Tampilkan postingan dengan label Euforia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Euforia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Desember 2011

Who decides what makes a mother?


 “Makna Ibu tidak selalu berarti orang yg melahirkan anak, Ibu bermakna kasih sayang, cinta kasih dan kepedulian…” 

Kutipan status salah satu teman di jejaring sosial facebook mungkin bisa diselaraskan dengan film garapan Stephen Gyllenhaal yang berjudul “Losing Isaiah”. Film produksi tahun 1995 ini berkisah tentang seorang anak kulit hitam, Isaiah (diperankan oleh Marc John Jeffries) yang diadopsi oleh sebuah keluarga kulit putih.  Alih-alih dapat mengasuh dan membesarkan sang anak sampai dewasa, beberapa tahun kemudian ternyata Ibu kandung sang anak, Khaila Richards (diperankan oleh Halle Berry) berupaya dengan segala daya memperjuangkan kembali sang anak tersebut agar dapat kembali ke pelukannya. Sang ibu angkat, Margaret Lewin (diperankan oleh Jessica Lange) ternyata tidak rela begitu saja melepas hak asuhnya. Alasannya sederhana: rasa cinta kasihnya yang sudah tumbuh terhadap sang anak. 

Tentu tidak mudah bagi keduabelah pihak dalam memperjuangkan apa yang  mereka inginkan.  Khaila Richards yang belakangan diketahui adalah seorang mantan pecandu narkoba berada pada posisi sulit untuk dapat meloloskan tuntutannya. Sementara Margaret Lewin, dengan latar belakang kulit putihnya, dijadikan senjata ampuh bagi pengacara Khaila Richards, Kadar Lewis  (diperankan oleh Samuel L.Jackson) untuk menyerangnya dari sisi ras. 

Film ini bertema sederhana, namun memiliki alur cerita yang padat dan utuh. Ketegangan proses persidangan ditampilkan sewajarnya, dengan penekanan pada pembelaan masing-masing pihak atas alibi hak asuh mereka.
Penghayatan peran masing-masing pemain tidak diragukan lagi. Bahkan, Marc John Jeffries pun sukses memainkan perannya dengan sangat natural.
Jujur, saya sampai beberapa kali sempat menitikkan airmata. hehehe 

Losing Isaiah menggambarkan betapa cintakasih seorang Ibu adalah sesuatu yang tumbuh alami. Tidak mampu dibayar oleh apapun, tidak mampu terkikis oleh waktu meski sesulit apapun rintangan yang akan membatasi jaraknya pada sang anak. Lantas...“Who decides what makes a mother?”






*Selamat Hari Ibu untuk seluruh wanita di dunia*



Jumat, 26 Agustus 2011

Episode Lebaran kali ini

Ragaku disini, tp pikiranku sebenernya sudah di Bakaru. Loh,koq  Bakaru? 
Iya...soalnya lebaran x ni kami tidak mudik lantaran kondisi kandunganku yang terbilang rawan. Libur yang terhitung hanya seminggu dikhawatirkan malah buat kondisi fisik kelelahan. Begitu pesan ortuku dan mertuaku yang begitu mendambakan kehadiran sang cucu. 
Alhasil, serbuan paket berisi kue-kue, kemplang krupuk sampe rendang dan bumbu opor datang dari mama dan ibuk. (Jadi serasa mau mengungsi ke pedalaman akibat perang dunia. hahaha)  

Okelah. Lagipula sejak awal kehamilan hasratku menghirup udara segar dan menikmati suasana tenang disana terus menggenapi kerinduanku akan Bakaru.

"Abis hujan lagi."
Begitu bbm (blackberry messenger) suamiku tadi pagi. 
"Aku kangen suasana disana. Aku kangen bau rerumputan yang habis diguyur hujan. Aku kangen kabut yang setiap pagi bergelayut indah di kaki-kaki bukit yang menjadi pagar tembok-tembok pembangkit, DAM, serta menjadi atap rumah-rumah dinas perusahaan."

Kabarnya lebaran kali ini sang pimpinan baru tidak mudik ke kampung halamannya di Jawa. Alamat bakal ada open house de es be. Bisa dibilang sejak malam takbiran sampe hari ke-2 lebaran diprediksi penuh agenda seremoni, apalagi kalo bukan serupa kumpul-kumpul keluarga karyawan serta makan-makan.
Hhmm...sudah tersusun rapi dikepalaku aku bakalan ngumpet dirumah kalo ada panggilan kumpul untuk para istri. hihihi *akalBulus



 *Selamat Lebaran Temans...Selamat berkumpul dengan keluarga. Maaf lahir bathin yah ^^ *
 


Selasa, 23 Agustus 2011

About Masterchef Indonesia

Sms an dengan mbk meidi soal kompetisi masak masterchef buat ingatanku kembali berputar beberapa hari yang lalu, ketika grand final kontes masak ini dimulai.
Saat itu yang berhasil masuk di dua besar adalah Luck, seorang kontestan dari Malang dengan style kepala plontos dan handuk kecil yang di ikat di kepala serta Agus, seorang guru 25 tahun asal Banjar yang selalu menggunakan pakaian batik sebagai ciri khasnya, “Mungkin batik ini memang hoki saya yah?” , katanya waktu itu di suatu sesi acara.   

