Tampilkan postingan dengan label MySelf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MySelf. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Desember 2012

Desperate Housewife?


OMIGOD!
Terusterang saya katakan. Bahwa jadi seorang Ibu Rumah Tangga yang 100 % total ngurusin rumah-anak-suami itu gak mudah. Swear. Bukan pekerjaan remeh temeh yang bisa dianggap sebelah mata. Oke,katakanlah mungkin balik ke masing-masing orang kali yah? Tapi percaya deehh awalnya bagi yang baru pertama mengalami PASTI merasakan yang namanya keteteran,kelabakan,kebingungan,bla bla. Yes! It was Me! 

Kemarin waktu saya masih di Palembang sih masih ada mama sama adek-adek yang sedikit banyak meringankan. At least saya tidak perlu lagi pusing soal rumah yang berantakan, menu sarapan-makan siang-makan malam. Urusan saya hanya Ghaizan dan diri saya sendiri tentunya. Itu saja.
Lah kalo sekarang? Semua tetekbengek, printal-printil harus dan mau gakmau saya turun tangan. Ditambah sejak selama saya di Palembang, suami ternyata tanpa sepengetahuan saya gak mempekerjakan lagi Asisten Rumahtangga kami. Makin kumplit deh kebingungan saya. Agak sedikit melegakan begitu saya sampai rumah sudah dalam kondisi "layak huni". hehe. Jadi,selain kembali menata rutinitas dan jam tidur-bangun serta ngurusin tetek-bengek tadi agenda selanjutnya adalah mencari Asisten Rumahtangga baru. Alhamdulillah satu minggu belakangan ini sudah dapat. Semoga langgeng. Setidaknya selama saya disini.

Selanjutnya adalah...berfikir bagaimana menyusun dan mengatur menu makan Ghaizan, jam bermain yang berkualitas, jam istirahat yang ideal. Dua bulan lebih disini koq dibilang "baru mau menyusun dan mengatur"?? Well, untuk urusan anak, mungkin saya termasuk orangtua yang agak rempong. Apa apa maunya perfect. Setidaknya perfect menurut bingkai kacamata saya. Menu makan, jam tidur, jam bermain adalah tiga hal yang (saat ini) menurut saya WAJIB diatur sedemikian rupa. Khususnya dengan menu makan. Awalnya saya pikir bayi yang sudah mengenal MPASI itu akan lebih mudah dikasih makanan tambahannya. Ternyataa oh ternyataaa...Entah sudah berapa kali menu bikinan saya dilepeh atau bahkan dimuntahin Ghaizan dalam satu kali sesi makan. Jadinya mau gak mau saya harus bikin menu ulang pada saat itu juga. Makanan instan bukan berarti haram saya hidangkan untuk bayi mungil saya, namun itu saya jadikan sebagai "emergency exit door" aja seandainya kita sedang bepergian misalnya.

 Menyusahkan?Enggak koq. Saya kan saat ini totally ibu rumahtangga alias gak kerja. Jadi apa salahnya kalau saya bikin menu sendiri untuk jagoan kecilku? Walau ada kala pada titik tertentu saya stress dan hampir frustasi karena menu makanan berkali-kali ditolak. hahahaha.  Tapi saya yakin lah apapun yang disuguhkan, apabila dibuat dengan kesungguhan hati pasti akan diterima dengan rasa bahagia oleh yang bersangkutan. Termasuk oleh anak bayi sekalipun. hehehe. 

Trus suami bagaimana? Alhamdulillah untuk yang satu ini suami sangat pengertian. Mungkin karena dulunya pernah jadi anak kos pas jaman kuliahan jadinya gak canggung ngurusin apa apa sendiri? Cuma bukan rumah tangga orang asia namanya kalau gak istri yang terjun langsung ngurusin suami such as nyiapin baju kerja, nyiapin piring buat makan, bikinin teh di pagi hari, bla bla. Kalo sudah begini repotnya ngurusin anak dan rumah bukan menjadi alasan bahwa tidak bisa meladeni suami dengan baik, to? :) 

Berkaca pada pengalaman para Ibu kita yang hidup di jamannya: dengan waktu yang sama (24jam sehari), siklus hidup yang tidak jauh berbeda dengan kita (sebagai seorang "Ibu"), bisa aja tuh mereka menjalani semuanya dengan baik, dan rumahtangga mereka langgeng sampai saat ini? Setidaknya itu yang tampak di mata kita sebagai anaknya. Soooo....Jalani dengan santai aja deh. Toh satu per-satu benang kusut itu akan terurai juga. :) 

Go mommy go moms! 


Rabu, 01 Agustus 2012

One of my New Dreams

Beberapa minggu lagi umur Ghaizan masuk enam bulan. Artinya InsyaAllah udah mau masuk tahap pemberian makanan tambahan. Artinya (lagi) waktu saya sedikit lebih longgar (pada bbrapa waktu tertentu justru tergerus hanya mengurus bocah ini). Dan sepertinya rasa jemu sebagai pengangguran mulai mendera. 
Jadi keinget dulu waktu memutuskan resigned. 

Dulu sih alasannya kondisi hamil bikin gak nyaman berjauhan dengan suami. Pengen suasana yang lebih "homey". Lantas sekarang jadi menyesali? Ya enggak donk...
Justru belakangan saya kepikiran punya karir yang waktunya fleksibel (fleksibel bisa berarti jadi gak sibuk atau justru sibuk banget? hihi). Okey, spesifiknya mungkin jadi dosen? pebisnis? penulis? or apapun yang gak wajib harus selalu full attensi di kantor. Gatau deh kenapa yah sejak punya anak pikirannya jadi berubah? Mungkin ada beberapa perihal kehidupan ini yang gak bisa di teorikan kecuali langsung dialami sendiri, dan tentunya taste setiap individu berumahtangga berbeda-beda.  :)

Kenapa koq tiba-tiba berubah haluan? Padahal dulu waktu masih single career minded banget. Malah dulu waktu suami melamar (di salah satu cafe di Jogja, dengan temaram candle light dinner gitu ceritanya. haha), dengan pede nya bilang: "kayaknya aku gak bisa deh just stay at home trus ikut kemana kamu ditugasin besok2. I will have my own career." hahaha. (maksudnya karir saat itu adalah kerja kantoran). Sadis banget yah? sombong dan angkuh. Itu dulu. Sekarang kan udah lain ceritanya..hehe.
Kalau pikir pikir sih sebenarnya sama aja. Tetap berangan-angan punya own career yang long lasting, tapi haluannya nya aja yang dirubah.

**
Memulai sesuatu yang baru itu memang gak mudah. Butuh usaha ekstra. Termasuk mikirin nyari jalan "apa dan gimana caranya?". Suami sih sudah menawarkan sekolah lagi. Ambil master biar bisa ngajar. Disisi lain suami sendiri sedang menyusun rencana apply scholarship tahun ini (InsyaAllah masih on progress) . 
(Jika scholarship jadi. InsyaAllah.) Lantas..apa harus berjauhan lagi? Hhhmm...not a good choice sepertinya...

Alhasil, sebagai pemanasan saya putuskan mengambil kuliah jarak jauh saja dulu. Sastra Inggris minat penerjemahan sepertinya asyik. Lumayan mengasah kemampuan bahasa inggris yang pasif. hehe.
Jadinya kuliah strata satu lagi deeh. Koq gak ambil master? (kata papa). Yaa...nanti lah dilihat kedepan gimana...Yang pasti InsyaAllah plan A dan plan B nya sudah disusun. Tinggal banyak berdoa aja supaya rencana saya dan suami di tahun ini diridhoi Allah SWT. Aaamiiin Yaa Robbal'alamiin.



