Tampilkan postingan dengan label MyFamily. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MyFamily. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Agustus 2012

Lebaran = Vacation

Lebaran kali ini cukup menguras energi. Keluarga besar Bp.Abdullah kumpul tumplek dirumah sejak H-7 hari raya. Kecuali suami. Dia baru menyusul beberapa hari kemudian. Seru. Rame. 
Bisa dibayangkan papa dengan lima anak yang dua orang diantaranya sudah menikah. Lima anak ditambah tiga cucu, dua menantu. 
Alhasil rencana vacation ke desa yang sudah direncanakan sebelum lebaran terlaksana. Desa yang dipilih Pagaralam yang berjarak kurang-lebih 200KM dari pusat kota Palembang dengan jarak tempuh sekitar delapan jam.
Wisata alam yang terkenal di Pagaralam adalah Gunung Dempo dan Kebun teh. So,musim holiday gini gak heran aja kalau lalulintas menuju ke arah sana trafic banget. Termasuk penginapan.
Awalnya kami sempat berencana langsung menginap di Pagaralam. Tapi karena kami membawa anggota ter-imut (Ghaizan), akhirnya diputuskan menginap di kabupaten Lahat yang berjarak tempuh sekitar lima jam dari Palembang untuk istirahat dulu.
Alhamdulillah disini kami bisa mendapatkan penginapan. Tapi jangan tanya masalah kenyamanan. Saya sendiri sempat dibuat kecewa dengan pelayanan yang gak ramah dan "seadanya". Untuk ukuran standar (yang katanya banyak artis sama pejabat yang pernah menginap disini) bisa dibilang jauh dan tidak sebanding dengan harga yang harus dibayar. Tapi pada intinya sih yang penting ada tempat untuk istirahat. Dengan begitu hanya butuh waktu sekitar tiga jam lagi untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.  

Besoknya perjalanan kami lanjutkan ke Pagaralam. Seperti biasa, yang namanya jalan segerombolan pasti adaaa aja yang bikin schedule molor se-molor2nya. Niat awal berangkat subuh jadi ngaret berangkat jam 09.00 WIB. Alhasil boro-boro berharap bisa menikmati kabut dipuncak kebun teh, yang ada kami sempat terjebak macet mengular begitu sampe di lokasi.
Karena merasa hari pertama mengecewakan, kami putuskan untuk bermalam lagi satu malam, dan kali ini pastinya memilih bermalam di Pagaralam. Karena penginapan di area wisata masih penuh, kami memilih menginap di hotel Darma Karya yang letaknya beberapa kilo diluar area wisata.

Besoknya perjalanan sedikit lebih pagi. Kami berangkat ke lokasi wisata pukul 08.00 WIB setelah sebelumnya sarapan di penginapan dan membeli oleh-oleh kopi luwak yang se-benar benarnya (bukan abal-abal alias instan).Dan perjalanan kali ini lebih memuaskan karena kita tidak terjebak macet sehingga cita-cita untuk menikmati segarnya udara puncak tertingi kebun teh bisa terealisasi.

Untuk catatan kali ini, ada dua kejadian lucu dan seru yang kami alami selama perjalanan. Kejadian pertama saat kami terjebak macet mengular waktu arus balik hari pertama di objek wisata . Papa saya sempat menjadi "polantas dadakan" lantaran jalur yang tiba-tiba trafic luar biasa. Tau sendiri lah lebar jalan di tempat wisata serupa pegunungan begitu seberapa luas sih? Jalur yang idealnya dipakai untuk satu jalur dipaksakan untuk dua jalur. Alhasil masing-masing kendaraan yang saat itu didominasi motor, gak ada yang mau mengalah. Lebih dari setengah jam celingak-celinguk gak satupun polisi yg mengatur. Jadilah si papa turun tangan. Lumayan membantu loh. Dengan dibantu dua orang bapak pengemudi kendaraan lain yang ikutan mengamankan juga akhirnya trafic bisa sadikit teratasi. hahaha

