluhan juta begitu enteng meluncur dari bibir adekku yang sepertinya tertarik untuk mengikuti program tersebut jika tidak lulus SNMPTN nanti.Ckckckck...


Bercermin pada universitasku dan kota tempatku pernah menimba ilmu:

"Jaman thn 90-an itu ada istilah 'anak ugm banget'. Tp kalo sekarang udah susah cari yang 'anak ugm banget' itu. " 
Hahaha...
Cerita seorang teman tentang istilah 'anak ugm banget' itu buat aku geli. Kalian tau kan maksudnya 'anak ugm banget'??
Kecocokan statemen temanku itu tanpa sengaja tercocok kan dengan foto2 suamiku pada era dia kuliah dulu; kaos oblong, tas ransel, rambut kucel ala anak gunung, jins belel atau celana kain yang warna nya sudah rada pudar, dilengkapi dengan sandal gunung yang makin menegaskan kalo transportasi mereka gak jauh dari jalan kaki ato paling poll  ngayuh sepeda ontel! hahahaha. Jaman itu kopaja laris manis dan jadi transportasi fav. hahaha.
Imbasnya, tempat nongkrong yang populer adalah angkringan dan atau alun-alun. Menu populer ya itu...nasi kucing yang harganya cuma sekian ratus rupiah. 

Lihatlah sekarang,
Hampir setiap universitas memiliki program "perluasan lahan parkir". Awalnya motor, tapi sekarang sepertinya sudah mulai parkir mobil.
Fakultasku saja contohnya.
Halaman parkir mobil yang disediakan pihak kampus sudah tidak mampu lagi menampung kapasitas mobil mahasiswa yang masuk. Sampe2 bingung bedain mana mobilnya dosen, mana yang punya mahasiswa. Terlebih lagi motor. Jangan ditanya kalo itu. :D
Soal tempat nongkrong, tak heran kalo cafe - cafe mulai menjamur.

Jadi, kalo dibilang makin lama makin banyak orang miskin di Indonesia, keknya perlu dipertanyakan juga jika melihat kondisi penghuni universitas negeri (khususnya favorit) di Indonesia ini.
Apa lebih tepatnya "yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin?"
Entahlah...
Positive Thinking nya adalah mudah2an perubahan tersebut lebih membawa pada kebaikan daripada keburukan (ke mudharat an)...

Senin, 31 Mei 2010

Bullying

Berawal dari sebuah acara talkshow di salah satu televisi swasta…

“Ketika sikap seseorang telah menjadikan oranglain / seseorang tertekan dan merasa takut terhadap orang tersebut, maka sudah terjadi bullying (melakukan tindakan kekerasan) pada ybs.”{ Diena Haryana, chairperson “Sejiwa”}

"Bullying is the willful, conscious desire to hurt another and put him/her under stress"{Tattum and Tattum (1992); Social Education and Personal Development}

Ospek, senioritas, gank adalah beberapa contoh komunitas atau aktifitas yang jika tidak di arahkan dengan benar maka akan membentuk tradisi bullying.
Bullying memang bukan sesuatu yang asing. Dia sudah ada sejak dulu. Komunitas (berkelompok atau individu) yang merasa berkuasa atas komunitas lainnya. Bedanya, kalau jaman sekarang informasi dari kebebasan media serta lembaga aktivis kemanusiaan sudah berkembang kian marak, sehingga kontrol sosial masyarakat bisa menjadikan pelaku bullying diseret ke ranah hukum.
Ibaratnya, kalau dulu, “anak kalo berantem mah biarin aja, asal kita orangtua gak ikut-ikutan.” Kalau sekarang, alih-alih orangtua yang akan ikut-ikutan di seret ke ranah hukum jika membiarkan anaknya melakukan tindakan yang meresahkan dan bertentangan dengan norma.

Berdasarkan pendapat dua tokoh tersebut, bisa di simpulkan bahwa bullying bukan hanya kekerasan secara fisik, tapi juga mental. Melakukan pelecehan dan penghinaan secara verbal juga bisa masuk sebagai kategori bullying. Bahkan, dalam sebuah dialog di salah satu televisi swasta, Diena mengatakan bullying juga bisa terjadi di dunia maya (internet). Wow…


Perlakuan bullying kepada seseorang/kelompok adalah manifestasi dari beragam alasan. Namun menurut saya, kalo di hubungkan dengan teori motivasi Abraham Maslow, bullying adalah bentuk Social Needs yang tidak terkontrol. Pada level ini individu memiliki kebutuhan akan pengakuan status sosial (baik secara mahluk individu atau secara mahluk berkelompok).