Senin, 07 Mei 2012

What 2nd years does mean

Bohong banget kalau dalam mengarungi bahtera rumahtangga, saya dan suami tidak pernah yang namanya selisih faham. Perkara sampai berantem atau enggak itu tergantung pada level perdebatan kita. Kasus yang terjadi biasanya bervariatif. Kalau awal masa pernikahan dulu, biasanya sih masalah sensitivitas yang kurang ter-asah. Suami saya yang cenderung datar dan lempeng terkadang tidak bisa membaca ekspresi perasaan saya yang cenderung diam kalo ngambek. 

Pernah suatu ketika di awal pernikahan dulu, karena suatu hal, saya ngambek dengan suami. Ekspresi ngambek saya tunjukkan dengan bilang "gak mau masak malem ini. Kita makan mie instan aja." 
Habis bilang begitu saya diam, masuk kamar (pintu kamar sengaja dibiarkan terbuka).
Alih alih sang suami datang dan melancarkan sejuta rayuan, dia malah ke kamar dan menutup pintu dari luar. Begitu tahu pintu kamar ditutup, saya pun nangis makin keras dengan harapan sang suami tau. Ehh tetap gak ada respon.
Karena penasaran, saya lalu keluar kamar dan berniat menghentikan drama ngambeknya. Begitu saya keluar, betapa kagetnya saya. Ternyata sang suami dengan santainya sedang nonton tivi sambil makan mie instan trus bilang "Loh, gak jadi tidur?" 
Oh Em Ji....! Suamikuuuuuu....! %$##@*#!

Akhirnya amarah saya makin menggumpal. Dengan airmata yang bercucuran (lebay yah?) saya bilang kalau saya sedang marah sama dia. Tau jawabannya? "Oh...Mas kira tadi gak enak badan makanya bilang gak mau masak...Makanya tadi Mas tutup pintu kamarnya biar bisa istirahat" 
Gubraaakkk! hahaha.

Di posisi saya pun sama. Dibalik sifat datar nya itu, suami saya sebenarnya tipe melow. Ada masa dimana beberapa kali saya gak 'ngeh' kalau dia sedang marah. Mungkin saya yang cenderung barbar (meminjam istilah Mbak Meidi) kali yah jadi kurang sensitif sama perubahan sikap tanpa dibarengi perubahan mimik wajah?hahaha.


Itu dulu. 
Kalau sekarang sih lebih pada kesadaran aja. Biasanya kita sudah tahu kalau ada salah satu dari kita sedang marah atau ngambek. Kalau masing-masing merasa benar, biasanya saya dan suami memberi jeda pada komunikasi beberapa saat. Tapi tidak juga membiarkan sampai pada hitungan hari. 
Kalau sedang berjauhan biasanya bisa satu jam lebih (tiga-empat jam kan lebih dari satu jam to?hihihi). Tapi kalau sedang samasama sih gak sampai satu jam lah. 

Tanpa bermaksud sok memberikan tips, jika saya tarik benang merahnya, sampai saat di usia dua tahun lebih pernikahan, ada dua hal yang  don't do ketika sedang ada selisih faham dengan pasangan:
1. Berdebat ketika sedang kondisi hati sama-sama panas.
2. Jeda komunikasi yang terlalu lama (apalagi sampai berhari-hari)
3. Sembarang curhat problem rumahtangga. Apalagi ke banyak pihak/wilayah publik. (As a moslem, bukankah ada tuntunan yang meng istilahkan bahwa kita adalah pakaian dari masing-masing pasangan kita?)
4. Curhat ke lawan jenis even yang kita sebut sebagai sahabat (mungkin ini dianggap sedikit konservatif bagi sebagian  pasangan)
4. (Kalau bisa) ngadu ke ortu masing-masing. Bukan gak percaya sama orangtua sih. Tapi dikhawatirkan terjadi ketidaknetralan pendapat yg menjurus ke arah tendensi pembelaan. Kecuali percekcokan makin tajam yah. Kita butuh 'perekat' yang bisa kembali mempersatukan. So, meski gak rasional bagi ego kita, asal tujuannya minta kita akur lagi sama suami/istri kita sih wajib lah dimintai pendapatnya ortu.

do:
Masa-masa romantis waktu pedekate dan/atau kehadiran anak mungkin bisa jadi sarana buat berdamai dengan hati kalau percekcokan sama suami/istri makin tajam. Dengan bagitu mudah-mudahan gak berlarut-larut  deh...


"Semoga perjalanan kehidupan rumahtangga saya dan teman semua senantiasa dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan. Aamiin Yaa Robbal'alamiin."

Kamis, 29 Maret 2012

Pindah

Satu kata yang rasanya berhargaaa banget. 
Bukan tidak mensyukuri apa yang ada sekarang, atau mau menjadi istri durhaka (btw dibilang durhaka kah jika istri punya suara?), tapi saya pikir kata pamungkas itu sudah saatnya diterbitkan untuk suamiku perihal posisi berdinasnya saat ini. 
Enam tahun! yup! Bisa digenapkan begitulah kira-kira masa kerja suami saya saat ini.
Sebenarnya suami saya bisa mendapatkan "hak" pindahnya jika sudah memasuki tahun ke-5 masa kerjanya. Tapi berhubung kemarin dia mendapatkan amanah mengisi salah satu posisi kosong di atasnya, at least ada "perpanjangan" lebih-kurang dua tahun lagi untuk bertahan di Bakaru (dengan asumsi tahun ke tujuh tidak mengisi posisi lain lagi). 

Mengapa saya (sebenarnya suami saya pun punya keinginan yang sama, tapi bedanya dia lebih tidak banyak bicara dibandingkan saya) sepertinya kebelet pengen pindah dari balik gunung yang damai nan tenteram itu? Sederhana sekali: Kehidupan dibalik gunung yang jauh dari peradaban itu membuat kami merasa seolah-olah "stag" di berbagai sisi kehidupan. 
Walau perusahaan berusaha memenuhi apa yang menjadi kebutuhan para karyawan disana (padahal yang namanya kebutuhan sifatnya sangat relatif), namun tetap tidak bisa menyembuhkan satu kata yang namanya kebosanan

"Enak di Bakaru mbak. Udaranya bersih, sehat, bisa nabung banyak (karena sulit buat kemana-mana). Mumpung anak masih kecil. Kalau sudah pindah kota waah susah. Polusi dimana-mana, boros pengeluaran krn banyak godaannya. Jadi susah buat nabung." ( komentar salah satu teman yang sudah duluan pindah, dan dulu sewaktu masih di bakaru dia sempat merasa mati kebosanan )

Apapun itu komentar teman yang sudah duluan pindah, yang namanya  p i n d a h  adalah kata yang (mungkin) saat ini bikin hati kami berbinar-binar. Dengan segudang rencana, saya dan suami kadang mengkhayal to do list yang akan kami jalankan jika suatu hari nanti suami saya berdinas di kota yang lebih besar. Sepertinya besok jika jadi pindah, benar-benar akan jadi euphoria di awal- awal ya? hihihi

Karena itu, saat ini yang bisa saya lakukan sebagai istri adalah berdoa, berdoa, dan berdoa, serta meminta restu dari keempat orangtua kami. Semoga kehadiran Ghaizan bisa memberi jalan kami untuk keluar dari comfort zone ini. Bukankah setiap anak membawa rejeki nya masing-masing?
Aaamiiin Yaa Robbal'alamiin...


Sabtu, 24 Maret 2012

Dibalik Kebahagiaan itu

Alhamdulillah sebulan telah terlewati. 
Rasanya baru kemarin saya masih berperut besar dan terengah-engah jika bergerak sedikit lebih cepat. Dan jika melihat Ghaizan, sepertinya baru tadi subuh saya melahirkan dia.