Kejadian kedua di hari kedua waktu kami menuju puncak kebun teh. Ada momen dimana kami sengaja singgah di dekat lokasi rumah penduduk. Rencananya sih mau sesi foto-foto. Belum ada jepretan petama tiba-tiba muncul wanita paruh baya yang sepertinya mengalami keterbelakang mental. Bukan masalah keterbelakangan mentalnya yang jadi objek tertawaan, melainkan ketika saya yang ketakutan terbirit-birit masuk ke mobil sewaktu wanita paruh baya tersebut minta bersalaman dengan saya sehabis diberi papa saya uang. Spontan saya ngacir waktu si ibu tsb tiba-tiba mengulurkan tangan. Dan ini adalah kedua kalinya saya mengalamai hal serupa setelah sebelumnya kejadian serupa saya alami waktu masih SMA. hahaha

Begitulah kisah lebaran kali ini. Dicatat,ditulis dengan terburu-buru sembari mengasuh Ghaizan yang semakin lincah dan makin kenal indungnya. #fiuuhh#. So, foto-foto menyusul yaahh...




Sabtu, 03 Maret 2012

My new life

Tanggal 23 Februari 2012 adalah salah satu tanggal bersejarah dalam kehidupan saya dan suami. Bagaimana tidak, pada tanggal tersebut buah hati tercinta kami terlahir ke dunia. 
Sebenarnya meleset dari tanggal prediksi kelahiran, 12 Maret 2012. Makanya ketika tanda-tanda kelahiran muncul, persiapan menyambut sang buah hati sebenarnya belum total 100%. 

Masih ingat sekali, waktu itu saya baru pulang dari pasar tradisional bersama mama sekitar pukul 14.00 WIB. Sebenarnya perjalanan tidak terlalu berat karena sebatas membeli makanan kembang tahu. Itupun saya dan mama langsung diantar sopir rumah sampai ke tempat mangkal nya "mamang" penjual kembang tahu. Perjalanan sebelumnya hanya ke bank dan toko pempek. 
Tidak terlalu melelahkan kalau dipikir-pikir untuk ukuran perjalanan "orang normal". Tapi entah kenapa waktu itu saya merasakan lelah yang teramat sangat. Akhirnya rencanan perjalanan selanjutnya ke penjahit langganan dibatalkan. 

Sampai dirumah, karena kondisi cuaca yang saat itu terasa amat sangat terik, saya segera mandi. Belum selesai mandi, shower dikamar mandi mati, AC dirumah semua tiba-tiba mati, tapi lampu tetap menyala.
Berhubung saat itu dirumah cuma ada saya dan mama, mau tidak mau rencana tidur setelah mandi terpaksa ditunda karena saya sibuk mengurus shower dan AC yang macet.  Mulai dari mengontak teknisi di kompleks sampai menunggui teknisi bekerja.

Akhirnya pekerjaan teknisi rampung sekitar pukul 17.00 WIB. Karena rasa lelah yang makin teramat sangat, saya pun tertidur. Menjelang maghrib saya terbangun. Sekitar pukul 19.30 WIB saya berencana shalat isya.
Begitu hendak shalat, saya merasa ada yang merembes dari 'bawah'.  Segera saya telfon dokter kandungan saya. tapi tidak aktif. Kemudian saya telfon salah satu bidan di rumahsakit langganan saya periksa (Hermina Palembang). Saya diminta untuk segera datang kesana untuk periksa dalam.

Bisa ditebak, air ketuban saya bocor duluan, tapi belum sampai pecah. Akhirnya saya diminta untuk tetap berbaring sembari menunggu proses bukaan yang terus berjalan.
Alhamdulillah proses bukaan saya tergolong cepat. Menjelang subuh pembukaan  sudah lengkap dan saya melahirkan anak kami dengan proses normal. Alhamdulillah (lagi) anak saya tidak sampai tertelan air ketuban.

