Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Mei 2012

What 2nd years does mean

Bohong banget kalau dalam mengarungi bahtera rumahtangga, saya dan suami tidak pernah yang namanya selisih faham. Perkara sampai berantem atau enggak itu tergantung pada level perdebatan kita. Kasus yang terjadi biasanya bervariatif. Kalau awal masa pernikahan dulu, biasanya sih masalah sensitivitas yang kurang ter-asah. Suami saya yang cenderung datar dan lempeng terkadang tidak bisa membaca ekspresi perasaan saya yang cenderung diam kalo ngambek. 

Pernah suatu ketika di awal pernikahan dulu, karena suatu hal, saya ngambek dengan suami. Ekspresi ngambek saya tunjukkan dengan bilang "gak mau masak malem ini. Kita makan mie instan aja." 
Habis bilang begitu saya diam, masuk kamar (pintu kamar sengaja dibiarkan terbuka).
Alih alih sang suami datang dan melancarkan sejuta rayuan, dia malah ke kamar dan menutup pintu dari luar. Begitu tahu pintu kamar ditutup, saya pun nangis makin keras dengan harapan sang suami tau. Ehh tetap gak ada respon.
Karena penasaran, saya lalu keluar kamar dan berniat menghentikan drama ngambeknya. Begitu saya keluar, betapa kagetnya saya. Ternyata sang suami dengan santainya sedang nonton tivi sambil makan mie instan trus bilang "Loh, gak jadi tidur?" 
Oh Em Ji....! Suamikuuuuuu....! %$##@*#!

Akhirnya amarah saya makin menggumpal. Dengan airmata yang bercucuran (lebay yah?) saya bilang kalau saya sedang marah sama dia. Tau jawabannya? "Oh...Mas kira tadi gak enak badan makanya bilang gak mau masak...Makanya tadi Mas tutup pintu kamarnya biar bisa istirahat" 
Gubraaakkk! hahaha.

Di posisi saya pun sama. Dibalik sifat datar nya itu, suami saya sebenarnya tipe melow. Ada masa dimana beberapa kali saya gak 'ngeh' kalau dia sedang marah. Mungkin saya yang cenderung barbar (meminjam istilah Mbak Meidi) kali yah jadi kurang sensitif sama perubahan sikap tanpa dibarengi perubahan mimik wajah?hahaha.


Itu dulu. 
Kalau sekarang sih lebih pada kesadaran aja. Biasanya kita sudah tahu kalau ada salah satu dari kita sedang marah atau ngambek. Kalau masing-masing merasa benar, biasanya saya dan suami memberi jeda pada komunikasi beberapa saat. Tapi tidak juga membiarkan sampai pada hitungan hari. 
Kalau sedang berjauhan biasanya bisa satu jam lebih (tiga-empat jam kan lebih dari satu jam to?hihihi). Tapi kalau sedang samasama sih gak sampai satu jam lah. 

Tanpa bermaksud sok memberikan tips, jika saya tarik benang merahnya, sampai saat di usia dua tahun lebih pernikahan, ada dua hal yang  don't do ketika sedang ada selisih faham dengan pasangan:
1. Berdebat ketika sedang kondisi hati sama-sama panas.
2. Jeda komunikasi yang terlalu lama (apalagi sampai berhari-hari)
3. Sembarang curhat problem rumahtangga. Apalagi ke banyak pihak/wilayah publik. (As a moslem, bukankah ada tuntunan yang meng istilahkan bahwa kita adalah pakaian dari masing-masing pasangan kita?)
4. Curhat ke lawan jenis even yang kita sebut sebagai sahabat (mungkin ini dianggap sedikit konservatif bagi sebagian  pasangan)
4. (Kalau bisa) ngadu ke ortu masing-masing. Bukan gak percaya sama orangtua sih. Tapi dikhawatirkan terjadi ketidaknetralan pendapat yg menjurus ke arah tendensi pembelaan. Kecuali percekcokan makin tajam yah. Kita butuh 'perekat' yang bisa kembali mempersatukan. So, meski gak rasional bagi ego kita, asal tujuannya minta kita akur lagi sama suami/istri kita sih wajib lah dimintai pendapatnya ortu.

do:
Masa-masa romantis waktu pedekate dan/atau kehadiran anak mungkin bisa jadi sarana buat berdamai dengan hati kalau percekcokan sama suami/istri makin tajam. Dengan bagitu mudah-mudahan gak berlarut-larut  deh...