Lebih-kurang dua minggu pertama pasca kelahiran Ghaizan adalah masa-masa terberat bagi saya. Saya sempat mengalami apa yang dinamai orang "baby blue syndrome" atau bahasa ilmiahnya postpartum distress syndrome . Saya bisa menangis tiba-tiba, dan menit berikutnya tersenyum bahagia melihat sosok bayi Ghaizan. Rasa khawatir terhadap Ghaizan sangat berlebihan dan setiap tidurpun tidak nyenyak karena selalu menangis.

Tapi saya pikir kesedihan itu bukan tanpa alasan. Proses kelahiran Ghaizan yang terbilang dramatis (sempat ketuban bocor duluan) menyebabkan Ghaizan mau tidak mau harus menjalani prosedur pemeriksaan lebih lanjut di bagian perinatologi rumahsakit tempat saya melahirkan. 

Ghaizan memang dinyatakan sehat. Tidak tertelan air ketuban, dan tidak ada permasalahan serius lainnya terkait kondisi kesehatannya. Namun dokter perinatologi telah terlanjur memberikan antibiotik sebagai tindakan preventif di masa awal kelahirannya. 
Karena itu, mau tidak mau, cairan antibiotik yang dimasukkan lewat slang infus harus diteruskan sampai batas yang direkomendasikan. It means that Ghaizan harus menginap lebih lama di ruang perinatologi selama beberapa hari. 

Tentu saja saya dan suami (terlebih saya) sebagai orangtua baru merasakan panik yang luar biasa. Apalagi ketika melihat Ghaizan diletakkan dalam box bayi dan satu ruangan dengan beberapa bayi lainnya yang memiliki permasalahan serius serta perlu penanganan segera. 
Dokter kandungan saya sempat komplain ke dokter anak dan bagian perinatologi karena menurut beliau tidak ada permasalahan pada saya dan anak saya. Tapi apa lacur, pasca kelahiran, urusan sang bayi merupakan wewenang dokter anak. Begitulah prosedur disana.

Saya dan suami tidak komplain, karena apa yang dilakukan pihak rumahsakit dan dokter kami yakini adalah yang terbaik untuk kesehatan anak kami, dan para dokter tersebut (baik dokter kandunganku atau dokter anak Ghaizan) pasti sudah punya pertimbangan profesionalisme terkait perihal kelahiran dan perawatan Ghaizan.

Menjelang selesainya pemberian antibiotik (lebih kurang 3 hari), kabar mengejutkan muncul lagi. Kadar billirubin Ghaizan meningkat menjadi 14.5 mg/DL (ambang normal bilirubin bayi adalah dibawah 12 mg/DL). Berbagai spekulasi karena panikpun muncul, tapi yang pasti hasil laboratorium menyatakan bahwa kenaikan bilirubin Ghaizan adalah murni karena pemecahan sel darah merah (Ikterus Fisiologis)

Sebenarnya peningkatan kadar bilirubin ini adalah hal wajar di dua minggu pertama bagi pada umumnya bayi yang baru lahir. Biasanya akan normal dengan sendirinya jika bayi rajin dijemur pagi. Namun karena kadar bilirubin Ghaizan sudah terlanjur tinggi, mau tidak mau dokter menyarankan Ghaizan agar di terapi sinar biru (Blue Light) guna membantu percepatan proses pemecahan sel darah merahnya.

Singkat cerita, beberapa kejadian dramatis pasca kelahiran Ghaizan membuat kondisi fisik dan psikologis saya tidak stabil. Ditambah lagi dalam kondisi seperti itu saya yang sejak awal telah bertekad memberikan ASI ekslusif pada Ghaizan, harus berjuang ekstra keras untuk bisa memperjuangkan niat tersebut. 
Maka bolak-balik ruang perinatologi demi memberi ASI (tidak peduli jam berapa pun), serta berkali-kali memompa padahal produksi ASI masih sangat minim di awal-awal kelahiran (yang sebenarnya lebih efektif jika proses laktasi dilakukan dengan cara bayi langsung menghisap puting payudara Ibu) tidak saya rasakan lelah sedikitpun.
Beruntung Alhamdulillah bagian laktasi rumahsakit sangat mensuprort saya untuk memberikan ASI ekslusif (Trimakasih to nurse Elza), serta suami saya yang sangat membantu saya secara psikologis sampai akhirnya saya bisa menjalani semua cobaan itu dengan tegar.

Alhamdulillah kini masa itu sudah terlewati. Seperti mimpi rasanya jika memori tentang hal tersebut kembali diputar. Namun semua rasa sedih, lelah, dan marah terhapus sudah setiap saya melihat pertumbuhan dan perkembangan Ghaizan dari hari ke hari yang semakin sehat, lucu, dan pintar. Semoga Allah selalu memberikan rahmat kepadamu,nak..

Tantangan selanjutnya adalah: Adaptasi soal begadang! Yayy! hahaha. 
Yah... begitulah memang...menjadi orangtua adalah suatu proses pembelajaran yang tiada henti. :) 




Sabtu, 03 Maret 2012

My new life

Tanggal 23 Februari 2012 adalah salah satu tanggal bersejarah dalam kehidupan saya dan suami. Bagaimana tidak, pada tanggal tersebut buah hati tercinta kami terlahir ke dunia. 
Sebenarnya meleset dari tanggal prediksi kelahiran, 12 Maret 2012. Makanya ketika tanda-tanda kelahiran muncul, persiapan menyambut sang buah hati sebenarnya belum total 100%. 

Masih ingat sekali, waktu itu saya baru pulang dari pasar tradisional bersama mama sekitar pukul 14.00 WIB. Sebenarnya perjalanan tidak terlalu berat karena sebatas membeli makanan kembang tahu. Itupun saya dan mama langsung diantar sopir rumah sampai ke tempat mangkal nya "mamang" penjual kembang tahu. Perjalanan sebelumnya hanya ke bank dan toko pempek. 
Tidak terlalu melelahkan kalau dipikir-pikir untuk ukuran perjalanan "orang normal". Tapi entah kenapa waktu itu saya merasakan lelah yang teramat sangat. Akhirnya rencanan perjalanan selanjutnya ke penjahit langganan dibatalkan. 

Sampai dirumah, karena kondisi cuaca yang saat itu terasa amat sangat terik, saya segera mandi. Belum selesai mandi, shower dikamar mandi mati, AC dirumah semua tiba-tiba mati, tapi lampu tetap menyala.
Berhubung saat itu dirumah cuma ada saya dan mama, mau tidak mau rencana tidur setelah mandi terpaksa ditunda karena saya sibuk mengurus shower dan AC yang macet.  Mulai dari mengontak teknisi di kompleks sampai menunggui teknisi bekerja.

Akhirnya pekerjaan teknisi rampung sekitar pukul 17.00 WIB. Karena rasa lelah yang makin teramat sangat, saya pun tertidur. Menjelang maghrib saya terbangun. Sekitar pukul 19.30 WIB saya berencana shalat isya.
Begitu hendak shalat, saya merasa ada yang merembes dari 'bawah'.  Segera saya telfon dokter kandungan saya. tapi tidak aktif. Kemudian saya telfon salah satu bidan di rumahsakit langganan saya periksa (Hermina Palembang). Saya diminta untuk segera datang kesana untuk periksa dalam.

Bisa ditebak, air ketuban saya bocor duluan, tapi belum sampai pecah. Akhirnya saya diminta untuk tetap berbaring sembari menunggu proses bukaan yang terus berjalan.
Alhamdulillah proses bukaan saya tergolong cepat. Menjelang subuh pembukaan  sudah lengkap dan saya melahirkan anak kami dengan proses normal. Alhamdulillah (lagi) anak saya tidak sampai tertelan air ketuban.

