Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Agustus 2012

Lebaran = Vacation

Lebaran kali ini cukup menguras energi. Keluarga besar Bp.Abdullah kumpul tumplek dirumah sejak H-7 hari raya. Kecuali suami. Dia baru menyusul beberapa hari kemudian. Seru. Rame. 
Bisa dibayangkan papa dengan lima anak yang dua orang diantaranya sudah menikah. Lima anak ditambah tiga cucu, dua menantu. 
Alhasil rencana vacation ke desa yang sudah direncanakan sebelum lebaran terlaksana. Desa yang dipilih Pagaralam yang berjarak kurang-lebih 200KM dari pusat kota Palembang dengan jarak tempuh sekitar delapan jam.
Wisata alam yang terkenal di Pagaralam adalah Gunung Dempo dan Kebun teh. So,musim holiday gini gak heran aja kalau lalulintas menuju ke arah sana trafic banget. Termasuk penginapan.
Awalnya kami sempat berencana langsung menginap di Pagaralam. Tapi karena kami membawa anggota ter-imut (Ghaizan), akhirnya diputuskan menginap di kabupaten Lahat yang berjarak tempuh sekitar lima jam dari Palembang untuk istirahat dulu.
Alhamdulillah disini kami bisa mendapatkan penginapan. Tapi jangan tanya masalah kenyamanan. Saya sendiri sempat dibuat kecewa dengan pelayanan yang gak ramah dan "seadanya". Untuk ukuran standar (yang katanya banyak artis sama pejabat yang pernah menginap disini) bisa dibilang jauh dan tidak sebanding dengan harga yang harus dibayar. Tapi pada intinya sih yang penting ada tempat untuk istirahat. Dengan begitu hanya butuh waktu sekitar tiga jam lagi untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.  

Besoknya perjalanan kami lanjutkan ke Pagaralam. Seperti biasa, yang namanya jalan segerombolan pasti adaaa aja yang bikin schedule molor se-molor2nya. Niat awal berangkat subuh jadi ngaret berangkat jam 09.00 WIB. Alhasil boro-boro berharap bisa menikmati kabut dipuncak kebun teh, yang ada kami sempat terjebak macet mengular begitu sampe di lokasi.
Karena merasa hari pertama mengecewakan, kami putuskan untuk bermalam lagi satu malam, dan kali ini pastinya memilih bermalam di Pagaralam. Karena penginapan di area wisata masih penuh, kami memilih menginap di hotel Darma Karya yang letaknya beberapa kilo diluar area wisata.

Besoknya perjalanan sedikit lebih pagi. Kami berangkat ke lokasi wisata pukul 08.00 WIB setelah sebelumnya sarapan di penginapan dan membeli oleh-oleh kopi luwak yang se-benar benarnya (bukan abal-abal alias instan).Dan perjalanan kali ini lebih memuaskan karena kita tidak terjebak macet sehingga cita-cita untuk menikmati segarnya udara puncak tertingi kebun teh bisa terealisasi.

Untuk catatan kali ini, ada dua kejadian lucu dan seru yang kami alami selama perjalanan. Kejadian pertama saat kami terjebak macet mengular waktu arus balik hari pertama di objek wisata . Papa saya sempat menjadi "polantas dadakan" lantaran jalur yang tiba-tiba trafic luar biasa. Tau sendiri lah lebar jalan di tempat wisata serupa pegunungan begitu seberapa luas sih? Jalur yang idealnya dipakai untuk satu jalur dipaksakan untuk dua jalur. Alhasil masing-masing kendaraan yang saat itu didominasi motor, gak ada yang mau mengalah. Lebih dari setengah jam celingak-celinguk gak satupun polisi yg mengatur. Jadilah si papa turun tangan. Lumayan membantu loh. Dengan dibantu dua orang bapak pengemudi kendaraan lain yang ikutan mengamankan juga akhirnya trafic bisa sadikit teratasi. hahaha

Kejadian kedua di hari kedua waktu kami menuju puncak kebun teh. Ada momen dimana kami sengaja singgah di dekat lokasi rumah penduduk. Rencananya sih mau sesi foto-foto. Belum ada jepretan petama tiba-tiba muncul wanita paruh baya yang sepertinya mengalami keterbelakang mental. Bukan masalah keterbelakangan mentalnya yang jadi objek tertawaan, melainkan ketika saya yang ketakutan terbirit-birit masuk ke mobil sewaktu wanita paruh baya tersebut minta bersalaman dengan saya sehabis diberi papa saya uang. Spontan saya ngacir waktu si ibu tsb tiba-tiba mengulurkan tangan. Dan ini adalah kedua kalinya saya mengalamai hal serupa setelah sebelumnya kejadian serupa saya alami waktu masih SMA. hahaha

Begitulah kisah lebaran kali ini. Dicatat,ditulis dengan terburu-buru sembari mengasuh Ghaizan yang semakin lincah dan makin kenal indungnya. #fiuuhh#. So, foto-foto menyusul yaahh...




