Tampilkan postingan dengan label Ghaizan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ghaizan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juni 2012

Ayo kita olahraga!

Bisa dibilang dominasi perhatianku saat ini Ghaizan. Selalu Ghaizan dan Ghaizan. Mungkin istilahnya "no Ghaizan no days". hahaha

Rasanya sayaaaang banget kelewatan moment tumbuh kembang dia.
Contohnya kali ini. Hobi Ghaizan yang makin kentara itu adalah main air! Kalo udah urusan mandi...wahh bisa seneeeng banget. Dicebokin abis pup aja kalo dia sedang nangis, bisa tiba-tiba diem looh...

Akhirnya, pas umurnya tepat masuk tiga bulan tgl 23 Mei kemarin, mulai saya terapkan aktivitas rangsang motorik terbarunya: RENANG.
Gak perlu repot-repot bawa Ghaizan ke pusat spa bayi. Caranya?
Hanya beli neckring yang harganya gak sampe Rp50.000 trus untuk kolamnya memanfaatkan bath up di kamar mandi. Hihihi. Untuk pijetnya? Cukup bermodalkan panduan pijet di buku pengasuhan bayi, dan pijet bisa dilakukan sendiri. Pijet bayinya juga simple banget koq. Pasti para mommies bisa praktekin sendiri ke baby nya.
Pokoknya semua serba minim ongkos. hehe. Dan untuk durasi renangnya gak usah lama, cukup sekitar lima menit di awal dan ditambah jadi sekitar sepuluh menit buat renang selanjutnya.

Balik ke Ghaizan:
Walau awalnya dia sempet rada kagok pas dipasangin neckring, tapi lama-lama dia enjoy banget. Yaaa... meski pertama tama adaptasi ke air-nya dia sempat keliatan cukup tegang...hihihi

Nih buktinya:

Tegang amat, Nak...
 
Waktu pertama dipasangin neckring dia cuma diem bengong:


Another style of Ghaizan:
                                                    


Mulai nyaman





Makin pede niyeee


Awalnya ada rasa waswas sih waktu abis ngajak Ghhaizan renang. Takut dia K.O. Tapi ternyata alhamdulillah he was fine. Akhirnya berani deh ngajak dia renang lagi buat selanjutnya.
Oya, dengan renang rutin, efeknya kerasa banget loh buat rangsang motorik bayi. Se gak nya itu berlaku buat Ghaizan. Lehernya makin kuat memudahkan tiap dia belajar posisi tengkurep dan kepala tegak tiap digendong, tendangan kaki sama gerakan tangannya juga makin lincah
Abis renang juga biasanya Ghaizan boboknya jadi jauh lebih nyenyak (karena kecapean. haha)

Selain manfaat langsung ke dia, renangnya Ghaizan juga sarana rekreasi buat saya loohh... ─dari tahap pijat sendiri sampai memakaikan pakaian setelah dia bilasan.
Dengan begitu diharapkan bounding antara saya dan Ghaizan makin oke. hehe













Senin, 30 April 2012

Bos Kecil

04.43 WIB, akhirnya tidur kembali setelah bangun dan ngajak maen pukul 03.06 WIB. Pola tidur Ghaizan sepertinya belum stabil. Hari ini aja dia terbangun tiga kali. Kemarin dua kali (jam 12 mlm, jam 4 subuh). Kadang kalo sedang manis, dia cuma terbangun satu kali. 
Kalau sudah begitu biasanya pola tidur saya pun ikut-ikutan dia: a la kalong. Malam terjaga,siang (kalo bisa) molor. hihihi