Dalam kondisi yang lelah teramat sangat, saya bisa melihat dengan jelas bayi saya dibersihkan, lalu diletakkan di atas dada saya untuk menjalankan proses Inisiasi Menyusui Dini. Sampai sekarang masih terasa sekali hangatnya tubuhnya dan rengek'an suaranya ketika diletakkan di atas dada saya. 
Subhanallah Alhamdulillahirobbil'alamin....
Rasa syukur yang tak terkira. Meski selama proses melahirkan saya tidak bisa ditemani suami (karena suami masih dalam perjalanan), tapi ada mama yang selalu menemani saya. Trimakasih mama. Baru saya merasakan bagaimana pengorbanan seorang ibu....
Atas rasa syukur, bayi kami tercinta kami namai "Radinanda Ghaizani Abrar". Radinanda diambil dari kepanjangan nama "Ria And haDI ANANDA, jika dibalik jadi ananda-nya Ria dan Hadi (hihihi, maksa yah?), Ghaizani (bahasa Arab) yang berarti muda rupawan. Abrar ((Bahasa Arab) yang artinya golongan orang yang berbuat kebajikan (beramal shaleh). Jadi jika ditarik kesimpulan, kami berharap kelak anak kami akan tumbuh jadi anak yang rupawan (wajah dan hatinya), serta masuk sebagai golongan orang yang senantiasa beramal shaleh. Aaamiin Yaa Robbal'alamiiin.


Ghaizan

Selalu tumbuh sehat ya nak...Smg Allah SWT senantiasa merahmati kehidupanmu di dunia...dan menyelamatkan kehidupanmu di akherat kelak...Aaamin Yaa Robbal'alamiiin.






Senin, 02 Januari 2012

Trimester ke-3

Sejak hamil suamiku bilang aku terlihat selalu ceria. "Enjoy bawaannya", begitu katanya. "Masak sih?", komentarku tiap kali dia bikin statement yang buatku sedikit ge-er. 
Apa iya sejak hamil aku se-happy seperti yang terlihat oleh suamiku? hihihihi. Cukup sulit juga untuk dijawab jika pertanyaan tersebut tertuju langsung buatku. Tapi yang pasti sejak hamil dan memutuskan untuk jadi pengangguran, aktifitasku tidak jauh dari urusan domestik, televisi, beberapa novel serta buku seputar kehamilan, dan sesekali me-recharge otak dengan asupan buku-buku serta jurnal akuntansi-ekonomi. 

Selain itu kegemaran yang menonjol sejak aku hamil adalah memasak. Aku bisa hampir setiap minggu loh memasak menu kudapan yang berasal dari tanah kelahiranku atau tanah kelahiran suami. Mulai dari pempek, tekwan, mie godog jawa, sampai gudeg! hihihi. Tapi jangan ditanya soal merapihkan rumah dan mandi. Dua hal tersebut akan masuk dalam daftar terbawah rutinitasku. Sampai-sampai, untuk melipat selimut sehabis bangun tidur saja rasanya beraaaat banget. hahaha

Alhamdulillah suamiku sangat memahami. Tak jarang dia mengambil alih beberapa pekerjaan sepele (baca: melipat selimut begitu bangun tidur, menggantung handuk yang baru selesai dipakai mandi) yang seharusnya bisa kukerjakan dengan begitu entengnya. Kecuali urusan mandi, paling dia cuma bisa geleng-geleng kepala dan bilang "pasti belom mandi ya?" ketika disambut didepan pintu rumah setiap jam istirahat siang kantor tiba. hahaha

Begitulah kondisiku sejak hamil besar. Aku bisa ber jam-jam didepan televisi menonton habis dua sampai tiga tayangan HBO tanpa mandi; lebih suka menikmati suasana dirumah dengan segala rutinitas monotonnya tanpa harus banyak berpayah-payah menghadiri ramah-tamah diluar; lebih suka berkutat didepan novel,buku, atau majalah dibanding harus sering-sering anjangsana dengan para tetangga. 
Kalau bukan karena "momok kaki bengkak", mungkin tidak akan pernah ada ceritanya jalan pagi atau sore menelusuri kompleks sembari ber say-hello dengan beberapa warga yang dikenal. hahahaha.

Begitulah. 
Dan bulan ini Alhamdulillah memasuki bulan ke-tujuh kehamilanku. Sungguh tidak terasa. Rencananya aku akan melahirkan di Palembang. Pertimbangan melahirkan disana adalah agar aku punya sedikit waktu yang lebih banyak ditemani oleh mamaku yang notabene sudah berpengalaman terhadap urusan bayi beserta hal-hal ribet lainnya. Bukan bermaksud membebani orangtua dan menjadi manja, namun memegang kepala bayi yang masih sangat rapuh untuk pertama kalinya kupikir perlu bimbingan juga. Selain itu ketersediaan fasilitas melahirkan di kota diharapkan akan lebih mumpuni dan bervariasi. Yah beginilah nasib tinggal dibalik gunung...wkwkwkwk

Sedih jika keberadaanku di Palembang nanti artinya akan mengurangi frekuensi pertemuan dengan suamiku. Apalagi ketika bayi kami sudah lahir, mau tidak mau beberapa bulan kedepan kemungkinan besar aku akan merawat bayi kami tanpa ditemani suamiku. Walau jatah cuti anak lahir disediakan oleh kantor, namun pasti akan terasa sangat singkat sebelum akhirnya kami bisa kembali berkumpul bertiga.

Tak terbayang rasanya beberapa bulan menjelang kelahiran aku harus mandiri tanpa didampingi suami. Memang ada orangtua dan saudara, tapi pasti tetap akan berbeda. Tak terbayang juga rasanya beberapa bulan kedepan bayiku tidak dulu merasakan belaian dan ciuman papanya di hampir setiap pergerakannya, untaian doa dari papanya sebagai pengantar tidur, serta lantunan ayat al-qur'an yang dibacakan papanya di setiap ba'da maghrib. Aku dan bayiku pasti akan sangat merindukan itu semua.  
"Nanti kita sykpe-an yah?"  begitu komentar suamiku setiap tiba masa melow ku. Duh, serasa seolah-olah ditinggal suami pergi perang, dimana teknologi adalah satu-satunya harapan untuk bisa bertatap muka. hahahaha.

Resolusi 2012 dan seterusnya:
Semoga aku, suamiku, dan bayi kami selalu dianugerahi kesehatan. Semoga kehidupan rumahtangga yang penuh berkah dan keharmonisan selalu tercurah untuk kami. Semoga Allah SWT senantiasa memanjangkan usia kebersamaan kami di dunia, serta mengekalkannya di akherat kelak. Amin Ya Robbal'alamin.








Senin, 12 Desember 2011

Happiness is

I really like this quotation:



"Kebahagiaan adalah bukan mendapatkan segala yang kau inginkan dan menjadi sempurna, melainkan mensyukuri hal-hal kecil dari apa yang kau dapatkan dalam hidupmu"

Senin, 05 Desember 2011

Mama (k) Mayu

Dia dikenal dengan nama "mama (baca:mamak) Mayu". Usut punya usut pelekatan nama "Mayu" berasal dari nama anak sulungnya. Nama aslinya sampe sekarang aku gak tahu. Cuma ya begitulah..."Mama Mayu" sudah lengket penyebutannya dilidah para ibu-ibu dikompleks ini. 

Dia istri salah satu petugas Cleaning Service dikompleks ini. Perawakannya kecil (tidak jelas berapa usainya, tapi dugaanku mama Mayu belum menyentuh angka 40), tidak terlalu banyak bicara (setidaknya untuk ukuran para istri petugas cleaning yang terkadang berlebihan bersikap dan bicara menurutku.). 