Dalam kondisi yang lelah teramat sangat, saya bisa melihat dengan jelas bayi saya dibersihkan, lalu diletakkan di atas dada saya untuk menjalankan proses Inisiasi Menyusui Dini. Sampai sekarang masih terasa sekali hangatnya tubuhnya dan rengek'an suaranya ketika diletakkan di atas dada saya. 
Subhanallah Alhamdulillahirobbil'alamin....
Rasa syukur yang tak terkira. Meski selama proses melahirkan saya tidak bisa ditemani suami (karena suami masih dalam perjalanan), tapi ada mama yang selalu menemani saya. Trimakasih mama. Baru saya merasakan bagaimana pengorbanan seorang ibu....
Atas rasa syukur, bayi kami tercinta kami namai "Radinanda Ghaizani Abrar". Radinanda diambil dari kepanjangan nama "Ria And haDI ANANDA, jika dibalik jadi ananda-nya Ria dan Hadi (hihihi, maksa yah?), Ghaizani (bahasa Arab) yang berarti muda rupawan. Abrar ((Bahasa Arab) yang artinya golongan orang yang berbuat kebajikan (beramal shaleh). Jadi jika ditarik kesimpulan, kami berharap kelak anak kami akan tumbuh jadi anak yang rupawan (wajah dan hatinya), serta masuk sebagai golongan orang yang senantiasa beramal shaleh. Aaamiin Yaa Robbal'alamiiin.


Ghaizan

Selalu tumbuh sehat ya nak...Smg Allah SWT senantiasa merahmati kehidupanmu di dunia...dan menyelamatkan kehidupanmu di akherat kelak...Aaamin Yaa Robbal'alamiiin.






Senin, 02 Januari 2012

Trimester ke-3

Sejak hamil suamiku bilang aku terlihat selalu ceria. "Enjoy bawaannya", begitu katanya. "Masak sih?", komentarku tiap kali dia bikin statement yang buatku sedikit ge-er. 
Apa iya sejak hamil aku se-happy seperti yang terlihat oleh suamiku? hihihihi. Cukup sulit juga untuk dijawab jika pertanyaan tersebut tertuju langsung buatku. Tapi yang pasti sejak hamil dan memutuskan untuk jadi pengangguran, aktifitasku tidak jauh dari urusan domestik, televisi, beberapa novel serta buku seputar kehamilan, dan sesekali me-recharge otak dengan asupan buku-buku serta jurnal akuntansi-ekonomi. 

Selain itu kegemaran yang menonjol sejak aku hamil adalah memasak. Aku bisa hampir setiap minggu loh memasak menu kudapan yang berasal dari tanah kelahiranku atau tanah kelahiran suami. Mulai dari pempek, tekwan, mie godog jawa, sampai gudeg! hihihi. Tapi jangan ditanya soal merapihkan rumah dan mandi. Dua hal tersebut akan masuk dalam daftar terbawah rutinitasku. Sampai-sampai, untuk melipat selimut sehabis bangun tidur saja rasanya beraaaat banget. hahaha

Alhamdulillah suamiku sangat memahami. Tak jarang dia mengambil alih beberapa pekerjaan sepele (baca: melipat selimut begitu bangun tidur, menggantung handuk yang baru selesai dipakai mandi) yang seharusnya bisa kukerjakan dengan begitu entengnya. Kecuali urusan mandi, paling dia cuma bisa geleng-geleng kepala dan bilang "pasti belom mandi ya?" ketika disambut didepan pintu rumah setiap jam istirahat siang kantor tiba. hahaha

Begitulah kondisiku sejak hamil besar. Aku bisa ber jam-jam didepan televisi menonton habis dua sampai tiga tayangan HBO tanpa mandi; lebih suka menikmati suasana dirumah dengan segala rutinitas monotonnya tanpa harus banyak berpayah-payah menghadiri ramah-tamah diluar; lebih suka berkutat didepan novel,buku, atau majalah dibanding harus sering-sering anjangsana dengan para tetangga. 
Kalau bukan karena "momok kaki bengkak", mungkin tidak akan pernah ada ceritanya jalan pagi atau sore menelusuri kompleks sembari ber say-hello dengan beberapa warga yang dikenal. hahahaha.