"Semoga perjalanan kehidupan rumahtangga saya dan teman semua senantiasa dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan. Aamiin Yaa Robbal'alamiin."

Jumat, 17 Desember 2010

Ikhtiar dan Tawakal

Melanjutkan postingan Icha di sini. 
Satu kata yang kufikir pas mendefenisikan statement tsb: Ikhtiar.
Begitulah arti ikhtiar menurutku, dimana kita tetap boleh saja mempertahankan tujuan kita tanpa harus mematahkannya jika waktu belum berpihak. 
Ketika apa yang menjadi harapan dan tujuan kita belum tercapai, maka haluan menuju tujuan itu saja yang kita putar, tanpa harus memutarbalikkan tujuan tersebut. Bukankah Allah tidak akan merubah sesuatu dari hambaNya apabila hambaNya sendiri yang tidak berupaya untuk merubahnya? 

Setiap dari individu kita pun sudah ditakdirkan memiliki rasa ingin selalu bahagia , melalui pencapaian tujuan dan impian. Namun kehidupan yang kita jalani tidaklah sempurna. Masing-masing pasti sudah di'lekatkan' kemudahan dan kesulitan. Seberapa kuat kita bertahan pada apa yang menjadi  tujuan kita (ikhtiar) adalah suatu  manifestasi wujud berprasangka baik pada Tuhan (tawakal). dan tentunya itu tidak mudah bukan??
Sungguh...selalu berprasangka baik kepada Tuhan itu tidaklah mudah...Sementara jika kita ingin bahagia ,maka berprasangka baiklah padaNya bahwa DIA akan mengabulkan harapan dari apa yang kita upayakan...

So, tetaplah punya cita-cita dan tujuan temans...
dan jangan pernah menyerah untuk terus memperjuangkannya...
karena cepat atau lambat, keberuntungan pasti akan berpihak pada orang yang selalu teguh dalam ikhtiarnya dan mantap dalam tawakal-nya...

Sabtu, 25 September 2010

Cerita Sore 2

Beres merapikan catatan keuangan sebelumnya.
Papa& mama msh di'lapangan' inspeksi bisnis.
Rumah yang tadinya sepi tiba-tiba rame lantaran segerombolan teman adekku. Masih pada lengkap dengan seragam sekolah masing2.
Sepertinya mereka hendak "pesta weekend" lepas dari enam hari bersekolah. 
Dentuman stereo tanda VCD diputar, dan film horor pun jadi pilihan mereka. Hhm...pantas saja industri film horor di negri ini ga pernah mati meski tak sedikit pula yang mengolok2 film yang lebih layak disebut sebagai film komedi hantu2an itu. :D
Selang beberapa menit suami sms mengingatkan informasi tes TOEFL yang sudah diniatkan sebelumnya. 
Sudah lama tidak menguji kemampuan Bahasa Inggrisku. Semoga belum berkarat oleh urusan domestik. hehehe.

Ingat Bahasa Inggris, ingat salah satu kerabat jauh-ku yang rambutnya"BuCeRi" (bule-celup-sendiri). 
Sepintas wanita 35-an ini terlihat sangat gaul dan funky, sebuah konotasi klasik untuk penampilan ala anak muda yang suka dugem: rambut di cat pirang, setelan tank-top dsb (pdhl blm tentu anak dugem 'pakem' dandanannya gitu yah??).