Secara teknik memasak Lucky mengalami progress seperti anak tangga: bertahap tapi makin ke atas. Sementara Agus cenderung stabil. Belakangan semakin jelas terlihat bahwa passion Lucky lebih cenderung pada masakan-masakan Eropa, sementara Agus prefer ke masakan-masakan daerah. Ini terbukti ketika sesi ke-dua  grand final (grand final dibagi tiga sesi), dimana tantangannya adalah membuat enam aneka jajanan pasar, dan Lucky hanya mampu menyelesaikan empat jajanan pasar saja. Sementara Agus bisa menyelesaikan semuanya.  Tapi pada babak pressure test (waktu itu yang masuk dalam babak ini adalah Lucky, Santiana, Pricil), ketika menu tantangan yang diberikan adalah crème Brulle with caramel cage, kontestan yang bisa dikatakan berhasil membuatnya hanya Lucky. Caramel cage Lucky waktu itu jadi dengan cukup sesuai yang diinginkan para juri,meski belum bisa dikategorikan mendekati sempurna.
Disamping soal passion masakannya, cara memasak antara Agus dan Lucky memang berbeda. Dalam kondisi apapun Agus terlihat sangat tenang. Ekspresi wajahnya stabil meski sebenarnya dia panik. Lucky sebaliknya. Kegugupan Lucky bisa terbaca jelas dari ekspresi raut mukanya. Bahkan Lucky pernah nangis loh waktu hampir tidak bisa menyelesaikan salah satu tantangan juri! Hahaha

Yah, tapi itulah kompetisi. Keputusan terakhir tetap yang menentukan “gong” nya. Lucky berhasil mengumpulkan akumulasi point DUA ANGKA diatas Agus. Hanya dua angka lohhh selisihnya…
Agak kecewa sih sebenarnya soalnya aku jagoin Agus sejak awal. Hehehe. 

Tapi apapun dan bagaimanapun, I love masterchef Indonesia!  Reality show kuliner yang menampilkan warna berbeda. Sesuai slogannya: “This isn’t only about the food, this is about the dream and passion behind all those delicious dish


The juries are:



Oya,all about masterchef indonesia I (Pertama) bisa dilihat disini



***

Puja-Puji buat BP & Timnas Garuda

Tiga (Hariono; Gonzales; Bambang Pamungkas) dari beberapa jagoanku  tadi malam berhasil membuat Indonesia menang di laga lawan Palestina. Dan dari ketiga pemain tersebut yang paling bersinar tadi malam dan di laga lawan U 23 sebelumnya adalah Bambang Pamungkas (BP). 

Seperti yang pernah aku komentari di sini, aku tetap menganggap BP sebagai pemain yg oke. Let say banyak yang bilang kalo dia sudah tua, sombong dan besar kepala, tapi menurutku dia tetap punya kemampuan bermain yang bagus. Meski sudah "ngartis", kualitas permainannya tetap jitu.  
Pada friendly match Indonesia vs palestina tadi malam BP berhasil menymbang dua kali gol yang fantastis di menit ke-78 dan 85. Pertandingan sebelumnya ketika melawan timnas U 23 BP juga berhasil menyumbang gol lewat tendangan penalti (yang secara otomatis "menyelamatkan muka" pemain timnas senior).

Mungkin karena alasan regenerasi atau apalah, belakangan BP sering diletakkan di posisi second (seperti tadi malam dia diposisikan sebagai second striker). Namun hal tersebut tetap tidak membuat permainannya jelek.
BP selalu jitu dengan tendangan jarak jauh-nya. Beda dengan Christian Gonzales "El-Loco" yang cenderung luck di tendangan-tendangan berjarak pendek. Coba perhatikan pada gol terakhir yang dicetak BP. "Mantapmiii mentong" kalo kata orang Makassar! hehehe

Ini Replay pertandingan tadi malam INA vs Palestina:




"We will not go down...Palestine!" hihihihi



Note
Koreksi buat timas Ina:
1. Menang kalo di "kandang sendiri"
2.Disulut gol lawan dulu baru "greng"??!



Selasa, 26 Juli 2011

A Gift from Heaven

Aku dan suami sedang bahagia2nya.

Beberapa minggu lalu aku dinyatakan postif hamil.
Sumringah; bahagia; dan tema pembicaraan dengan suami selaluuu gak jauh-jauh soal si jabang bayi.
Terbayang sudah hari-hari yang InsyaAllah akan dipenuhi tangisannya, tawanya dan perkembangannya yang selalu membuat rindu. 
dan seperti rata-rata wanita hamil muda, akupun merasakan mual, eneg, dan segala tetek-bengek yang berkaitan dengan trimester pertama. 
Alhasil, dua hari absen ngantor.
Orangtua, kerabat, dan sahabat banyak memberikan ucapan selamat dan pesan nasihat akan kehamilan pertamaku ini. Subhanallah...terimakasih yang tak terhingga kusampaikan untuk mereka.

Permintaan khususku adalah: Semoga calon bayi ku tumbuh dengan sehat, sempurna fisik dan rupanya, serta kelak dihembuskan ruh yang mulia padanya. 
dan semoga pula aku dapat mengandung dengan sehat, melahirkan dengan selamat. Amin Yaa Robbal'alamiin  ^^


***


*Terimakasih Allah atas semua harapan yang satu per-satu telah Engkau perkenankan -salah satu nya kehadiran jabang bayi pada saat yang direncanakan-

Rabu, 04 Mei 2011

The Royal Wedding (The most i interests)

Banyak yang bisa diperbincangkan dari moment ini. Semoga aku belum terlambat ikut mengomentari. hehe

Banyak yang mengatakan bahwa pernikahan kerajaan kali ini adalah sebuah pernikahan yang kelak diharapkan akan membawa perubahan pada citra kerajaan Inggris  yang terkesan kaku selama ini. Pernikahan yang kelak diharapkan membawa pada perubahan.