Begitulah. 
Dan bulan ini Alhamdulillah memasuki bulan ke-tujuh kehamilanku. Sungguh tidak terasa. Rencananya aku akan melahirkan di Palembang. Pertimbangan melahirkan disana adalah agar aku punya sedikit waktu yang lebih banyak ditemani oleh mamaku yang notabene sudah berpengalaman terhadap urusan bayi beserta hal-hal ribet lainnya. Bukan bermaksud membebani orangtua dan menjadi manja, namun memegang kepala bayi yang masih sangat rapuh untuk pertama kalinya kupikir perlu bimbingan juga. Selain itu ketersediaan fasilitas melahirkan di kota diharapkan akan lebih mumpuni dan bervariasi. Yah beginilah nasib tinggal dibalik gunung...wkwkwkwk

Sedih jika keberadaanku di Palembang nanti artinya akan mengurangi frekuensi pertemuan dengan suamiku. Apalagi ketika bayi kami sudah lahir, mau tidak mau beberapa bulan kedepan kemungkinan besar aku akan merawat bayi kami tanpa ditemani suamiku. Walau jatah cuti anak lahir disediakan oleh kantor, namun pasti akan terasa sangat singkat sebelum akhirnya kami bisa kembali berkumpul bertiga.

Tak terbayang rasanya beberapa bulan menjelang kelahiran aku harus mandiri tanpa didampingi suami. Memang ada orangtua dan saudara, tapi pasti tetap akan berbeda. Tak terbayang juga rasanya beberapa bulan kedepan bayiku tidak dulu merasakan belaian dan ciuman papanya di hampir setiap pergerakannya, untaian doa dari papanya sebagai pengantar tidur, serta lantunan ayat al-qur'an yang dibacakan papanya di setiap ba'da maghrib. Aku dan bayiku pasti akan sangat merindukan itu semua.  
"Nanti kita sykpe-an yah?"  begitu komentar suamiku setiap tiba masa melow ku. Duh, serasa seolah-olah ditinggal suami pergi perang, dimana teknologi adalah satu-satunya harapan untuk bisa bertatap muka. hahahaha.

Resolusi 2012 dan seterusnya:
Semoga aku, suamiku, dan bayi kami selalu dianugerahi kesehatan. Semoga kehidupan rumahtangga yang penuh berkah dan keharmonisan selalu tercurah untuk kami. Semoga Allah SWT senantiasa memanjangkan usia kebersamaan kami di dunia, serta mengekalkannya di akherat kelak. Amin Ya Robbal'alamin.








Senin, 05 Desember 2011

Mama (k) Mayu

Dia dikenal dengan nama "mama (baca:mamak) Mayu". Usut punya usut pelekatan nama "Mayu" berasal dari nama anak sulungnya. Nama aslinya sampe sekarang aku gak tahu. Cuma ya begitulah..."Mama Mayu" sudah lengket penyebutannya dilidah para ibu-ibu dikompleks ini. 

Dia istri salah satu petugas Cleaning Service dikompleks ini. Perawakannya kecil (tidak jelas berapa usainya, tapi dugaanku mama Mayu belum menyentuh angka 40), tidak terlalu banyak bicara (setidaknya untuk ukuran para istri petugas cleaning yang terkadang berlebihan bersikap dan bicara menurutku.). 

Kabar dari suamiku sewaktu aku belum menikah dengannya, mama Mayu punya kemampuan membereskan rumah serta tetek-bengek lainnya dengan sangat rapih. Terutama untuk urusan setrikaan. Rapi jali sampe lipatan pakaian tak terlewatkan. Konon, katanya mama Mayu sempat bekerja menjadi salah satu tenaga kerja wanita di luar negeri.    

Sebenarnya mama Mayu pernah membantu suamiku ketika suamiku masih single. Cuma itu sebatas setrika (dan itupun selalu di "bonus" in olehnya dengan merapihkan rumah). "Saya kasian sama Mas Wahyu, mbak...rumahnya berantakan sekali kalo saya datang setrika. Jadi kalo saya setrika sekalian saya rapihkan saja...". Begitu ceritanya suatu hari. Yah....maklumlah...bujangan...hahaha

Pendek kata, sejak saya dan suami menikah, mamak Mayu resmi menjadi anggota baru seputar urusan domestik kami dirumah. Pekerjaannya rapih, telaten, tidak banyak bicara, dan penuh inisiatif.