Jatah siangpun beda lagi. Judulnya adalah "semua serba tergopoh-gopoh". Termasuk *maaf* buang hajat pun tema nya terburu-buru. Biasanya rutinitas saya dipagi hari diawali dengan memandikan Ghaizan, lalu gantian saya yang mandi. Selama saya mandi jangan harap bisa ber leha leha karena bos kecil satu ini kalau sudah minta mimik tidak mau ditoleransi dengan bujukan atau gendongan siapapun. Kadang awal-awal, ditengah rasa lelah yang berlebih, rasa frustasi memberikan ASI ekslusif muncul. Tapi alangkah gak konsistennya saya yah? masih ada empat bulan lagi loh padahal...
Secara teori, pumping bisa meringankan sih...Saya bisa menyimpan ASI di kulkas, lalu ketika bos kecil ini kelaparan siapa saja bisa menyusuinya. Tapi sepertinya saya belum punya resep jitu supaya hasil pumping-an saya banyak dan bisa di stock lama. Sejauh ini paling banter 75ml. Justru saat ini ASI saya berproduksi lebih banyak kalau langsung disusui Ghaizan. *fiuh
Sempat saya berfikir jangan-jangan tiap pumping sedikit gara-gara saya juga nih yang prefer nyusui langsung? Akibatnya hormon oksitosin saya gak bekerja maksimal ketika pumping. Habis, sering muncul rasa bersalah kl harus nyetok. Saya kan tidak bekerja? tidak mengharuskan untuk sering beraktifitas diluar? So...mending langsung nyusui aja. ASI nya lebih fresh, bisa bounding juga sama Ghaizan. Ya gitu deh kira-kira dalam hati tiap kali mau pumping. Jadi, saya pumping untuk dua kondisi: 1.Ketika saya terpaksa harus keluar tanpa Ghaizan (pernah waktu itu saya menghadiri seminar parenting)  2. Ketika ASI saya sedang banyak-banyaknya.

Satu lagi yang tidak bisa ditoleransi oleh bos kecil ini: Kalau diapersnya sudah full pipis dan/atau pup. Dalam kondisi begini tangan saya harus super sigap menyiapkan segala perlengkapan ganti, serta harus bergerak cepat membersihkan. Kalau tidak, teriakannya akan kencang seiring lambatnya saya bergerak. So, atas standar kerisihannya ini lah juga akhirnya saya putuskan Ghaizan harus  menggunakan diapers untuk sehari harinya. Kalau hanya menggunakan cawet biasa, bisa dibayangkan kan berapa puluh kali dalam sehari dia mengamuk? hahaha



Rabu, 04 April 2012

40 days out

Empat puluh hari sudah. Alhamdulillah.
Saya sendiri sebenarnya gak ngerti-ngerti amat kenapa begitu " a must" nya hitungan 40 hari bagi seorang bayi yang baru lahir dan seorang ibu yang baru melahirkan? yang saya tahu sih agama saya mengajarkan demikian. That's it.
Buntut dari ke sakral-an 40 hari tersebut muncul berbagai larangan dan anjuran dari para tetua. Belum boleh potong kuku lah, gak boleh  cukur habis rambutnya lah (mungkin maksdnya takut terpotong jarinya yang masih kecil atau tergores kulit kepalanya bayi ketika menyukur yah?),   gak boleh di kaca in lah, gak boleh keluar malem (untuk yang satu ini beberapa kali dilanggar krn jadwal imunisasi ke dokter selalu sore sampe malam.hihihi), bahkan untuk si ibu-nya dilarang kena air hujan. Nah loh??
Terlepas dari itu semua, saya sih lebih care pada perkembangan Ghaizan daripada sibuk memperdebatkan hal tersebut dengan ortu dan mertua.