Beberapa hal dari pernikahan tersebut yang menarik perhatianku. Diantaranya: 

Ketika William memutuskan untuk memilih adiknya, Harry sebagai pendamping, memunculkan pertanyaan: "kenapa bukan Ayahnya(Charles)?". Pendeta yang saat itu menjadi salah satu narasumber di salah satu stasiun televisi swasta yang menyiarkan secara live event tersebut menjelaskan, bahwa penekanan sebuah pernikahan dalam keyakinan mereka adalah pada pihak mempelai wanita. "Sebelum terjadi pemberkatan, seorang wanita masih menjadi 'hak' orangtua laki-lakinya.  Belum boleh berpegangang tangan." 
Ini menarik. Karena perihal tersebut tidak berbeda dengan keyakinanku. Ketika orangtua laki-lakinya masih hidup, seorang wanita "wajib" didampingi orangtua laki-lakinya begitu akan menuju gerbang pernikahan. Sementara pihak mempelai pria tidak memiliki kewajiban akan hal tersebut.
Sumpah pernikahan
Sebelumnya adalah “menyintai, menghargai, dan mematuhi suami” dirubah menjadi “mencintai, kenyamanan, menghormati, dan saling menjaga”.
Revisi sumpah yang menarik. Kalu dicermati, pada kalimat "mematuhi suami" adalah sebuah kalimat yang sebenarnya secara tidak tertulis juga berlaku secara umum pada pernikahan di negeri kita. Ketika menikah, adalah kewajiban seorang istri untuk mematuhi suaminya. Tapi Kate dan William menganggap kalimat ini merupakan kalimat perintah yang seolah-olah menjadi sebuah pangkal dari adanya kekerasan dalam rumahtangga kerajaan selama ini, yang berbuntut pada perceraian.
Tapi terlepas dari apa isi sumpahnya, aku paling suka ketika mereka berdua saling mengucap sumpah. Koq aku yang tersipu-sipu ya?hahaha. They looked really in love in each other. ^^

The Ring
Ini dia yang unik. Semua pasti tahu bahwa pada pernikahannya, William tidak mengenakan wedding ring. Mengenakan cincin pada masing-masing pasangan hanya sebuah simbol dan merupakan tradisi kerjaan yang diyakini tidak menjamin awetnya sebuah pernikahan, disamping memang William tidak menyukai perhiasan. Begitu menurut informasi yang beredar mengenai perihal unik ini. 
Sebenarnya hal ini tidak jauh berbeda dengan tradisi di negeri kita, khususnya daerahku yang mayoritas muslim. Sebelum "a couple wedding ring" trend di negeri kita, kebiasaan menyematkan perhiasan (baca:cicin) sebagai simbol pernikahan biasanya hanya berlaku pada pihak mempelai wanita. Cincin pernikahan biasanya merupakan persembahan (mas kawin) yang diberikan seorang mempelai laki-laki kepada mempelai wanita.

Menurut para tetua, laki-laki dalam agama tidak diperkenankan melekatkan perhiasan di tubuhnya yang menyerupai perhiasan wanita. Namun ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut tidak masalah jika perhiasan tersebut bukan berupa emas. Karena emas diyakini merupakan perhiasan wanita. 
Begitu tradisi yang berjalan di negeri kita, sampai dimana terjadilah era couple wedding ring yang ditambahkan dalam pernikahan selain (tentunya) mas kawin yang dipersembahkan mempelai pria kepada mempelai wanita.

 

The Gown.
Inilah yang paling ditunggu dan banyak dibicarakan orang.
Rata-rata orang setuju bahwa gaun yang dikenakan Kate adalah gaun cantik yang sederhana. Banyak orang yang terkejut dan tidak menyangka bahwa gaun pernikahan Kate akan se 'sederhana' itu. Namun bolehlah Sarah Burton berbangga hati karena hasil rancangannya mendapat pujian banyak orang. Gaun rancangannya dianggap  mencerminkan kepribadian Kate yang simple dan modern.   
Aku suka detail bordir di bagian bawahnya. Rumit namun elegan.  Dari jauh detail bordir itu tidak terlihat jelas, namun ketika diperhatikan dari dekat, jelas sekali bahwa detail tersebut cukup tergambar jelas.
 
Sarah Burton yg penuh profesionalisme


 














Ow...ternyata dalamnya begitu :D
The Crown.
Menurut tradisi kerajaan, calon istri pangeran seharusnya mengenakan mahkota yang dipinjamkan oleh calon mertua (baca: Ratu) ketika pernikahan berlangsung. Tapi berhubung Kate tidak suka dengan bebatuan pada mahkota yang menurutnya terlalu besar, akhirnya ratu Elisabeth khusus membuatkan mahkota untuk Kate! Wow! 
Ini yang menarik perhatianku. Begitu dapat diterimanya seorang Catherine Middleton oleh seorang ratu Elisabeth. Dengan segala sikap apa adanya dia, ternyata tidak menjadi masalah bagi seorang ratu Elisabeth.
Udah bisa mencuri perhatian calon nenek mertua nih…hehehe
Oya, aku juga suka dengan anting yang dipakai Kate. Modelnya sangat girly. Anting rancangan Robinson Pelham ini kufikir memang sangat pas dengan mahkota yang dipake Kate. Kecil dan manis.  

Natural make up
Sebenarnya aku iri untuk yang satu ini. (apaa coba??!hihihi) 
Kate bisa tampil sangat natural di hari pernikahannya. Tentu dia tidak usah bersusah payah berdandan sejak subuh seperti kebanyakan pengantin pada umumnya. hahaha.
Dulu ketika menikah, aku sebenarnya sempat mengidamkan menikah dengan make up yang minimalis. tapi apalah daya, hal itu mustahil untuk terjadi. hahaha















That's all about the things that the most i interests. 
Sebenarnya masih banyak sih...tapi sepertinya gak akan pernah habis diceritakan. hahaha
Finnaly, aku adalah salah satu orang yang tersihir dengan pernikahan mereka. Sungguh menggambarkan mereka apa adanya. They really know what they want.