Sewaktu saya pulang dari Jawa dua minggu yang lalu, saya sempat dibuat surprise dengan kondisi rumah yang begitu kinclong. Tidak hanya menyapu, mengepel, setrika, dan urusan sejenis lainnya yang biasa dikerjakannya, mamak Mayu juga merapihkan serta menata ulang beberapa pernak-pernik dan tetek-bengek di dapur sehingga terlihat begitu tertata rapih, bahkan gudang tempat tumpukan kardus pun ditata ulang sehingga  menjadi sangat bersih! hihihi

Memiliki rekanan begini siapapun pasti akan tidak segan mengeluarkan kocek yang sedikit diatas rata-rata sebagai imbalan. Bukan berarti sok tajir, namun wajar saja bila reward tetap harus diberlakukan pada jenis pekerjaan apapun, dan pada siapapun yang memang bekerja dengan hasil yang dapat memuaskan. 

Jadi berfikir, kalau suatu hari pindah, kira-kira bakal dapat PRT yang begini lagi gak yah?




*** 

Kamis, 17 November 2011

There's a choise

Setiap jenjang dalam fase kehidupan memiliki fokus utama. Ketika anak2,fokusnya adalah bermain. Ketika memasuki masa sekolah dan kuliah, fokusnya adalah pada belajar. Ketika memasuki masa bekerja, yg menjadi fokus adalah pencapaian karir.  Begitupun ketika memasuki masa pernikahan,fokus kita pun terletak pada keharmonisan dan keselarasan kehidupan rumahtangga yang tengah kita jalani.

Atas dasar itulah aku sekarang menjatuhkan pilihan untuk mendampingi suamiku yang saat ini masih berdinas di salah satu kabupaten di Pulau Sulawesi Selatan.  Karir yang sempat kumulai di Makassar,dengan penuh kesadaran aku tanggalkan dulu. Setidaknya untuk sesaat.

Aku tidak mengatakan bahwa ketika menikah karir adalah sesuatu yang sepele, justru jika karir yang kita miliki adalah sesuatu yang urgent bagi rumahtangga kita, maka karir menjadi salah satu bagian dari keharmonisan  dan keselarasan dalam rumahtangga yang tengah kita jalani. Begitupun ketika pilihan karir kita akan membawa pada ketidakharmonisan dan ketidakselarasan dalam rumahtangga, maka karir yg sedang kita pilih tsb (bisa jadi ) bukan menjadi sesuatu yang wajib untuk dipertahankan.  Saatnya untuk beralih pada karir yang lain atau (jika dalam situasi yang benar2 mendesak) adalah memilih (antara karir atau keutuhan rumahtangga).

Jangan salah faham juga. Ketidakharmonisan yang aku maksud disini bukan berarti kehidupan rumahtangga yang kujalani selama aku bekerja penuh dengan suasana “panas”.  Bukan itu. Sejauh ini Alhamdulillah kehidupan rumahtanggaku relatif adem ayem, dan kalopun ada perselisihan, itu sebatas kerikil kecil dalam kehidupan rumahtangga keluarga pada umumnya.  Ketidakharmonisan yang kumaksudkan adalah lebih pada kedalaman “rasa tidak nyaman” yang aku miliki. Well,mungkin sebagian ada yang berfikir bahwa itu hanya bawaan hamil yang merubah kondisi psikologisku jadi lebih sensitif. Aku tidak langsung menolak mentah-mentah pendapat tersebut.  So,aku sempat melakukan beberapa perhitungan diatas hitam-putih mengenai beberapa untung rugi  terkait keputusan yang akan kuambil,serta alternatif penggantinya. Tidak ada intervensi. Termasuk dari suamiku. 