Kabar dari suamiku sewaktu aku belum menikah dengannya, mama Mayu punya kemampuan membereskan rumah serta tetek-bengek lainnya dengan sangat rapih. Terutama untuk urusan setrikaan. Rapi jali sampe lipatan pakaian tak terlewatkan. Konon, katanya mama Mayu sempat bekerja menjadi salah satu tenaga kerja wanita di luar negeri.    

Sebenarnya mama Mayu pernah membantu suamiku ketika suamiku masih single. Cuma itu sebatas setrika (dan itupun selalu di "bonus" in olehnya dengan merapihkan rumah). "Saya kasian sama Mas Wahyu, mbak...rumahnya berantakan sekali kalo saya datang setrika. Jadi kalo saya setrika sekalian saya rapihkan saja...". Begitu ceritanya suatu hari. Yah....maklumlah...bujangan...hahaha

Pendek kata, sejak saya dan suami menikah, mamak Mayu resmi menjadi anggota baru seputar urusan domestik kami dirumah. Pekerjaannya rapih, telaten, tidak banyak bicara, dan penuh inisiatif.

Sewaktu saya pulang dari Jawa dua minggu yang lalu, saya sempat dibuat surprise dengan kondisi rumah yang begitu kinclong. Tidak hanya menyapu, mengepel, setrika, dan urusan sejenis lainnya yang biasa dikerjakannya, mamak Mayu juga merapihkan serta menata ulang beberapa pernak-pernik dan tetek-bengek di dapur sehingga terlihat begitu tertata rapih, bahkan gudang tempat tumpukan kardus pun ditata ulang sehingga  menjadi sangat bersih! hihihi

Memiliki rekanan begini siapapun pasti akan tidak segan mengeluarkan kocek yang sedikit diatas rata-rata sebagai imbalan. Bukan berarti sok tajir, namun wajar saja bila reward tetap harus diberlakukan pada jenis pekerjaan apapun, dan pada siapapun yang memang bekerja dengan hasil yang dapat memuaskan. 

Jadi berfikir, kalau suatu hari pindah, kira-kira bakal dapat PRT yang begini lagi gak yah?




*** 

Kamis, 17 November 2011

There's a choise

Setiap jenjang dalam fase kehidupan memiliki fokus utama. Ketika anak2,fokusnya adalah bermain. Ketika memasuki masa sekolah dan kuliah, fokusnya adalah pada belajar. Ketika memasuki masa bekerja, yg menjadi fokus adalah pencapaian karir.  Begitupun ketika memasuki masa pernikahan,fokus kita pun terletak pada keharmonisan dan keselarasan kehidupan rumahtangga yang tengah kita jalani.

Atas dasar itulah aku sekarang menjatuhkan pilihan untuk mendampingi suamiku yang saat ini masih berdinas di salah satu kabupaten di Pulau Sulawesi Selatan.  Karir yang sempat kumulai di Makassar,dengan penuh kesadaran aku tanggalkan dulu. Setidaknya untuk sesaat.

Aku tidak mengatakan bahwa ketika menikah karir adalah sesuatu yang sepele, justru jika karir yang kita miliki adalah sesuatu yang urgent bagi rumahtangga kita, maka karir menjadi salah satu bagian dari keharmonisan  dan keselarasan dalam rumahtangga yang tengah kita jalani. Begitupun ketika pilihan karir kita akan membawa pada ketidakharmonisan dan ketidakselarasan dalam rumahtangga, maka karir yg sedang kita pilih tsb (bisa jadi ) bukan menjadi sesuatu yang wajib untuk dipertahankan.  Saatnya untuk beralih pada karir yang lain atau (jika dalam situasi yang benar2 mendesak) adalah memilih (antara karir atau keutuhan rumahtangga).

Jangan salah faham juga. Ketidakharmonisan yang aku maksud disini bukan berarti kehidupan rumahtangga yang kujalani selama aku bekerja penuh dengan suasana “panas”.  Bukan itu. Sejauh ini Alhamdulillah kehidupan rumahtanggaku relatif adem ayem, dan kalopun ada perselisihan, itu sebatas kerikil kecil dalam kehidupan rumahtangga keluarga pada umumnya.  Ketidakharmonisan yang kumaksudkan adalah lebih pada kedalaman “rasa tidak nyaman” yang aku miliki. Well,mungkin sebagian ada yang berfikir bahwa itu hanya bawaan hamil yang merubah kondisi psikologisku jadi lebih sensitif. Aku tidak langsung menolak mentah-mentah pendapat tersebut.  So,aku sempat melakukan beberapa perhitungan diatas hitam-putih mengenai beberapa untung rugi  terkait keputusan yang akan kuambil,serta alternatif penggantinya. Tidak ada intervensi. Termasuk dari suamiku. 

Memang, awalnya berat meninggalkan karir yang baru seumur jagung dan penuh dengan embel-embel prospek masa depan pribadi yang menjulang.  Tapi itulah sebuah pilihan manusia dewasa. Pilihan antara dua kemauan yang awal mula dianggap sama pentingnya.  

Surprisingly, Ketika mengajukan pengunduran diri, atasan yang kebetulan juga seorang wanita dan seorang Ibu rumahtangga menuturkan kisah yang tidak jauh berbeda dengan apa yang saat ini terjadi denganku. Keputusan yang diambil beliau sama dengan yang aku ambil saat ini. Malah saat itu beliau berada dalam kondisi yang jauh lebih memprihatinkan. Seharusnya pilihan karirnya menjadi sesuatu yang urgent.  Tapi itulah yang terjadi. Selalu ada pengganti yang jauh lebih baik  (bahkan diluar daya nalar manusia) untuk sesuatu yang telah kita korbankan dengan penuh keikhlasan. Terdengar seperti mitos. Tapi tak jarang banyak yang sudah mengalaminya. 
Terakhir, secara implisit, beliau menawarkanku untuk kembali kapanpun aku mau. 

Begitulah sedikit cerita dan pemikiran yang bisa kubagi. Sedikitpun aku tidak menyesal atas keputusan mengawali karir kemarin dan harus mengakhirinya secepat ini (setidaknya saat ini). Dan keseharian yang kujalani sekarang kembai pada rutinitas sebelumnya, dengan sedikit perubahan tentunya. Harapanku tidak muluk. Hanya sebuah keharmonisan, kesuksesan, kesejahteraan, dan rasa nyaman yang langgeng secara generate,bukan dalam bingkai parsialitas individu yang tinggal dalam satu atap. 

Aku mencintai keluarga kecilku melebihi kecintaanku pada karirku saat ini.



                                                                                      *** 

Senin, 03 Oktober 2011

Catatan trimester kedua

Anakku sayang...
Usiamu belum menginjak hitungan setengah tahun dalam rahimku, namun kehadiranmu membuat kami-ibumu&ayahmu-merasakan kebahagiaan yang seolah bertahun-tahun lamanya

Anakku sayang…
Wujudmu belum terbentuk sempurna, namun wajahmu, suaramu, jemari mungilmu, sudah menari-nari indah dipelupuk benak imajinasiku

Anakku sayang…
Besar lingkar kepalamu mungkin belum memenuhi kepalan tanganku, namun kehadiranmu telah membuatku berbangga hati  akan sebuah konsekuensi kodrat Ilahi pada perubahan anatomis tubuhku

Anakku sayang…
Kelahiranmu baru akan menyentuh separuh berjalan masa penantian,namun segala persiapan menyambutmu telah mendahului waktu yang rasanya begitu lambat berjalan

Anakku sayang,
Kamu memang masih begitu kecil, irama indah dari denyut jantungmu pun belum  kurasakan dengan jelas, namun…..keberadaanmu mempengaruhi tujuan hidup dan segala keputusan kami-orangtuamu- di segala sisi kehidupan. Membuat kami makin mantap memacu haluan dan semakin berhati-hati dalam menentukan arah berlayar

Anakku sayang…
Teruslah tumbuh sehat dan sempurna dalam dekap rahimku…dalam peluk rahmanku….