Alhamdulillah sejauh ini Ghaizan tumbuh dengan sangat wajar dan sehat. Layak anak seusianya, Ghaizan kerap membuat saya, dan seisi rumah tertawa geli penuh surprised.
Mulai usia di minggu ke dua Ghaizan beberapa kali mencoba tidur dengan posisi miring. Memasuki minggu ke tiga mulai berani beberapa kali mengangkat angkat kepalanya. Kalau sendang jengkel, sambil nangis-nangis dia bisa mengangkat angkat pantatnya. 
Minggu ke tiga jalan empat Ghaizan sudah mulai senang bergumam (apalagi kalo dia habis mandi). Kalau ada yang ngajak ngobrol, kadang dia menyahut dengan gumaman bahasa planetnya itu. Mula-mula sekadar gumaman singkat. Lama-lama interval gumamannya semakin bertambah.
Pandangannya pun sepertinya sudah semakin jelas. Ghaizan sudah mulai tertarik dengan warna-warna cerah, tapi sepertinya masih lebih menggemari warna hitam-putih (termasuk cahaya lampu).

Meski terjadi tidak selalu setiap hari (tidur miring dan mengangkat pantat serta kepala), tapi perkembangan tersebut konsisten muncul sejak minggu ke dua sampai sekarang. Selain itu Ghaizan juga sepertinya sudah mulai bisa mengenali wajah orang-orang disekitarnya. 

Oya, sekarang berat Ghaizan sudah 3.7kg loh..panjangnya 52cm. Suatu perkembangan yang sangat menggembirakan mengingat kemarin pas lahir berat Ghaizan hanya  2.85kg dengan panjang 48cm. Alhamdulillah. ^^

Tapi satu hal yang masih ditunggu nih: alis matanya yang belum tumbuh lebat juga sampe sekarang! hahaha...


Ini waktu Ghaizan umur 3 minggu jalan 4 minggu














Responsif sm warna gelap (difoto via blackberry)













Sepertinya lebih tertarik sm cahaya lampu nih...




















FYI: Mohon maaf bila terganggu perihal pencahayaan foto yg tidak konsisten krn diambil via hp dan blackberry dibawah temaram lampu yg meredup :D




Sabtu, 24 Maret 2012

Dibalik Kebahagiaan itu

Alhamdulillah sebulan telah terlewati. 
Rasanya baru kemarin saya masih berperut besar dan terengah-engah jika bergerak sedikit lebih cepat. Dan jika melihat Ghaizan, sepertinya baru tadi subuh saya melahirkan dia.

Lebih-kurang dua minggu pertama pasca kelahiran Ghaizan adalah masa-masa terberat bagi saya. Saya sempat mengalami apa yang dinamai orang "baby blue syndrome" atau bahasa ilmiahnya postpartum distress syndrome . Saya bisa menangis tiba-tiba, dan menit berikutnya tersenyum bahagia melihat sosok bayi Ghaizan. Rasa khawatir terhadap Ghaizan sangat berlebihan dan setiap tidurpun tidak nyenyak karena selalu menangis.

Tapi saya pikir kesedihan itu bukan tanpa alasan. Proses kelahiran Ghaizan yang terbilang dramatis (sempat ketuban bocor duluan) menyebabkan Ghaizan mau tidak mau harus menjalani prosedur pemeriksaan lebih lanjut di bagian perinatologi rumahsakit tempat saya melahirkan. 

Ghaizan memang dinyatakan sehat. Tidak tertelan air ketuban, dan tidak ada permasalahan serius lainnya terkait kondisi kesehatannya. Namun dokter perinatologi telah terlanjur memberikan antibiotik sebagai tindakan preventif di masa awal kelahirannya. 
Karena itu, mau tidak mau, cairan antibiotik yang dimasukkan lewat slang infus harus diteruskan sampai batas yang direkomendasikan. It means that Ghaizan harus menginap lebih lama di ruang perinatologi selama beberapa hari. 

Tentu saja saya dan suami (terlebih saya) sebagai orangtua baru merasakan panik yang luar biasa. Apalagi ketika melihat Ghaizan diletakkan dalam box bayi dan satu ruangan dengan beberapa bayi lainnya yang memiliki permasalahan serius serta perlu penanganan segera. 
Dokter kandungan saya sempat komplain ke dokter anak dan bagian perinatologi karena menurut beliau tidak ada permasalahan pada saya dan anak saya. Tapi apa lacur, pasca kelahiran, urusan sang bayi merupakan wewenang dokter anak. Begitulah prosedur disana.