Inspite of those spectacular things happened, Hopefully they can live in happiness together and forever...^^




Rabu, 27 April 2011

Si Tampan & Si cantik ^^

Hampir seluruh dunia membicarakan pasangan ini. Saya pun termasuk salah satu yang interest dengan pasangan ini. Sepintas ceritanya bak cerita dongeng: pangeran tampan yang mencari si pemilik sepatu kaca. Bedanya, pemilik sepatu kaca ini bukan seorang upik abu. hihihi.


Posting foto-fotonya aja yuuukkk.... ^_~


Paling suka pose ini.  ^^


Diana Kecil
                  
                     Kate kecil
                   
   



Diana: "Nak..langgeng sm putraku yah.."
 

Koq bisa sama yah?sengaja ato enggak?hehe
                    

What do you think?
       

Kamis, 21 April 2011

Selamat Hari Kartini


Setiap 21 April sudah barang tentu jadi “ladies day” di negeri kita.  Rata-rata kantor akan mewajibkan “hari kebaya nasional” bagi para karyawan perempuan.  Rangkaian berita di berbagai media yang mengangkat tema perempuan akan gencar jadi topik utama.  Bahkan, Luna Maya, dalam sebuah acara live music di salah satu stasiun televisi swasta tadi pagi bernyanyi dengan balutan busana kebaya modern berwarna biru tosca (saya suka motif & warna kebayanya :p )

Yuhuy! Ini adalah hari mu perempuan Indonesia! Hari dimana namamu akan senantiasa didengungkan dari segala penjuru pelosok negeri, walau ada juga yang tak peduli atau bahkan menganggap tak ada yang perlu dibesar-besarkan.  Aku salah satunya.:D
Bukan aku tidak menghargai dan mengenang jasa-jasa beliau yang (konon katanya) berperan dalam tegaknya emansipasi wanita. Tapi jujur saja, sejauh ini segala seremonial yang berbau Kartini kuikuti sebatas formalitas dan ikut-ikutan saja.. :p Mungkin someday aku sebaiknya mencari dan menelusuri literature biografi beliau. Supaya kecintaanku pada beliau dan rasa nasionalismeku tumbuh. Hahaha.

Tapi terlepas dari itu, emansipasi seorang wanita menurutku berakar dari sebuah “kebebasan”. Dalam arti, seorang wanita harus diberikan kebebasan untuk mengungkapkan isi hatinya dan apa yang ada didalam benak serta fikirannya tanpa merasa terancam atau tertekan, diberikan ruang untuk mengaplikasikan apa yang ada dibenak serta pemikirannya tsb. Tidak sebatas itu, seorang wanita juga harus dapat menjalankan setiap jengkal pilihan dalam hidupnya dengan penuh kesadaran dan tanpa tekanan dari manapun.   
Ketika kemerdekaan seorang wanita terwujud, maka baru lah emansipasi wanita dapat ditegakkan. Wanita bebas menjadi apa dan seperti apa yang dia inginkan, selagi itu membawa dampak positif bagi dirinya dan sekelilingnya. 

Sebagai langkah awal, kemerdekaan seorang wanita butuh dukungan dan pengertian sekelilingnya ; suami, orangtua, teman kerja, bahkan sampai institusi dimana dia bekerja. Di lingkungan kantoran misalnya: memberikan ruang khusus breastfeeding bagi karyawan perempuan yang masih dalam tahap menyusui adalah salah satu contoh pemenuhan hak dan emansipasi wanita.  
Terkesan ribet? tidak. Asalkan lingkungan sekitarpun ikut menyadari arti kata pemenuhan hak bagi kaum wanita. Mengandung, melahirkan, menyusui, adalah sebuah dilema yang harus dipertimbangkan oleh pemangku jabatan jika memang benar hendak menjunjung hak wanita dalam berkarir.

Tapi jangan berfikir bahwa emansipasi wanita hanya tercermin sebatas menjadi wanita kantoran, teman…
Pilihan untuk menjadi seorang ibu rumahtangga rumahan juga bisa menjadi simbol kemerdekaan dan terwujudnya emansipasi seorang wanita, jika pilihan tersebut diambil dengan 100% kesadaran serta keinginan tanpa tekanan darimanapun. Mengatur isi rumahnya, menentukan "jam malam" bagi anak-anaknya, memilih si mbak yang akan membantu dirumah, bahkan sampai menentukan merk pembersih lantai tanpa intervensi darimanapun adalah gambaran terwujudnya kebebasan seorang wanita.

Jadi, sebelum seorang wanita memahami arti kata "emansipasi", ada baiknya lingkungan sekitarnya terlebih dahulu memahami makna kata tersebut. Sehingga emansipasi yang diperjuangkan seorang wanita tidak terbentur pada opini sebagai "wanita pemberontak/wanita yg lupa kodrat". :D 

So, everyday is Kartini day…
Bravo for ladies! ^^



Selasa, 12 April 2011

Tanda Tanya (?)

 




Film pertama yang akan saya ceritakan ini belakangan sempat jadi kontroversi di kalangan komunitas Nahdatul Ulama,lantaran menampikan komunitas Barisan Ansor Serba Guna (banser) yang menurut tokoh NU tidak sesuai fakta sebenarnya.