Memang, awalnya berat meninggalkan karir yang baru seumur jagung dan penuh dengan embel-embel prospek masa depan pribadi yang menjulang.  Tapi itulah sebuah pilihan manusia dewasa. Pilihan antara dua kemauan yang awal mula dianggap sama pentingnya.  

Surprisingly, Ketika mengajukan pengunduran diri, atasan yang kebetulan juga seorang wanita dan seorang Ibu rumahtangga menuturkan kisah yang tidak jauh berbeda dengan apa yang saat ini terjadi denganku. Keputusan yang diambil beliau sama dengan yang aku ambil saat ini. Malah saat itu beliau berada dalam kondisi yang jauh lebih memprihatinkan. Seharusnya pilihan karirnya menjadi sesuatu yang urgent.  Tapi itulah yang terjadi. Selalu ada pengganti yang jauh lebih baik  (bahkan diluar daya nalar manusia) untuk sesuatu yang telah kita korbankan dengan penuh keikhlasan. Terdengar seperti mitos. Tapi tak jarang banyak yang sudah mengalaminya. 
Terakhir, secara implisit, beliau menawarkanku untuk kembali kapanpun aku mau. 

Begitulah sedikit cerita dan pemikiran yang bisa kubagi. Sedikitpun aku tidak menyesal atas keputusan mengawali karir kemarin dan harus mengakhirinya secepat ini (setidaknya saat ini). Dan keseharian yang kujalani sekarang kembai pada rutinitas sebelumnya, dengan sedikit perubahan tentunya. Harapanku tidak muluk. Hanya sebuah keharmonisan, kesuksesan, kesejahteraan, dan rasa nyaman yang langgeng secara generate,bukan dalam bingkai parsialitas individu yang tinggal dalam satu atap. 

Aku mencintai keluarga kecilku melebihi kecintaanku pada karirku saat ini.



                                                                                      *** 

Kamis, 02 Desember 2010

Welcome MyHectic December! :D

Diawali dengan kehebohan musim kawin. Konsekuensi hidup guyub dalam kekeluargaan.
Rumah dirapihkan lebih dari biasanya (prasaan udh rapih deh?) . Besok rencananya keluarga dari Jakarta mau bertandang disini. Bisa jadi sekalian menginap. Ada dua undangan pernikahan keluarga mama dalam waktu yang berdekatan. "Mereka itu waktu km nikah pada dateng semua". Iya deeeehhh....

Dugaan meleset. Pagi buta ternyata rombongan lain dari keluarga mama yang berdomisili di sebuah kabupaten provinsi ini tandang. Maksudnya sebagai tempat 'transit' sebelum ke tujuan utama. Mama koq gak cerita sih kalo pagi buta kita bakal kedatangan tamu?? 
Seiring itu si mama heboh berkemas mengejar penerbangan jam 09.00 wib
Bisa dibayangkan ujung-ujungnya kehebohan yang ditimpakan padaku hari ini dan besok? hehe
"Kita hadir pas pesta ya Kak. Aku mau berangkat ke Jakarta dulu. Keponakannya papa Ria (means papaku) kawin juga besok. Papa Ria sudah seminggu dinas di Jakarta sekalian ketempat keluarga yang ada acara. Besok kami sudah pulang." bercampur perasaan bersalah karena gak bisa menyambut keluarga dengan penuh & terpaksa di alihkan segala urusan padaku. Iya deeehhh....

Telp suami, telp keluarga Magetan, sms Icha, & sms beberapa teman direspon dengan konsentrasi sedikit terpecah-belah. "O...ultah ya hari ni?" :D
Sebuah tanggal yang sebenarnya gak usah di inget2 deh...Jadi berasa makin tua!hahaha. 
Senggang waktu sedikit, muncul ide iseng bin gak penting untuk mengaktifkan lagi wall jejaring sosial (hal sama pernah dilakukan thn kemarin :D). Tapi alasan kali ini bukan karena ingin mengukur 'kadar popularitas' (hahahaha!), semata-mata ingin menghargai teman-teman yang menganggap ucapan selamat ultah itu penting, tanpa harus sampai memenuhi private message-ku. (hehehe)

Surprise yang dimaksudkan oleh suami kali ini sampai lebih cepat dari waktu yang diinginkan. Otomatis ucapannya sampe duluan juga. :D *Kekeliruan yang terjadi setiap mau kasih kejutan berupa paket*
Sebuah gadget telekomunikasi yang tengah populer, dan sebenarnya bukan menjadi ketertarikanku. Oke..oke...saatnya menjadi 'gaul'! :D Walau sekarang belum tahu esensi penggunaannya, mungkin besok-besok bisa. :D

Harapan di tahun ini sama seperti harapan di tahun yang lalu, dan dengan sedikit revisi tentunya.