Saya dan suami tidak komplain, karena apa yang dilakukan pihak rumahsakit dan dokter kami yakini adalah yang terbaik untuk kesehatan anak kami, dan para dokter tersebut (baik dokter kandunganku atau dokter anak Ghaizan) pasti sudah punya pertimbangan profesionalisme terkait perihal kelahiran dan perawatan Ghaizan.

Menjelang selesainya pemberian antibiotik (lebih kurang 3 hari), kabar mengejutkan muncul lagi. Kadar billirubin Ghaizan meningkat menjadi 14.5 mg/DL (ambang normal bilirubin bayi adalah dibawah 12 mg/DL). Berbagai spekulasi karena panikpun muncul, tapi yang pasti hasil laboratorium menyatakan bahwa kenaikan bilirubin Ghaizan adalah murni karena pemecahan sel darah merah (Ikterus Fisiologis)

Sebenarnya peningkatan kadar bilirubin ini adalah hal wajar di dua minggu pertama bagi pada umumnya bayi yang baru lahir. Biasanya akan normal dengan sendirinya jika bayi rajin dijemur pagi. Namun karena kadar bilirubin Ghaizan sudah terlanjur tinggi, mau tidak mau dokter menyarankan Ghaizan agar di terapi sinar biru (Blue Light) guna membantu percepatan proses pemecahan sel darah merahnya.

Singkat cerita, beberapa kejadian dramatis pasca kelahiran Ghaizan membuat kondisi fisik dan psikologis saya tidak stabil. Ditambah lagi dalam kondisi seperti itu saya yang sejak awal telah bertekad memberikan ASI ekslusif pada Ghaizan, harus berjuang ekstra keras untuk bisa memperjuangkan niat tersebut. 
Maka bolak-balik ruang perinatologi demi memberi ASI (tidak peduli jam berapa pun), serta berkali-kali memompa padahal produksi ASI masih sangat minim di awal-awal kelahiran (yang sebenarnya lebih efektif jika proses laktasi dilakukan dengan cara bayi langsung menghisap puting payudara Ibu) tidak saya rasakan lelah sedikitpun.
Beruntung Alhamdulillah bagian laktasi rumahsakit sangat mensuprort saya untuk memberikan ASI ekslusif (Trimakasih to nurse Elza), serta suami saya yang sangat membantu saya secara psikologis sampai akhirnya saya bisa menjalani semua cobaan itu dengan tegar.

Alhamdulillah kini masa itu sudah terlewati. Seperti mimpi rasanya jika memori tentang hal tersebut kembali diputar. Namun semua rasa sedih, lelah, dan marah terhapus sudah setiap saya melihat pertumbuhan dan perkembangan Ghaizan dari hari ke hari yang semakin sehat, lucu, dan pintar. Semoga Allah selalu memberikan rahmat kepadamu,nak..

Tantangan selanjutnya adalah: Adaptasi soal begadang! Yayy! hahaha. 
Yah... begitulah memang...menjadi orangtua adalah suatu proses pembelajaran yang tiada henti. :) 




Sabtu, 03 Maret 2012

My new life

Tanggal 23 Februari 2012 adalah salah satu tanggal bersejarah dalam kehidupan saya dan suami. Bagaimana tidak, pada tanggal tersebut buah hati tercinta kami terlahir ke dunia. 
Sebenarnya meleset dari tanggal prediksi kelahiran, 12 Maret 2012. Makanya ketika tanda-tanda kelahiran muncul, persiapan menyambut sang buah hati sebenarnya belum total 100%. 