Sebenarnya kebutuhan ini adalah sesuatu yang wajar, namun akan menjadi tidak wajar ketika social needs individu/kelompok ybs tersebut menggusur social needs individu atau kelompok lain, sehingga menunjukkan reaksi antagonis berupa tidak dapat menoleransi adanya perbedaan serta menganggap yang berbeda dari nya adalah salah dan harus dimusnahkan. So, ketika menemukan suatu komunitas yang berada di luar dari pakem-nya, pelaku bullying akan tak segan melakukan pelecehan atau penghinaan.

Karena bullying merupakan negative effect dari social needs yang tidak terkontrol, maka tak heran jika tren bullying terjadi pada remaja, yang di anggap sebagai kelompok tingkatan usia “pencarian jati diri”.

Acara Oprah Winfrey Show juga pernah membahas masalah ini. Narasumbernya terdiri dari psikolog serta anak yang menjadi korban. Saat itu sang korban bercerita betapa hati kecilnya ingin berteriak dan melawan ketika kekerasan/pelecehan di lakukan oleh teman sekolahnya. Namun ketakutan akan ancaman dan ejekan yang lebih luas menjadikan dia diam dan tidak dapat bertindak.
Psikolog yang hadir saat itu menyarankan bahwa tindakan yang harus dilakukan pertama adalah perlawanan rasa takut dari diri sendiri. Sang korban harus berani melawan dan menunjukan kepada pelaku bahwa kita tidak suka atas perlakuannya (bullying). Korban harus berani berteriak atau melaporkan kekerasan tersebut kepada pihak yang berwenang, karena kalau mengharapkan kontrol dari sekolah akan sulit. 

Jadi rumusnya; lawanlah dari diri sendiri dulu dan biarkan wadah sosial atau lembaga masyarakat tahu. 



Hhhmm…ternyata di negara yang katanya menegakkan demokrasi dan HAM saja tidak bisa memberikan jaminan terhadap kontrol sosial, apalagi di negara berkembang, terlebih lagi di negara terbelakang?

Memang kunci yang paling efektif dimulai dari komunitas terkecil yaitu keluarga, dengan cara menanamkan perilaku menghargai dan menghormati kepada generasi penerus kita kelak. Mengajarkan bahwa tidak berarti yang berbeda dan yang tidak sependapat dengan kita adalah salah.
Mendidik dan menumbuhkan rasa percaya diri tanpa lupa menanamkan ideologi bahwa setiap orang juga punya hak yang sama untuk berprestasi dan di hargai.
Memperkenalkan ilmu berkompetisi secara jujur dan sehat. Mengajarkan serta memberikan contoh kepada mereka bahwa meski tidak bisa dipersatukan, perbedaan tetaplah indah.

Dengan begitu, kebutuhan kita akan social needs tidak akan menggusur kebutuhan akan social needs orang/kelompok lain. Semoga.





Selasa, 25 Mei 2010

Innalillahi wa'inaillaihi rodjiuun...



Mungkin ini blog yang gak menarik bagi beberapa pembaca. Tapi saya sekadar ingin menumpahkan rasa simpati. Itu saja.

Terkait dengan wafatnya Ibu Hasri Ainun Besari atau Ainun Habibie tanggal 22 Mei 2010 pukul 17.35 waktu Munchen yang mengingatkan saya pada saat di mana wafatnya Ibu Tien Soeharto .
Waktu itu terlihat sekali sedih yang mendalam dari raut wajah Pak Suharto. Begitupun sepertinya yang terjadi pada Pak Burhanudin Jusuf Habibie. Raut kesedihan begitu tampak jelas ketika Pak Habibie menaburkan bunga terakhir di liang lahat nya Ibu Ainun. Tubuh renta nya nampak terhuyung menahan sedih yang seakan-akan membebani fisiknya yang mulai renta. *sigh*
 


Belum ada satu bulan yang lalu saya sempat menyaksikan kehadiran Pak Habibie pada acara talk show di salah satu stasiun televisi swasta. Saat itu terlihat ekspresi semangat Pak Habibie ketika ditanya oleh host mengenai kemungkinan beliau untuk kembali memberikan sumbangsih kepada kemajuan IPTN/Dirgantara Indonesia. “Kalau diajak bicara soal itu saya sering. Tapi kan saya tidak pernah diajak bicara soal selanjutnya bagaimana?”, kemudian disambut tawa penonton.