Tapi terlepas dari itu, film karya Hanung Bramantyo ini menurutku terbilang menarik dan berkualitas bila dibandingan film tanah air kebanyakan.  Alur cerita jelas dan sesuai dengan pesan yang hendak disampaikan.  Ceritapun mengalir tanpa ada kesan menggurui, meski ada beberapa scen yang mencirikan Hanung banget, serta beberapa cerita yang dibuat dramatisir. Tapi itu semua masih dalam batas wajar selayaknya karya fiksi.

Bagi sebagian orang, film besutan penulis skenario Titien Wattimena ini dianggap  menyudutkan Islam dan melanggar beberapa aturan agama seperti;  Surya (Agus Kuncoro), seorang muslim tapi melibatkan diri dalam pementasan drama di sebuah gereja katholik ; Menuk (Revalina S.Temat), seorang muslim namun bekerja di sebuah restoran cina yang menyediakan panganan babi; atau Rika (Endhita) yang sebelumnya beragama Islam lantas menjadi penganut katholik lantaran “kecewa” dengan (mantan) suaminya yang hendak meminta berpoligami; serta sosok Soleh (Reza Rahadian) yang di anggap agamanya bagus (shaleh) namun memiliki perangai temperamental. 

Tapi (masih) menurutku, penonton juga selayaknya tidak menafikan bahwa sang sutradara berusaha menampilkan sisi manusiawi dalam cerita tersebut. Diceritakan bagian-bagian dimana para tokoh merasakan gejolak batin yang hebat pada setiap keputusan yang di ambilnya. Pun digambarkan bagaimana usaha keras mereka untuk memilih serta mempertahankan keimanan dalam diri masing-masing meski berada dalam komunitas yang berbeda. 

Agar seimbang, sutradara juga mencoba menampilkan sosok “antagonis” di masing-masing agama. Doni (Glenn Fredly), seorang penganut katholik yang sinis terhadap muslim, serta Tan Kat Sun (Hengky Sulaeman) yang temperamental, masih dalam masa pencarian jati diri, dan begitu membenci Islam lantaran sakit hatinya ditinggal Menuk yang lebih memilih Soleh karena seiman.

Dalam film ini, tidak semua muslim ditampilkan (seolah-olah) kasar, temperamental, suka berpoligami dan labil dalam mempertahankan keimanan serta aqidahnya.  Tokoh muslim yang teguh pendirian terhadap akidahnya dan berperangai santun digambarkan pada sosok Menuk, serta Ustadz (David Chalik) yang penyabar dan bijaksana. Pada agama Katholik, sosok penuh welas asih digambarkan dalam diri seorang Romo Gereja Santo Paulus (Dedy Soetomo), dan pada agama Kong Hu Cu, diwakilkan oleh majikan Menuk, Lim Giok Lie (Edyman) dan istri yang penuh toleransi dan kasihsayang.  

Pada akhir cerita, Ada adegan dimana ditemukan sebuah bom di dalam gereja katholik yang tidak diketahui pengirimnya. Tidak pula disitu digambarkan bahwa “tersangka”nya adalah ummat muslim. Justru dalam film tersebut diceritakan bahwa yang menyelamatkan jemaat gereja dari ledakan bom tersebut adalah seorang muslim (Sholeh). 
Sosok Rika pun dalam cerita tsb digambarkan meski sudah menganut Katholik, masih memendam aqidah Islam lewat defenisi Tuhan yang dijabarkannya melalui “Asmaul Husna”. 
Lim Giok Lie, sebelum wafat mewariskan amanah pada anaknya, Tan Kat Sun, untuk mempelajari agama Islam yang pada akhir cerita menuntunnya menjadi mualaf.

Ketika ada adegan dimana Sholeh dan jemaah masjid lainnya melakukan penyerangan ke restoran milik Lim Giok Lie, menurut saya adegan tersebut bukan hendak menggambarkan bahwa Islam itu kasar dan radikal seperti kritik beberapa pihak, tapi yang hendak disampaikan justru pesan untuk dapat menjaga sikap toleransi yang seharusnya difahami oleh warga muslim dan non muslim. Juga pesan bahwa kesalahfahaman dan sikap gegabah bisa menimbulkan pertikaian yang sia-sia.

Jadi menurut saya, gambaran tokoh serta cerita dalam film ini cukup adil dan tidak terkesan mendeskreditkan agama tertentu,apalagi Islam.

Namun sedikit kritik dari saya adalah, dalam beberapa karyanya, mengapa Hanung gemar sekali me “mati”kan salah satu tokoh dalam hampir setiap episode cinta segitiga? Juga bagi Revalina S. Temat, ini adalah kali ke dua nya dia berperan sebagai sosok wanita muslimah yang ditinggal wafat suaminya (setelah sebelumnya cerita serupa dalam Perempuan Berkalung Sorban). Hehehe

Begitu setidaknya pendapat saya. Saya memaknai film ini murni sebatas sebagai penikmat karya sineas, tidak sebagai posisi ulama ataupun cendikia muslim yang berkompeten. Jadi, silahkan teman-teman nikmati film ini, dan temukan pesan moril serta kritik sendiri di dalamnya. :)


***



Jumat, 18 Maret 2011

Tentang PLTN

Marak pemberitaan mengenai kontroversi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir membuat aku tertarik untuk sedikit berkomentar. 
Menurutku sangat wajar kalo banyak pihak (termasuk beberapa para professor kita) meragukan proyek pembangkit listrik tenanga nuklir tersebut. Tidak sedikit yang bilang: "Jepang yang sudah sedemikian teknologinya saja ternyata kebobolan, apalagi kita..."  bahkan ada juga yang lebih sadis berkomentar: "Boro-boro mau bikin PLTN, ngurusi lumpur lapindo aja gak mampu".