Penampilannya yang berbeda di antara komunitasnya (perumahan bedeng/rumah petak rapat berjejer di sebuah wilayah pabrik remiling. Suami bekerja sbg tenaga teknisi di pabrik tsb) menjadikan aku tertarik untuk ngobrol dengan ayuk* satu ini. Dia berani tampil beda. Bahkan tanpa malu untuk membaur bersama siapapun juga. 
Meski penampilannya jauh berbeda dgnku yg notabene berkerudung, tapi entah kenapa aku merasakan aura positif darinya. 

Singkat cerita beberapa pekan yang lalu untuk kesekian kalinya aku bertemu dia.
Pertemuan yang cukup berkesan coz kali itu ada kesempatan lebih lama untuk ngobrol berdua.

Cerita pun mengalir.
Bahwa atas sikapnya yang ramah dan (terkesan) 'centil' untuk sebaya-nya itu ternyata mendatangkan rejeki tambahan dalam rumahtangganya. 
Banyak pegawai pabrik single mempercayakannya untuk menangani urusan domestik seperti cuci baju+setrika, sampai pada makan siang. Mungkin karena dia luwes dalam bergaul, jadi orang suka berkomunikasi dengannya. Sampe2 mempercayakan beberapa urusan domestik.

"Lumayan banget Dek. Coba kalo hanya mengandalkan gaji dari suami ayuk..berapa sih...?Sementara ayuk kan anaknya banyak. Ayuk tau tetangga kanan-kiri ngomong ini-itu, tapi ayuk cuek toh suami ayuk yang paling tau ayuk seperti apa?Ayuk juga gak pernah bohong koq dengan suami tentang apa yang ayuk kerjakan. Ayuk gak pernah macem2. Yang penting suami&anak-anak ayuk percaya. Masa bodo' dengan yang lain."


Cerita ayuk buceri ini membuat aku tertegun,sekaligus mengembalikan memoriku akan cerita seorang sahabat.
Ternyata dalam berumahtangga itu pasti akan ada bahkan banyak suara-suara sumbang. Apalagi jika kita terlihat lebih menonjol dan 'berbeda' dengan komunitas (tetangga/keluarga) sekitar kita. 
Akan adaaaa aja yang tidak setuju dengan jalan pikiran serta jalan hidup yang kita jalani jika itu sedikiiiit saja melenceng dari apa yang biasa tampak kasat mata (apalagi kalo melencengnya jauh ya??). Ironisnya lagi, ada yang selalu mendekat & mencari2 tau seolah2 penuh perhatian, padahal sebenarnya tak jauh juga dari rasa iri dan ingin tau yang besar. Kalo bahasa kami "cerudi'an!" (baca:cerodek'an) alias selalu mau tauuuuu aja urusan orang sampe2 gak bisa lihat kelalai-an diri sendiri. hehehe...


"Berapa tahun ayuk dah nikah?"
"Tujuhbelas tahun."

Obrolan ditutup dengan presentasi koleksi kaktusnya....


                                                                                                                                   * Sebutan kakak perempuan dlm bahasa Palembang

Rabu, 15 September 2010

Renungan tanpa judul

Dalam keyakinan agama yg aku fahami (Islam), dianjurkan bagi ummat Islam untuk memiliki harta, bahkan untuk sampai pada tahap menjadi kaya. Malah dalam salah satu hadist-nya Rasul pernah berwasiat hendaknya para ummat nya berikhtiar menuju pada kemapanan daripada kemiskinan. Namun kekayaan harta yang dimiliki tsb dimaksudkan agar kita dapat dengan mudah beramal shalih dan beribadah kepada Allah. Beribadah pun tidak terbatas pada defenisi sedekah saja melainkan juga pada menafkahi serta memakmurkan keluarga agar derajat mulia di mata sesama (Semoga aku, dan kita semua selalu dituntun ke arah yg mulia ini. AMIN).