Kamis, 23 September 2010

Cerita Sore

Aku di diagnosis masuk angin dan kecapean oleh sang mama. 
Puncaknya hari ini.
Sudah beberapa pekan belakangan aku mengurusi keuangan bisnis ku & papa.
Karena usaha terbilang baru dan pas dimulai kemarin aku ada di Sulawesi, jd wajar saja kalau terkesan sangat ribet. Berdasarkan ilmu semasa di bangku kuliah, aku mencoba mengecek dan merapikan data2 sebelumnya, serta membuat format baru untuk kedepan.
Tidak puas, aku juga beberapa kali mencoba terjun langsung ke lapangan. 

Sebenarnya dari kecil aku memang terkenal punya body yang rentan penyakit. Artinya disini aku gampang sakit. Tapi Alhamdulillah sakitku sebatas penyakit2 "umum" seperti flu, masuk angin,pegel2. Pernah juga sih demam berdarah dan gejala typus waktu masih kecil. Wah, gak bisa dibilang penyakit ringan yah kl begitu??hahaha.
Namun atas itu semua, Alhamdulillah tidak butuh waktu yang lama untuk penyembuhannya. Selain (mungkin) jg karena usia yg relatif terbilang muda, apa mungkin karena "tempaan alam" juga yang menjadikan sensor tubuhku tergolong cepat melakukan penyesuaian yah?Cepat sakit--->cepat sembuh.Hahaha! 

Aku jadi teringat waktu masih kecil sering di ajak papa "traveling estafet".
Kita pernah berkelana dari mulai naik bus non-AC ---> kereta kelas ekonomi ---> kembali naik bus non-AC lagi--->nyebrang Gilimanuk dengan kapal penyeberangan. Bergerombol dengan banyak penumpang yang membawa lengkap sayur-mayur. Ngobrol dengan tukang panggul, bahkan saat di kereta aku pernah naksir-naksir an dengan salah satu anak petani yang hendak menempuh pendidikan di kota yg saat itu kebetulan duduk depan2an denganku! wakakakak.

Suatu ketika aku juga pernah di ajak suamiku untuk tidak di antar mobil kantor melainkan naik mobil umum menuju ke Makassar. Merasakan satu mobil bersama penduduk sekitar yang membawa kambing dalam kotak televisi 29 Inc sungguh hal yang tak kan pernah terlupakan!hehehe
Entah kenapa papaku paling hobi ngajak aku berkelana ala 'koboy' dibanding adik2ku yang lain. Kalo ditanya sih alasan beliau "Hidup itu harus bervariasi. Jangan cm tau enaknya aja." Trus gimana dengan adik2 yang lain? Kalo ditanya begitu jawabannya pasti udah ngalor-ngidul buat ngeles. :))

Suamiku juga (ternyata) tidak jauh berbeda. Sungguh 'bersahabat' dengan alam. Makanya alam akhirnya 'bersahabat' juga dengannya!hahaha. Jadilah dia sekarang dinas di daerah pegunungan yang lengkap dengan aliran air laut sebagai permadaninya. :D 

Waktu cuti lebaran di Palembang kemarin juga dia begitu antusias ngajak ke pasar pagi2 dengan jalan kaki! Padahal jarak antara pasar dengan kompleks ortu di Palembang bikin otot betis terasa membesar. "Kita ke pasar jalan aja, trus kalo capek pulangnya kita naek becak. Tapi pagi2 yah kita kesana. Tak jamin nanti pasti seger. Coba deh!" *rayuanpulaukelapa waktu itu*

Dibalik ngedumelku sebenarnya aku meng-amin-i ajakan2 tersebut. Toh 'melebur bersama situasi alam' adalah sesuatu yang tak kan tergantikan oleh apapun. Lebih sehat, lebih efisien pasti.
"Kita menjadi rakyat jelata hari ini", alias maksudnya "hari ini kita naek bus (tidak naek motor/kendaraan pribadi)" bahasanya aku & mba meidi waktu jaman kost2an dulu. hahaha. 