Melalui salah satu acara di salah satu stasiun televisi swasta, pemerintah yang diwakili oleh Kepala Bapeten, As Natio Lasman, boleh saja bersikukuh menyatakan bahwa bisa menjamin pembangunan proyek akan berjalan aman, namun pemerintah juga tidak bisa menafikan bahwa gempa serta tsunami adalah ancaman besar yang dapat secara rutin terjadi di pasific region, dimana Indonesia adalah salah satu bagiannya. 

Mungkin saya bukan termasuk orang yang bertipe Risk Taker sehingga saya mengharapkan pemerintah dan pihak terkait lainnya mengkaji ulang kebijakan tersebut. Saya juga tetap lebih pro pada renewable energy seperti yang telah dilakukan oleh negara Amerika, Spanyol, dan China yang memanfaatkan tenaga angin sebagai sumber energi listrik mereka.
Bukankah setiap negeri dianugerahkan Tuhan keberlimpahan yang berbeda-beda? dan patutlah bersyukur karena Indonesia dilimpahi kekayaan alam yang gemah ripah loh jinawi...

Mengutip pernyataan salah satu tokoh pemerhati lingkungan hidup di negeri ini yang bilang: "Negara maju seperti Amerika dan Jerman saja membatalkan rencana pembangunan PLTN. Lah koq kita dengan pede dan berani maju kedepan pasang badan?"



Jumat, 31 Desember 2010

HappY New Year! ^^

Salah satu euforia setiap kali menjelang tahun baru: Resolusi! :D
Sebagai manusia muda yang masih penuh ambisi (wakakakak), tentunya aku juga sama seperti yang lain, yaitu punya resolusi. Tapi biarlah resolusi itu cukup menjadi cacatan pribadiku bersama suamiku tentunya. ^_~ 
Dibanding berbicara panjang lebar soal resolusi, aku lebih tertarik bicara soal introspeksi serta refleksi di tahun sebelumnya. Lebih nyata dan dapat dibaca melalui rangkaian peristiwa yang telah dilalui. :D

Ada dua pencapaian: Yang dapat diukur dengan kasat mata, serta yang tidak dapat diukur dengan kasat mata.
Well, mari kita bicarakan sesuatu yang kasat mata:
Tahun 2010 adalah tahun perubahan besar dalam hidupku. Diawali dengan gerbang pernikahan, maka satu-per satu rangkaian cerita serta tujuan hidupku berubah. Tanpa aku sadar begitu banyak limpahan rizqi yang Allah berikan padaku,pada kehidupan keluarga kecilku. 
Alhamdulillah. Aku menikah dengan seorang pria yang sangat bijaksana untuk ukuran seusianya. Seorang partner yang mampu berjalan di atas tawa dan airmataku. Seorang yang hatinya dipenuhi keikhlasan serta ketulusan. Begitupun sama dengan mertua dan kakak iparku.Sulit kupercaya rasanya, karena pernikahan di tahun 2010 awalnya bukan menjadi mimpiku. Aku yang saat itu masih berambisi mengejar target-target serta cita-cita pribadi, mau tidak mau harus bisa berkompromi pada ego-ku ketika seorang pria baik yang berasal dari keluarga baik-baik, datang dengan cara yang baik untuk meminangku. Aku jatuh hati padanya. Walau egoku saat itu begitu kuat untuk mengingkarinya. Suara hati kecil memang tidak pernah salah. Setelah melalui rangkaian do'a, aku mantap menerima 'tawaran' Tuhan padaku. 
Yah, itulah anugerah pertama di awal tahun 2010 dari Allah untukku yang tak ternilai dengan apapun.

Dalam hal pendidikan, tidak lama berselang bulan pernikahanku, Alhamdulillah aku resmi memperoleh nomor register sebuah profesi atas pendidikan yang kurang-lebih sudah aku jalani satu tahun sebelumnya. Selembar legalitas yang kelak kuharapkan dapat menjadi modal untuk berkarya sebagaimana mestinya. Legalitas hitam di atas putih yang mana begitu besar harapanku akan-nya dikemudian hari. Ini  bukan sebuah mimpi. Ini harapan realistis yang hanya menunggu waktu. :)

Tahun 2010 pula adalah awal aku belajar menjadi (jika tidak terlalu berlebihan kukatakan) pengusaha. Adakah kata yang lebih membumi?karena setiap ditanya aku lebih sreg bilang "kesibukan" daripada "bisnis/usaha". :D 
Lucu juga. Belakangan tawaran kesempatan usaha bertubi-tubi datang. Mungkin dilihat aku pengangguran kali yah?makanya difikir manatau aku bisa di ajak joint?! hahaha. Tapi tawaran tersebut tidak lantas aku terima semua. Aku juga memikirkan chance serta kemampuanku. Baik kemampuanku mengelolanya kelak, juga kemampuan financialku. Bersama suami, solusi yang kupilih adalah menerima tawaran serta menjalankan jenis usaha yang bervariatif tingkat modal, serta risikonya. Aku juga melakukan variasi sumber modal dalam mendanai usahaku tersebut. Jika bisa melalui danaku sendiri dan tidak memberatkan suami, maka pilihan itu yang akan aku ambil dalam menjalankan usaha-usaha tersebut. :) 

Anugerah lain adalah pada karir suamiku.
Jika tidak ada aral melintang, InsyaAllah tahun depan suamiku akan mengemban suatu amanah baru ditempatnya bekerja. Secara awam orang akan berkata itu adalah sebuah "rejeki". Tapi aku prefer mengatakannya suatu tanggungjawab baru. 
Aku tidak akan bercerita lebih lanjut karena eksekusi belum berjalan. Lagipula itu adalah ranah pribadinya (means:suamiku), dan dialah yang berhak bercerita lebih panjang-lebar (jika itu sangat perlu untuk diceritakan). :D