Anakku sayang…
Kelak saat tiba waktu kita bertemu, pilihlah jalan yang mudah bagimu, jalan yang tidak menyulitkan tubuh mungilmu...

Anakku sayang…
Setelah kau hadir nanti, tumbuhlah jadi anak yang shaleh, takut akan Tuhan, mencintai ilmu yang bermanfaat…

Anakku sayang...
Titip pesan kami -orangtuamu- pada malaikat disekelilingmu, agar senantiasa menjagamu, menemanimu, serta melindungimu selalu 

Anakku sayang....
Satu hal yang perlu kamu tahu...bahwa kami sangat menyayangimu...



Jumat, 26 Agustus 2011

Episode Lebaran kali ini

Ragaku disini, tp pikiranku sebenernya sudah di Bakaru. Loh,koq  Bakaru? 
Iya...soalnya lebaran x ni kami tidak mudik lantaran kondisi kandunganku yang terbilang rawan. Libur yang terhitung hanya seminggu dikhawatirkan malah buat kondisi fisik kelelahan. Begitu pesan ortuku dan mertuaku yang begitu mendambakan kehadiran sang cucu. 
Alhasil, serbuan paket berisi kue-kue, kemplang krupuk sampe rendang dan bumbu opor datang dari mama dan ibuk. (Jadi serasa mau mengungsi ke pedalaman akibat perang dunia. hahaha)  

Okelah. Lagipula sejak awal kehamilan hasratku menghirup udara segar dan menikmati suasana tenang disana terus menggenapi kerinduanku akan Bakaru.

"Abis hujan lagi."
Begitu bbm (blackberry messenger) suamiku tadi pagi. 
"Aku kangen suasana disana. Aku kangen bau rerumputan yang habis diguyur hujan. Aku kangen kabut yang setiap pagi bergelayut indah di kaki-kaki bukit yang menjadi pagar tembok-tembok pembangkit, DAM, serta menjadi atap rumah-rumah dinas perusahaan."

Kabarnya lebaran kali ini sang pimpinan baru tidak mudik ke kampung halamannya di Jawa. Alamat bakal ada open house de es be. Bisa dibilang sejak malam takbiran sampe hari ke-2 lebaran diprediksi penuh agenda seremoni, apalagi kalo bukan serupa kumpul-kumpul keluarga karyawan serta makan-makan.
Hhmm...sudah tersusun rapi dikepalaku aku bakalan ngumpet dirumah kalo ada panggilan kumpul untuk para istri. hihihi *akalBulus



 *Selamat Lebaran Temans...Selamat berkumpul dengan keluarga. Maaf lahir bathin yah ^^ *
 


Rabu, 10 Agustus 2011

Obrolan satu hati

Mama: “Nak,bentar lagi mau masuk bulan ramadhan. Nanti kita puasa ya..kamu jangan bikin mama mabok nanti ya…yang kuat ya nak…

Anak:”Tapi kan umurku belum tiga bulan Ma…nanti makananku gimana?kalo mama muntah gimana?

Mama:”Kan ada susu. Nanti mama tetep minum susu koq pas sahur sama buka. Trus biar mama masih mabok nasi, mama bisa makan roti atau kue-kue…”

Anak:”Trus gimana dengan badanku yang baru mau terbentuk Ma?Mataku;kepalaku;pipiku;tanganku?”

Mama:”Gak apa-apa,nak…Allah maha pemberi segalanya…InsyaAllah walau mama puasa,makananmu tetap dipenuhi Allah koq…Lagipula di bulan ini segala ibadah kita dilipatgandakan Allah Nak…”

Anak:”Tapi bukankah puasanya diperbolehkan Allah diganti dilain hari ketika aku sudah lahir Ma?Bukankah juga walau tidak berpuasa setiap ibadah mama tetap dihitung Allah sama seperti orang yang berpuasa?”

Mama:”Iya nak…tapi sayang nak…ini bulan ramadhan…satu kali setahun…nanti hutang puasa mama terlalu banyak kalo tidak puasa selama satu bulan….Sekalian kamu belajar berpuasa ya sayang…”

Anak:”….tapi aku belum sanggup berpuasa,Ma…aku masih butuh tenaga yang banyak untuk membentuk bagian-bagian tubuhku…” *mulai berkaca-kaca

Mama:”InsyaAllah nanti Allah yang memberikan kekuatan pada kamu ya Sayang…”

Anak:”Tapi kan Allah memperbolehkan mama tidak puasa selama aku baru terbentuk?” Trus bagaimana dengan mual dan muntah mama?*airmataMulaiMeleleh

Mama:”Iya Nak…tapi kan repot sekali kalo mama harus mengganti puasa dilain hari…belum lagi mama tahun depan kan InsyaAllah masih menyusuimu. Masak mama harus hutang puasa lagi? Soal mual dan muntah, mungkin itu akan berkurang karena makanan dan minuman yg masuk ke mulut mama selama puasa berkurang juga?” 

Anak:”Tapi Ma…saat-saat ini aku sangat butuh bantuan Mama…aku belum bisa makan sendiri…dan aku belum sanggup berpuasa Ma…”

Mama: *bimbang

Anak: #Maafin aku mama...selama aku berusaha keras membentuk tiap bagian tubuhku di awal-awal ini, mama akan terus merasakan mual...Aku janji akan terbentuk dengan sehat dan sempurna#


***




Selasa, 26 Juli 2011

A Gift from Heaven

Aku dan suami sedang bahagia2nya.

Beberapa minggu lalu aku dinyatakan postif hamil.
Sumringah; bahagia; dan tema pembicaraan dengan suami selaluuu gak jauh-jauh soal si jabang bayi.
Terbayang sudah hari-hari yang InsyaAllah akan dipenuhi tangisannya, tawanya dan perkembangannya yang selalu membuat rindu. 
dan seperti rata-rata wanita hamil muda, akupun merasakan mual, eneg, dan segala tetek-bengek yang berkaitan dengan trimester pertama. 
Alhasil, dua hari absen ngantor.
Orangtua, kerabat, dan sahabat banyak memberikan ucapan selamat dan pesan nasihat akan kehamilan pertamaku ini. Subhanallah...terimakasih yang tak terhingga kusampaikan untuk mereka.

Permintaan khususku adalah: Semoga calon bayi ku tumbuh dengan sehat, sempurna fisik dan rupanya, serta kelak dihembuskan ruh yang mulia padanya. 
dan semoga pula aku dapat mengandung dengan sehat, melahirkan dengan selamat. Amin Yaa Robbal'alamiin  ^^


***


*Terimakasih Allah atas semua harapan yang satu per-satu telah Engkau perkenankan -salah satu nya kehadiran jabang bayi pada saat yang direncanakan-

Selasa, 05 Juli 2011

Seliweran


Belakangan mulai terbesit keinginan untuk beralih profesi jadi pengajar. Asik kali yah punya waktu yang fleksibel dirumah, sambil tetap bisa menghandle segala pernak-pernik rumahtangga setiap hari...?? hehe...
Idealnya begitu: ketika suami sibuk berjibaku dengan rutinitas kantoran, seorang istri punya karir dengan quantity time yang lebih fleksibel. Dengan begitu, harapannya quality time dalam keluarga bisa tercipta.