Masih ingat sekali, waktu itu saya baru pulang dari pasar tradisional bersama mama sekitar pukul 14.00 WIB. Sebenarnya perjalanan tidak terlalu berat karena sebatas membeli makanan kembang tahu. Itupun saya dan mama langsung diantar sopir rumah sampai ke tempat mangkal nya "mamang" penjual kembang tahu. Perjalanan sebelumnya hanya ke bank dan toko pempek. 
Tidak terlalu melelahkan kalau dipikir-pikir untuk ukuran perjalanan "orang normal". Tapi entah kenapa waktu itu saya merasakan lelah yang teramat sangat. Akhirnya rencanan perjalanan selanjutnya ke penjahit langganan dibatalkan. 

Sampai dirumah, karena kondisi cuaca yang saat itu terasa amat sangat terik, saya segera mandi. Belum selesai mandi, shower dikamar mandi mati, AC dirumah semua tiba-tiba mati, tapi lampu tetap menyala.
Berhubung saat itu dirumah cuma ada saya dan mama, mau tidak mau rencana tidur setelah mandi terpaksa ditunda karena saya sibuk mengurus shower dan AC yang macet.  Mulai dari mengontak teknisi di kompleks sampai menunggui teknisi bekerja.

Akhirnya pekerjaan teknisi rampung sekitar pukul 17.00 WIB. Karena rasa lelah yang makin teramat sangat, saya pun tertidur. Menjelang maghrib saya terbangun. Sekitar pukul 19.30 WIB saya berencana shalat isya.
Begitu hendak shalat, saya merasa ada yang merembes dari 'bawah'.  Segera saya telfon dokter kandungan saya. tapi tidak aktif. Kemudian saya telfon salah satu bidan di rumahsakit langganan saya periksa (Hermina Palembang). Saya diminta untuk segera datang kesana untuk periksa dalam.

Bisa ditebak, air ketuban saya bocor duluan, tapi belum sampai pecah. Akhirnya saya diminta untuk tetap berbaring sembari menunggu proses bukaan yang terus berjalan.
Alhamdulillah proses bukaan saya tergolong cepat. Menjelang subuh pembukaan  sudah lengkap dan saya melahirkan anak kami dengan proses normal. Alhamdulillah (lagi) anak saya tidak sampai tertelan air ketuban.

Dalam kondisi yang lelah teramat sangat, saya bisa melihat dengan jelas bayi saya dibersihkan, lalu diletakkan di atas dada saya untuk menjalankan proses Inisiasi Menyusui Dini. Sampai sekarang masih terasa sekali hangatnya tubuhnya dan rengek'an suaranya ketika diletakkan di atas dada saya. 
Subhanallah Alhamdulillahirobbil'alamin....
Rasa syukur yang tak terkira. Meski selama proses melahirkan saya tidak bisa ditemani suami (karena suami masih dalam perjalanan), tapi ada mama yang selalu menemani saya. Trimakasih mama. Baru saya merasakan bagaimana pengorbanan seorang ibu....
Atas rasa syukur, bayi kami tercinta kami namai "Radinanda Ghaizani Abrar". Radinanda diambil dari kepanjangan nama "Ria And haDI ANANDA, jika dibalik jadi ananda-nya Ria dan Hadi (hihihi, maksa yah?), Ghaizani (bahasa Arab) yang berarti muda rupawan. Abrar ((Bahasa Arab) yang artinya golongan orang yang berbuat kebajikan (beramal shaleh). Jadi jika ditarik kesimpulan, kami berharap kelak anak kami akan tumbuh jadi anak yang rupawan (wajah dan hatinya), serta masuk sebagai golongan orang yang senantiasa beramal shaleh. Aaamiin Yaa Robbal'alamiiin.


Ghaizan

Selalu tumbuh sehat ya nak...Smg Allah SWT senantiasa merahmati kehidupanmu di dunia...dan menyelamatkan kehidupanmu di akherat kelak...Aaamin Yaa Robbal'alamiiin.