Begitulah sekilas ceritaku di tahun 2010 masehi. Jangan berfikir bahwa apa yang kujalani itu sempurna tanpa cacat cela, teman...
Aku menjalaninya juga sama seperti perjalanan kalian: ada airmata, amarah, kebimbangan, kebencian yang kadang mendekam lama, rasa pesimis, merasa disudutkan, dsb.
Tapi itu semua berimbang dengan kebahagiaan dan tawa yang tak jarang turut melingkupi perjalanan hidupku. Saat dimana aku merasa dipeluk oleh Dewi Fortuna. Merasa begitu dalam keberuntungan.
Begitulah aku teman. Sama seperti perjalanan yang kalian rasakan. Percayalah.  :)

Karenanya jangan pernah menyerah. Nikmati setiap cita-cita serta ambisi yang membara dalam jiwa kalian, selagi itu masih ada. Jalani itu sebagai anugerah karena rasa itu adalah fitrah Tuhan bagi hambaNya. Begitupun pahit dan sedihnya. Terima dan jalani sebagai rangkaian menuju kebahagiaan. Jalani dengan  hati ikhlas tanpa melukai dan menyakiti sesama...(Semoga aku bisa. Kalian juga.)
Tuhan bersama denyut nadi kita. DIA Maha melihat apa yang kita sembunyikan dan rasakan...
Selamat membuat resolusi 2011! ^^

Kamis, 30 Desember 2010

Garuda di dadaku! Timnas Idolaku!

Menyakitkan. Tapi sekali sakit ya sekalian aja. wkwkwkwk :D
Score agregat 4-2 menurutku sebuah prestasi yang cukup kompetitif. Walau sebenarnya kalo mau dihitung-hitung sih akumulasi score kita lebih banyak dibanding gol yang dicetak Malaysia ke gawang kita. hehehe

Ketertarikanku pada bola kaki belum ada hitungan satu tahun. Itupun kemarin sebatas sekelas piala nasional aja.
Sungguh,AFF membuat fans dadakan bola berkali lipat jumlahnya. Termasuk aku di dalamnya. :D dan walau tergolong fans bola amatiran, aku punya beberapa pendapat:
Yes :
Arif Suyono. Pemain bertubuh kecil ini menurutku lincah dan agresif. Gerakan yang dilakukannya cukup berperan dalam memanipulasi musuh. Walau Arif begitu gampang cedera, tapi aku tetap menjagokan pemain SFC yang satu ini. Namun sepertinya keberuntungan "Si Keceng" ini pada pertandingan AFF ada di menit-menit terakhir. hehe..masih ingat rasanya bagaimana dia sempat membuat penonton tersentak dengan tendangan gol manisnya saat kita melawan Laos dan Malaysia di babak penyisihan. Wow! Makanya sempat disayangkan sih koq dia dimasukin dalam tim cadangan sie?? hiks...
Kedua, Firman Utina. 
Aku suka dia karena sebagai kapten tim, menurutku dia memiliki stabilitas emosi yang baik ketika dilapangan. Walau terkadang dia tiba-tiba loss of power ditengah-tengah permainan, namun umpan-umpan yang diberikan Utina cukup berperan dalam tercetaknya gol Timnas. 

Next,Oktovianus Maniani.
Kelincahan Okto tidak jauh berbeda dengan Arif. Posisi winger memang pas buat Okto yang memiliki kecepatan berlari di atas rata-rata. Intermezo: Belakangan diketahui kalo Okto itu kakak kelas SMA adikku ketika kami berdomisili di Papua. Saat itu Okto belum bergabung di Timnas. Namun bakatnya sudah menonjol. Makanya dia menjadi salah satu anggota inti tim bola kaki sekolahnya.

Sebenarnya aku juga suka Bambang Pamungkas. Selain soal jam terbang, Bambang punya kualitas tendangan jitu. Walau banyak yang bilang BP kualitasnya menurun dan sudah mulai malas ngejar bola dilapangan , tapi menurutku gak juga. BP begitu menurutku karena dia merasa perlu adanya regenerasi di lapangan. Yah...meskipun seharusnya yang namanya bertanding mah harus all out...
Mungkin itu juga alasan Alfred Riedl selalu menurunkan BP di menit-menit terakhir. Sayang yah?Apalagi di permainan final melawan Malaysia tadi malam...menurutku BP harusnya diturunkan sejak awal. Selain dia dikabarkan cukup mengenal baik tipe bermain lawan (karena pernah bergabung di tim Malaysia),BP sudah punya kematangan emosi yang stabil dalam menguasai lapangan. Meski kadang sedikit terlihat egois ingin nge-gol sendiri. :p 

No: Markus dan Irfan Bachdim.
I'm sorry I have to say it. Its just an opinion.
Entah napa yah,koq aku ngerasa si Markus itu temperamental?hihihi (gak make sense alesannya! :p). Kontrol penjagaan gawangnya sangat menakutkan. Tak jarang terlihat beberapa kekonyolan yang dilakukan Markus  dengan cara mengawal gawang sampai pada garis batas terlalu jauh, sehingga membuat chance untuk kebobolan besar sekali.
Tangkapan bola Markus juga kurang mantap. Sering mental.
Bukan bermaksud membandingkan, Ferry Rotinsulu kupikir bermain lebih stabil. Let say secara fisik dia tidak se jangkung Markus (Itu kelemahannya), namun kontrol penjagaan gawangnya menurutku lebih stabil. Yang paling aku suka, tangkapan bolanya mantap alias bola tidak mental kalo sudah jatuh ditangannya. :D
Last,Irfan Bachdim: Hhhmmm...Menurutku he needs to practice more. Permainannya masih 'grasah-grusuh' dan belum stabil. Yang menonjol dari dia adalah ambisinya di lapangan yang patut dijadikan dasar untuk berkembang lebih baik. Walau terkadang sikap ambisinya itu terkadang jadi boomeran bagi dia sendiri ketika bermain di lapangan. Selain itu?Nothing special...Mungkin karena wajah innocent-nya itu yah yg bikin banyak bilang dia "cakep&kinclong"! hehehe.