Ya ya...itu idealnya. Tapi dalam menjalani kehidupan rumahtangga pasti masing-masing dari kita dibenturkan oleh pilihan jalan yang berbeda-beda bukan? dan tentunya setiap pilihan yang kita jalani tentu dengan alasan yang terbaik bagi masing-masing kita. Setiap orang juga punya cara untuk menciptakan quality time dalam keluarga mereka. Oleh karena itu, dalam tulisan kali ini aku gak bermaksud menjustifikasi teman-teman yang sudah memiliki karir sebagai orang kantoran loh...(karena akupun sekarang masih resmi berstatus sbg orang kantoran. hehehe). Tapi ini hanya sebatas ide seliweran yang entah besok terwujud atau tidak??hahaha

Kembali lagi. 
Kalopun niatan untuk jadi pengajar itu besok akan terealisasi, langkah pertama yang perlu dipersiapkan adalah pendidikan. Yup! I have to take my master college.  hhmmm...untuk yang satu ini sempat terfikir ngambil sekolah bisnis. hihihi...Bukannya bosan dengan ilmu accounting, tapi kupikir keren aja kalo aku memahami ilmu bisnis secara keseluruhan. hihihi. 
Yah...pengen aja sih bisa belajar ilmu marketing, atau bahkan human resources. Karena menurutku, suksesnya berjalan suatu bisnis adalah kombinasi dari setiap ilmu bisnis yang ada. Tidak ada yang paling baik. Dengan begitu, diharapkan pemahaman bisnis ku makin komplit! wah..wah...hehehe..

Lagi-lagi: keinginan itu baru sebatas ide seliweran aja. Namun bukan mustahil jika besok akan aku realisasikan. Sangat musykil juga jika besok yang terjadi adalah berbeda dari yang pernah aku fikirkan saat ini.
Satu yang pasti: Everybody is changing. Perjalanan hidup manusia menuntun perubahan ber tahap dalam kehidupan masing-masing. Dan setiap dari diri kita berhak memiliki banyak rencana serta impian yang baik, demi kehidupan yang semakin berkualitas. 

So, terus berpositive thinking dan berpositive feeling! ^^



 



“Ketika kau sudah mendapatkan apa yang kebanyakan orang harapkan, apa tak pantas lalu kau mengejar apa yang kau impikan?. Dan ketika kau masih sibuk berjuang meraih impianmu itu, apa itu sebagai wujud bahwa kau orang yang tak pandai bersyukur atas kenikmatan yang telah kau dapatkan? Lantas, ketika kau memilih diam dan menikmati apa yang banyak di ingini banyak orang tersebut, apa tidak ironis jika kau disebut sebagai manusia yang tidak pernah merasakan tantangan dalam hidup? Bukan manusia yang memiliki kisah hidup yang patut dijadikan tauladan, karena kau memang terlahir untuk menikmati segala yang banyak orang ingin nikmati tanpa perlu bersusah payah…??”
Begitu tidak adil nya kah Tuhan yang telah memilah-milih makhluk-Nya untuk sekadar menikmati takdir yang (lagi-lagi) kebanyakan orang mengatakannya sebagai suatu kenikmatan, lantas membiarkan beberapa golongan lain harus mengejar kenikmatan tersebut dengan berpeluh payah?
Apakah kenikmatan dan harapan kebanyakan orang tersebut didefenisikan sebatas materi? Terbatas pada tumpukan aset serta garis keturunan yang mumpuni?
Sungguh, segala ilmu yang dimilki sepatutnya kelak akan dipertanggungjawabkan. Darimana kau dapatkan? ; untuk apa kau pergunakan?, bukan semata menyoal tentang seberapa pundi yang mampu kau timbun dengan ilmu mu itu, atau seberapa banyak perhiasan yang kau simpan untuk anak-cucu mu nanti…
Ketika kau melukis sketsa impian mu dari sisi yang berbeda, kelak kenikmatan serta apa yang kebanyakan orang harapkan itu juga akan kau rasakan. Percayalah.
Bukankan Tuhan Maha Adil dan tidak pernah membeda-bedakan hamba-Nya?”  



Rabu, 04 Mei 2011

Konyol

April sudah berlalu. Ujung April kemarin aku dirundung aneka penyakit. Terakhir permasalahan pada siklus haid yang tidak teratur. Sebenarnya haid tidak teratur bukan hal baru bagiku. Aku pernah mengalaminya waktu penghujung masa sekolahku di Jogja lalu. Tapi jika siklus haidku kali ini berlangsung pada interval hitungan minggu,dengan durasi yang singkat (dua – tiga hari), bukankah sesuatu yang mencurigakan? 

Pertama kalinya aku memberanikan diri ke dokter kandungan yang katanya cukup populer dikota ini.
Surprised. Ternyata metode pemeriksaan  bagian “dalam” untuk seorang wanita yang sudah menikah berbeda dengan wanita yang belum menikah.  And you know, sesuatu yang konyol terjadi padaku: Aku berteriak! Hahaha.  Aku meminta suami disebelah menemaniku. Kelakuanku mengalahkan wanita yang hendak melahirkan. Berkeringat dingin, tegang. Pemeriksaan dilakukan berkali-kali karena beberapa kali juga gagal. Hahaha. Sungguh memalukan. 

Lepas pemeriksaanpun aku masih berkeringat dingin.  Apa yang dijelaskan dokter tidak dapat kucerna dengan baik. Yang bisa kutangkap hanyalah bahwa “aku baik-baik saja”. Aman.  
Alhamdulillah…

Sungguh konyol.
Bagaimana ketika melahirkan? Itu belum apa-apa. Sungguh…
Abis pemeriksaan, aku tiba-tiba kangen mama.  Ngobrol dengan mama sedikit bisa melepaskan keteganganku :)




Jumat, 25 Maret 2011

Miss you

Lately i miss a baby so much...
So i wish that i could be a mom in this year.
I keep my healthy better...keep my food well, and do many related things.

Now, my priority isn't only on career. What a baby cry is the best moment ever we miss both.
Thanks God permitted me have my own career, but as a women, be a mom is the most beautiful dream that can't be replaced by.

I believe God holds my pray on...and will turn it into a real...if i believe in always...

I will...
and i always wish...^^

***

Selasa, 22 Februari 2011

MySelf


Here I am now…
Come to the back side of hills. Surrounded by thousand of trees and misty air…


Bakaru.
…dan aku kembali kesini. Yuhuuu! ^^
Disini aku (dan siapapun yang datang) bisa bernafas (seperti) tak terputus. Disini kau akan mendapati suasana yang tenang dan jauh dari kebisingan…jauh dari polusi…dan tentunya jauh dari hiruk-pikuk yang melelahkan. Hihihi

Malu hati rasanya tiap kali aku tidak bisa meng up date blog dengan kontinyu. Rasanya begitu banyak manusia sibuk di planet ini yang masih sempat menulis meski jatah waktu yang diberikan Tuhan tetaplah 24 jam dalam sehari.
Artinya, itu adalah perkara manajemen waktu saja. Yah…dan ternyata aku masih perlu menata waktu ku agar lebih optimal. J
Kemarin aku sempat melalui perjalanan yang cukup melelahkan: Palembang – Magetan – Jogja – Makassar.
Perjalanan ke Magetan adalah dalam rangka menghadiri pernikahan kakak iparku. Perjalanan ke Jogja (yg hanya dilampaui beberapa hari) adalah dalam rangka menjalani sedikit urusan keluarga (sekaligus) urusan bisnis dengan sahabatnya suami (yang kini jadi sahabatku). :D
Banyak cerita serta gambar yang berhasil aku abadikan selama dalam perjalanan. Namun sayang sepertinya belum bisa ditampilkan sekarang. InsyaAllah akan aku ceritakan di lain episode yah…hehehe.

Keberadaanku di Bakaru kali ini hanya satu minggu saja. Karena tepat awal Maret nanti InsyaAllah aku mulai bekerja di sebuah Kantor Akuntan Publik (KAP) di kota Makassar. Meski bukan tergolong the big four, namun aku boleh berbangga hati karena KAP ini termasuk KAP ‘berusia tua’ dan (pastinya) telah teregistrasi, serta berkantor pusat di Jakarta. Tentu sangat banyak ilmu yang akan aku dapatkan disini. Harapanku, semoga aku bisa beradaptasi dengan cepat dan baik.