Seperti kita tahu, pasca wafatnya ibu Tien dulu, kejayaan pak Suharto runtuh. Ada beberapa bisik-bisik yang bilang bahwa klenik-nya Pak Suharto ada di Ibu Tien. Tapi saya lebih suka berpendapat bahwa semangat hidup yang dimiliki Pak Suharto meredup setelah wafatnya Ibu Tien. Allahu'alam.
Entah. Seandainya Pak Habibie di tanya lagi perihal yang sama (kembali mengabdi pada bangsa) nantinya, apakah semangat serta niat untuk kembali itu tetap ada?Yang pasti, kondisi fisik beliau pasti tidak seperti dulu lagi...
“Ibu Ainun itu hafal surat Yassin”. Itu kabar yang pernah saya dengar dan sampai saat ini masih melekat. Bukan berarti setiap yang hafal surat Yassin itu sudah pasti 100% dijamin masuk surga. Tapi dari salah satu kabar tersebut tergambar sepertinya beliau memiliki sisi religius yang sangat dalam. Ditambah lagi beberapa yayasan sosial yang beliau dirikan, serta kebijakan untuk mengalihkan uang karangan bunga bela sungkawa ke yayasan sosial yang dimilikinya. 

Kenangan bersama orang terkasih pasti tidak akan pernah dapat dikikis waktu. Berpuluh tahun tak kan dapat tergantikan dalam sehari. Rasa tulus dan ikhlas telah menjadikan perasaan cinta abadi. Tidak bisa diterjemahkan oleh bahasa dan prasangka apapun. Cinta dan kasih memang baru bisa diketahui setelah melalui proses serta waktu yang panjang. Itulah yang telah dijalani oleh Pak Habibie dan Ibu Ainun. 


   
Selamat jalan Eyang Ainun...
Harum nama mu tetap akan selalu menjadi kenangan dan tauladan…





Rabu, 30 Januari 2008

The Smiling General



He passed away...
27 januari 2008, 13.10 WIB menjadi sejarah baru bagi dunia pada umumnya, dan bangsa indonesia pada khususnya. Seperti yang kita tahu semua, Bpk. presiden ke-2 RI, Bpk Soeharto, yang sangat begitu fenomenal, berpulang ke Rahmatullah atas sakit yang didera nya beberapa tahun pasca lengser nya beliau sebagai presiden.


Jujur, masa beliau menjabat, saya sih gak terlalu banyak memahami, karena pada masa2 jaya beliau saya masih krucil alias skitar masa SMP kebawah lah...
Yang saya tahu waktu itu beliau adalah sosok presiden RI yang memiliki visi serta misi pemerintahan yang dituangkan dalam Trilogi Pembangunan, Repelita/Pelita (krn wktu itu saya ingat sekali disuruh menghapal mati2an sampe nglotok!)


Pada zaman dinasti beliau saya juga gak merasa nelongso2 amat, justeru malah sebaliknya. karena secara bokap jg kebetulan merupakan anggota komunitas salah satu BUMN yg saat itu sangat2 berjaya dan monopolistik! justeru, pasca lengsernya beliau, saya (dan tentunya se-sama komunitas lainnya) baru merasakan nelongso nya gak lagi berada dibawah "ketiak" beliau. Lagi-lagi, pada masa itu yang sangat saya ingat adalah tiap kali mau memasuki masa pemilu, saya selalu bertanya ke orang tua saya,"kok papa sm mama wajib milih gol* melulu sih?", dan u know.., pertanyaan saya tu gak pernah terjawab dan selalu berujung pada respon, "Ssstt..., jangan ngomong yg enggak2...!"