 -------

Disini aku tidak ingin berceramah mengenai sikap & budi pekerti rendah hati atas kemewahan  yang kita miliki atau dalam agamaku disebut sikap "tawadhu". Selain tidak memiliki kapasitas ilmu di bidang tsb, aku juga yakin teman-teman sudah fasih dengan pakem "rendah hati" ini. 
Yang hendak aku share disini adalah pemandangan umum yang sering aku dan teman-teman jumpai disekitar. Pemandangan ini  terlihat semakin mencolok pada saat tradisi silaturahmi di hari lebaran.Saat dimana para keluarga, kolega, sahabat, atau tetangga berkumpul bersilaturahmi.

Satu pemandangan klasik tersebut adalah fenomena "kehidupan ibarat roda yang berputar." Yang dulu sangat berjaya (means: scr materi kaya bahkan kaya raya & terhormat), sekarang jadi biasa-biasa saja bahkan ada pula yang bisa dikatakan relatif "sederhana". Dulu termasuk dipandang sebelah mata, sekarang justru terlihat (sepertinya) lebih mencolok kemapanannya dibanding sebelum2nya. 

Ada juga yang masih "dianggap" orang kaya padahal sebenarnya dia sendiri merasa harta & kedudukannya sudah merosot jauh dari masa kejayaannya dulu. Tidak banyak yg tahu tentang itu karena dia pandai menutupinya dengan atribut kekayaan yang melekat padanya.
Begitupun ada yang "dianggap" kaya tapi sebenarnya tidak se-kaya penampilannya. Hhhmm....

Tentu menonjolkan atribut kemewahan itu semata-mata dengan alasan "identitas". 
Well, aku fine dengan sikap begitu. Bagiku, jika memang mereka mampu untuk menunjukan identitas tsb, kenapa kita harus protes?Terlepas dari jujur atau tidak tampilannya, setidaknya dia berani mendeklarasikan diri seperti apa yang ditampilkannya.

Mari kita asumsikan saja semua tampilan itu adalah jujur. 
Artinya, dari tahun ke tahun akan ada perubahan identitas dari keluarga/kolega/sahabat/tetangga kita tadi. Dan dari situ pula dapat ditarik sebuah filosofi bahwa hidup kita ini adalah "menunggu giliran". Menunggu giliran kaya, menunggu giliran susah, menunggu giliran sedih, menunggu giliran senang/bahagia, menunggu giliran sehat, menunggu giliran sakit. Juga menunggu giliran muda, menunggu giliran menjadi tua. Hmm...
Perbedaannya adalah masalah durasi "waktu tunggu" tersebut saja. Ada yang kaya nya lama, ada yang kaya nya mendadak lalu jatuh miskin lagi. Ada yang sehaaaat terus, tiba2 sakitnya juga lamaaaa banget. Nah, yg gak bisa ditipu itu dari muda ke tua! yg ada adalah "selalu tampak muda"! hahaha.

Tapi manusia (termasuk aku pastinya!) terkadang suliiiiiiiiiiit banget menerima yang namanya giliran yang gak enak2 itu. Pengennya cepet dapet giliran yg enak2, trus durasinya pengen lama dari orang pada umumnya. hehehe. Makanya dalam doa terkadang tanpa sadar kita sepertinya 'memaksa' Tuhan untuk SELALU menempatkan kita pada posisi yang kita mau saja. Padahal dalam tuntunan (apalagi shalat istikharah) sering kita di ajarkan untuk berdoa pada dua sisi yaitu pada saat permintaan giliran yang enak2 itu terkabul, atau justru giliran yang gak enak2 itu yang malah terkabul! hehe. Pucing...pucing... >*<

Yang pasti, optimisme itu wajib tetap ada dalam setiap pinta kita. Mudah2an kita selalu digolongkan sebagai hamba2 yang selamat dan mulia...Terserah Tuhan bagaimana mengatur posisinya untuk kita. 
Mungkin itu yang namanya teori "ikhlas" yah? ilmu yang biasanya hanya dikuasai oleh para ortu kita yang sudah matang ditempa perjalan hidup di dunia.