Sebuah kalimat sindiran untuk mengingatkan bahwa "jangan sok elite deh pantang naek kendaraan umum!" hihihihi. Cocok di padankan dengan kalimat papaku: "Hidup itu jangan cuma tau enaknya aja." :D

Senin, 20 September 2010

Lebaranku

Lebaran x ni bisa dibilang "lebaran keluarga". Walau melelahkan, tapi kami senang. Perjalanan Sulawesi-Magetan-Palembang-Lampung-Palembang terbayarkan dengan sambutan hangat, tawa serta oleh2 cerita dari keluarga. 

Alhamdulillah tahun ini diberi kesempatan oleh Allah untuk bersilaturahim dengan sanak famili. Tapi sayang, silaturahim dengan teman-teman dan sahabat kali ini terpaksa tertunda. Rencana kumpul-kumpul serta ketemuan seperti tahun2 sebelumnya dengan berat hati tidak bisa terlaksana pada lebaran kali ini karena kesulitan mencocokan jadwal. Maafkan aku teman-teman... :( Mudah2an lebaran tahun depan diberikan Allah kesempatan. InsyaAllah.

Tahun ini memang adalah tahun pertamaku berstatus sebagai seorang istri. Perkenalan dengan keluarga besar suami membawa kesan mendalam bagiku. Hal yang sama juga dirasa oleh suamiku. Pasalnya kami berasal dari keluarga dengan budaya yang berbeda. 

Keluarga suamiku masih sangat njawani. Tradisi sungkem setelah shalat Ied serta "Lebaran Kupat" (means:Ketupat baru ada di hari lebaran ke-5. Hari pertama sampe ke-empat yang ada nasi kuning.Tapi ketupat bisa di ada kan di hari pertama lebaran atas request.hehe) adalah dua hal yang tak boleh terpisahkan. Saling bertandang antar tetangga, berkumpul di rumah para si mbah yang masih ada adalah sesuatu hal wajib bagi yang lebih muda. Apalagi rumah mertuaku berada dilingkungan "family cluster" dengan suasana guyub nya yang kental. Sarat dengan besek kendhurian menjelang ramadhan berakhir, tentunya gosip hangat yang suatu saat bisa saja dengan cepat menyebar. hehehe...

Berbeda dengan keluargaku.
Budaya sungkem tidak mentradisi disini. Setelah shalat Ied, kami para anak bersalaman biasa saja dengan orangtua. Dilanjut menyantap hidangan ketupat serta lauk-pauk nya. Suasana bertetangga pun  layaknya  kompleks rumah perusahaan pada umumnya dengan letak rumah yang berjarak. Seakan-akan menggambarkan betapa berjarak-nya juga hubungan antar tetangga. Rumah baru akan ramai ketika open house digelar. Jika tidak, paling banter akan ramai ketika keluarga & sanak famili berkumpul.

Begitulah sekilas suasana lebaranku kali ini. 
Penuh sesuatu yang baru. 
Semoga lebaran tahun depan masih dipertemukan Allah SWT dalam keadaan yang lebih baik, dan dengan sesuatu yang baru lagi. AMIN. :)

Magetan sampai H+2
Tradisi buat ketupat sendiri:











Alun-alun di malam takbiran

Sungkeman

H+3 di Palembang

Padat merayap di jembatan AMPERA. Maap ats ktdknyamanan angle gambar. :p
langsung bertandang kerumah kakek dulu




kerumah uwak tertua is a must! :)

Berkunjung ke keluarga suami di Lampung