Di atas alasan itu semua, kebahagiaan terbesarku adalah jarak domisili-ku dengan suami yang kelak tidak terlalu jauh. Masih dalam jangkauan satu pulau. Itu artinya besok-besok suamiku masuk dalam klub “suami yang pulang setiap sabtu”. Hahaha… Satu hal yang belum aku ceritakan: Disini (Bakaru) adalah lumrah jika beberapa para suami yang ditinggal istri di Makassar pulang setiap hari Sabtu. Mereka akan bergerombol berangkat bersama, dan kembali ke Bakaru juga bersama-sama. Hihihi

Begitulah perihal atas sekelumit ceritaku. Aku memilih mengawali karir di Makassar. Bukan di Jogja, Jakarta,ataupun tanah kelahiranku sendiri. Aku memilih kota ini (read:Makassar) karena aku sepenuhnya sadar bahwa pernikahan adalah berbicara tentang “kita/kami” , bukan berbicara tentang “Aku” (lagi)…
Aku memilih kota ini karena aku terus menabur asa dan harapan akan kesempurnaan kehidupan rumahtanggaku kelak…(sama seperti kalian)
Aku memilih kota ini karena itu adalah jawaban yang terbaik atas banyaknya pilihan indah yang terbentang dihadapanku.

Aku memilih kota ini karena (mungkin saja) ini adalah langkah awal atas jawaban Tuhan tentang asa-ku untuk bisa menapaki bidang kerja yang pernah aku impikan. J

Juga, aku memilih kota ini, adalah karena sepenuhnya kesadaran dan pilihanku.
Dan yang pasti, aku memilih kota ini, karena Tuhan telah “memilihkannya” untukku (saat ini)  ^^


Makassar…come to me…!!! 
Bismillahirrohmanirrohim…^^

Jumat, 31 Desember 2010

HappY New Year! ^^

Salah satu euforia setiap kali menjelang tahun baru: Resolusi! :D
Sebagai manusia muda yang masih penuh ambisi (wakakakak), tentunya aku juga sama seperti yang lain, yaitu punya resolusi. Tapi biarlah resolusi itu cukup menjadi cacatan pribadiku bersama suamiku tentunya. ^_~ 
Dibanding berbicara panjang lebar soal resolusi, aku lebih tertarik bicara soal introspeksi serta refleksi di tahun sebelumnya. Lebih nyata dan dapat dibaca melalui rangkaian peristiwa yang telah dilalui. :D

Ada dua pencapaian: Yang dapat diukur dengan kasat mata, serta yang tidak dapat diukur dengan kasat mata.
Well, mari kita bicarakan sesuatu yang kasat mata:
Tahun 2010 adalah tahun perubahan besar dalam hidupku. Diawali dengan gerbang pernikahan, maka satu-per satu rangkaian cerita serta tujuan hidupku berubah. Tanpa aku sadar begitu banyak limpahan rizqi yang Allah berikan padaku,pada kehidupan keluarga kecilku. 
Alhamdulillah. Aku menikah dengan seorang pria yang sangat bijaksana untuk ukuran seusianya. Seorang partner yang mampu berjalan di atas tawa dan airmataku. Seorang yang hatinya dipenuhi keikhlasan serta ketulusan. Begitupun sama dengan mertua dan kakak iparku.Sulit kupercaya rasanya, karena pernikahan di tahun 2010 awalnya bukan menjadi mimpiku. Aku yang saat itu masih berambisi mengejar target-target serta cita-cita pribadi, mau tidak mau harus bisa berkompromi pada ego-ku ketika seorang pria baik yang berasal dari keluarga baik-baik, datang dengan cara yang baik untuk meminangku. Aku jatuh hati padanya. Walau egoku saat itu begitu kuat untuk mengingkarinya. Suara hati kecil memang tidak pernah salah. Setelah melalui rangkaian do'a, aku mantap menerima 'tawaran' Tuhan padaku. 
Yah, itulah anugerah pertama di awal tahun 2010 dari Allah untukku yang tak ternilai dengan apapun.

Dalam hal pendidikan, tidak lama berselang bulan pernikahanku, Alhamdulillah aku resmi memperoleh nomor register sebuah profesi atas pendidikan yang kurang-lebih sudah aku jalani satu tahun sebelumnya. Selembar legalitas yang kelak kuharapkan dapat menjadi modal untuk berkarya sebagaimana mestinya. Legalitas hitam di atas putih yang mana begitu besar harapanku akan-nya dikemudian hari. Ini  bukan sebuah mimpi. Ini harapan realistis yang hanya menunggu waktu. :)

Tahun 2010 pula adalah awal aku belajar menjadi (jika tidak terlalu berlebihan kukatakan) pengusaha. Adakah kata yang lebih membumi?karena setiap ditanya aku lebih sreg bilang "kesibukan" daripada "bisnis/usaha". :D 
Lucu juga. Belakangan tawaran kesempatan usaha bertubi-tubi datang. Mungkin dilihat aku pengangguran kali yah?makanya difikir manatau aku bisa di ajak joint?! hahaha. Tapi tawaran tersebut tidak lantas aku terima semua. Aku juga memikirkan chance serta kemampuanku. Baik kemampuanku mengelolanya kelak, juga kemampuan financialku. Bersama suami, solusi yang kupilih adalah menerima tawaran serta menjalankan jenis usaha yang bervariatif tingkat modal, serta risikonya. Aku juga melakukan variasi sumber modal dalam mendanai usahaku tersebut. Jika bisa melalui danaku sendiri dan tidak memberatkan suami, maka pilihan itu yang akan aku ambil dalam menjalankan usaha-usaha tersebut. :) 

Anugerah lain adalah pada karir suamiku.
Jika tidak ada aral melintang, InsyaAllah tahun depan suamiku akan mengemban suatu amanah baru ditempatnya bekerja. Secara awam orang akan berkata itu adalah sebuah "rejeki". Tapi aku prefer mengatakannya suatu tanggungjawab baru. 
Aku tidak akan bercerita lebih lanjut karena eksekusi belum berjalan. Lagipula itu adalah ranah pribadinya (means:suamiku), dan dialah yang berhak bercerita lebih panjang-lebar (jika itu sangat perlu untuk diceritakan). :D

Begitulah sekilas ceritaku di tahun 2010 masehi. Jangan berfikir bahwa apa yang kujalani itu sempurna tanpa cacat cela, teman...
Aku menjalaninya juga sama seperti perjalanan kalian: ada airmata, amarah, kebimbangan, kebencian yang kadang mendekam lama, rasa pesimis, merasa disudutkan, dsb.
Tapi itu semua berimbang dengan kebahagiaan dan tawa yang tak jarang turut melingkupi perjalanan hidupku. Saat dimana aku merasa dipeluk oleh Dewi Fortuna. Merasa begitu dalam keberuntungan.
Begitulah aku teman. Sama seperti perjalanan yang kalian rasakan. Percayalah.  :)

Karenanya jangan pernah menyerah. Nikmati setiap cita-cita serta ambisi yang membara dalam jiwa kalian, selagi itu masih ada. Jalani itu sebagai anugerah karena rasa itu adalah fitrah Tuhan bagi hambaNya. Begitupun pahit dan sedihnya. Terima dan jalani sebagai rangkaian menuju kebahagiaan. Jalani dengan  hati ikhlas tanpa melukai dan menyakiti sesama...(Semoga aku bisa. Kalian juga.)
Tuhan bersama denyut nadi kita. DIA Maha melihat apa yang kita sembunyikan dan rasakan...
Selamat membuat resolusi 2011! ^^