Yah, begitu pendapat sekilas dari penggemar dan pemerhati bola amatiran sepertiku. :D 
Tapi kalo mau di rata-rata mereka semua hebat dan punya kelebihan masing-masing dalam bermain. Pastinya  Riedl punya alasan kuat dalam menempatkan posisi mereka masing-masing. So, apapun yang terjadi, mau ribut-ribut soal ketua PSSI kek, soal stadion GBK yang jelek kek, soal manajemen panitia AFF di Indonesia yang dibilang buruk kek, aku tetap 100% mendukung Timnas Garuda! Hidup Timnas Indonesia!hohohoho


P.S: Mau liat Ibu Ani gak jaim??di pertandingan AFF tuh...!hihihi (^^)V

Kamis, 28 Oktober 2010

Bukan karya Ilmiah,hanya opini

Innalilahiwa'innailaihi rodjiuunn...
Semoga Allah,Tuhan yg Esa mengampuni kita semua, & ke-khilaf an para pemimpin negri ini.
Semoga DIA senantiasa melindungi kita;hamba yang tersisa, dari bencana yang mengerikan.
Semoga DIA senantiasa memuliakan kita, dan kelak me mati kan kita dalam keadaan yang baik.


Ikut meramaikan pemberitaan & perbincangan tentang musibah yang begitu sering melanda bangsa ini.
Satu yang membuat aku tertarik menyuarakan opiniku:
Meninggalnya Mbah Marijan dalam posisi sujud menghadap ke Selatan (ke arah keraton Yogyakarta).

Sebuah visualisasi yang seolah-olah menjelaskan bahwa beliau hendak menyampaikan maaf serta penyesalan yang mendalam kepada kerajaan keraton hadiningrat yang begitu sangat dihormatinya atas ketidakmampuan beliau mereda kehendak Yang Maha Kuasa. 
Suatu gambaran pengabdian yang begitu tanpa pamrih, sampai nyawa pun beliau korbankan demi menjaga kepercayaan yang diyakini sebagai junjungan tertinggi serta mulia. Sungguh wujud kesetiaan yang nyata.

Kesetiaan adalah suatu rangkaian yang menurutku bermuara dari keyakinan, lalu berlanjut dalam bentuk kepercayaan.
Maka tak heran ketika seseorang meyakini sesuatu biasanya ybs cenderung akan percaya dengan keyakinannya tersebut. Jika apa yang dipercayainya terbukti, maka terjalinlah sebuah kesetiaan akan keyakinannya itu.
Yakin bahwa setia dan patuh terhadap sesuatu akan membawa ybs percaya akan datang kebahagiaan batin. Yakin bahwa jika tidak setia pada sesuatu itu maka ybs percaya akan mendapat petaka & musibah,  serta bentuk keyakinan2 lainnya dimana hanya si penganut tsb yang tahu.

Keyakinan tidak mengenal jenjang pendidikan ataupun banyaknya harta.
Aku pernah cukup dekat dengan salah satu pendidik di kampusku dulu. Meski secara keilmuan sangat aku kagumi, namun masalah keyakinan sungguh berseberangan walau kami satu iman (means,agama).
Seorang saudara juga pernah bercerita mengenai salah satu keyakinan yang percaya bahwa rumah2an kertas yang ikut dibakar bersama jenazah ybs kelak akan menjadi rumah mendiang di kehidupan selanjutnya. 

Yah..semua tentang keyakinan. Dia yakin, dia percaya,maka dia akan teguh pada apa yang diyakininya.
Seperti layaknya Mbah Marijan yang yakin bahwa kecintaan serta pengabdian kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah sebuah keyakinan yang tepat untuknya. Beliau hanya meyakini titah Hamengkubuwono IX yang 'dirasanya' belum terkontaminasi oleh digitalisasi intelektualitas keduniawian. 
Bahkan waktu merapi menggeliat tahun 2006 lalu, meski Sultan Hamengkubuwono X telah meminta mbah ini untuk turun, beliau bersikukuh tidak mau dengan alasan belum ada bisikan titah dari mendiang sang Raja ke IX untuk meninggalkan Merapi "sendiri". Beliau cinta pada sang Raja, maka beliau yakin pada sosok dan figur sang Raja, lalu beliau juga akan yakin dengan apa yang di titahkan padanya.


Berdasarkan iman yang aku yakini pula, ada satu pesan yang begitu sering di ulang2 dalam kitab suci agamaku: Bahwa jangan pernah meyakini apa yang tidak pernah disampaikan oleh-Nya,dan apa yang dilarangNya, serta jangan lah mencintai apapun melebihi cinta kepadaNya, karena jika diresapi dengan benar dan di amalkan dengan baik, maka sesungguhnya kecintaan kepadaNya telah mengandung kecintaan kepada diri sendiri, orangtua, saudara, alam, serta sesama...Allahu'alam...*sebagaiPengingatDiriSendiri*