Malah, pada masa2 mencekam awal reformasi, masa dimana kata "kerusuhan dan penjarahan" nge-TOP bgt, saya dan teman2 yang waktu itu sedang berada pada penghujung ujian EBTA/NAS kelulusan SMP (saya lupa tanggal persis nya), sempat merasa sangat terancam. rumor yang beredar, sekelompok masa dikabarkan akan menyerbu kompleks kami. kami semua (anak2) diminta untuk senantiasa berjaga2 dan hati2.para orang tua dan guru dengan sibuk nya mengaman kan situasi dgn berusaha menenangkan kami yang pada waktu itu sempat terlihat panik (padahal sang guru pun berkali2 lipat panik nya dari kami!).


Yang paling mencekam, malamnya, warga sekomplekskami sempat tidak bisa dibuat tidur!bokap ku dan beberapa tetangga berjaga2 diluar sampai pagi menjelang. kami semua diminta untuk atur strategi seandainya gerombolan penyerang itu jadi mengepung dan menghancurkan kompleks kami. Demi menghibur kami anak2nya, bokap saat itu cuma bilang begini: "tenang aja...,satuan brimob kita banyak kok.mereka gak bakalan sanggup nyerbu!"
padahal, setahuku, saat itu semua bapak2 sibuk kontak sana-kontak sini saling melempar informasi. begitu jg nyokap. Sibuk bgt telpon2 an dgn sesama ibu2 kompleks itu juga!
Phhewwwwfff....., kl ingat saat itu...,rasanya sesak bgt...
Sempat terfikir gimana ya nasib ku nanti?? (hehe, jauh bgt ya berfikirnya??)


Well, time passed by...
seiring waktu akhirnya skrg saya tumbuh menjadi sosok pemudi yg mulai bisa sedikit "peka" terhadap apa yang terjadi (cuih! bahasanya...hehe)
Pak Harto, dalam sebuah buku yg pernah saya baca (Leading in Crisis), menjelaskan bahwa beliau adalah seorang praktisi yang menggunakan strategi memimpin: Ekonomi mengontrol politik. Beliau juga menggunakan dinamisator "teknokrat vs non-teknokrat" dalam memecahkan setiap permasalahan yang melanda.


Tidak bisa dipungkiri, usaha yang beliau lakukan juga sempat menurunkan tingkat inflasi dari 650% menjadi hanya sekitar 11%. Selain itu, di tahun 1984, pada masa kepemimpinan beliau, Indonesia juga sempat menerima anugerah dari FAO (Food and Agriculture Organization) atas keberhasilan RI mencapai swasembada pangan. bahkan, yang menakjubkan, pada tahun 1993 Indonesia sempat dinobatkan oleh World Bank menjadi salah satu dari ketiga negara dengan julukan " East Asian Miracle".
Suatu prestasi yang sangat membanggakan memang...


Namun sayang, kebijakan beliau pada thn 1972 yang sempat membiarkan Pertamina (yg saat itu dipimpin oleh Ibnu Sutowo) melakukan pinjaman kapital dengan nominal yang sangat tinggi pada negara luar, merupakan salah satu awal dari petaka hutang yang berkepanjangan sampai sekarang. Financial Missmanagement yang dilakukan pertamina pada masa itu ternyata tidak menjadikan 'jera" pak harto untuk (juga) "memanjakan" Bulog yg pada waktu itu diharapkan dapat menjadi stabilisator harga.


Sekelumit kebijakan yang diambil pak Harto hanyalah segelintir contoh dari risiko sebuah keputusan besar yang diambil oleh seorang pemimpin. Sebuah keputusan yang sarat penuh risiko. Namun, pak Harto memang memiliki sejumlah alasan mengapa kebijakan tersebut dipilih. meng"anak emas-kan" Pertamina saat itu merupakan pertimbangan bahwa saat itu diharapkan Pertamina dapat menjadi Engine of Development , meng-agul2 kan Bulog pada saat itu jg dikarenakan alasan beliau yang hendak menjadikan Bulog sebagai lumbung beras dan stabilisator harga.


Yah, sebuah keputusan besar memang akan menghasilkan risiko yang besar pula. Saya jadi ingat salah satu teori portofolio di mat.kul manajemen keuangan: Return berpengaruh secara positif terhadap Risk, vise versa.