Rabu, 18 Agustus 2010

Intermezo

Udara dingin masih terasa. Lembab embun rerumputan juga sepertinya masih membalut jari kaki ku. Hari ini tipi dimana-mana bernuansa merah-putih. Tentu tak lupa nuansa ramadhan tetap kental terasa. 
dan aku...,
Selesai taraweh (merasakan taraweh pertama di sini) langsung onlen donk...hehe
Begitu sampai dirumah hari minggu kemarin, aku sempet di hebohkan dengan urusan rapih2 & beres2. Si mbak yang biasa bantu beresin rumah kabarnya udah sekitar semingguan sakit. Mau gak mau ya harus mau untuk beres2.(Loh koq curhat??:D)

Yeah, finally kembali lagi aku ditempat suami mengais rejeki, setelah lebih dari satu bulan  hijrah ke tanah kelahiran guna menyelesaikan beberapa urusan. 
Rasanya badanku masih remuk redam setelah sebelumnya mampir semalam ke kota kembang sebelum akhirnya ketemuan sama suami di Jakarta. Sebenarnya aku sempat berniat mampir menjumpai Icha. Tapi karena penerbanganku hari sabtu, otomatis perjalananku bukan pada saat weekend. dan sudah sangat tidak mungkin aku membuat appointment dengannya di hari2 kerja. Wong aku juga sekalian pingin ngeliat si Atha koq...
Mertuaku sempet menghela nafas panjang bgtu tau aku sudah ketemu sama suamiku. "Lega" katanya. "Takut aku gak nyampe", begitu lanjutnya. hehehe.

Thank God kemarin suami sempat ada kursus di Jakarta. Bertepatan dengan rencana kepulanganku. Jadi perjalanan udara selama lebih-kurang 2 jam menuju ke Ujungpandang gak kerasa mendebarkan karena ada temennya. :D

Aku masih parno kalo naik pesawat. Huuufffh...entahlah...Rasanya aku dimasukkan ke dalam kotak yang siap dilemparkan ke udara. 
Dulu sempat berfikir betapa seru-nya hidup nomaden seperti ini. Berpindah dari satu pulau ke pulau berikutnya. Melihat secara langsung perbedaan budaya dan bahasa. Merasakan ragam masakan khas daerah yang tentunya memiliki cita rasa unik.
Sebelum kembali ke tanah kelahiran, ortuku juga pernah bertugas di beberapa pulau  yang berbeda, dan pada saat itu aku sempat merasakan nikmatnya perjalanan udara. Memandang perbukitan dan pegunungan yang terhampar luas dari atas, menikmati kecantikan liukan delta yang menjorok, serta hamparan laut yang membentang indah dengan titik2 kapal di atasnya bagaikan memandang jentik-jentik di permukaan bak mandi.

Tapi sekarang perjalanan udara sungguh bagaikan momok bagiku. 
Tadinya kupikir sikap parno (baca: paranoid) ini cuma sifat berlebihanku aja atas reaksi catatan buruk bisnis penerbangan di Indonesia....tapi ternyata, sekaliber dosenku yang sering mondar-mandir ke luar negeri aja pernah cerita di kelas kalo beliau prefer naik kereta daripada pesawat! Bahkan, mbak meidi juga pernah bilang kalo begitu udah di dalem pesawat, rasanya jadi teringet dosa2! hahaha.

Kita memang tidak bisa menghindar di mana maut akan menjemput. Tapi setidaknya selagi nafas masih berhembus, sebagai manusia kita diberikan kesempatan untuk terus berdoa agar selalu dilindungi dari bala' serta bencana yang berkaitan dengan keluarga, harta benda dan nyawa.
Semoga Allah SWT menggolongkan kita sebagai hamba yang khusnul khatimah...serta menyelamatkan kehidupan kita di dunia dari segala hal yang tidak menyenangkan...
Amin Ya Robbal'alamin.



Jumat, 25 Juni 2010

Sepenggal rasa kangen

Blog ku kali ini terbengkalai lebih lama dari sebelumnya. :D 
Tp alasan kali ini dikarenakan vacationku yg cukup melelahkan sekaligus menyenangkan. Mengapa bgt??Krn beberapa belakangan hari ini aku berada di tanah kelahiranku. ^^ Yippieee...! Setelah sebelumnya aku mengunjungi uwak ku di tanah jawa.

Sesekali keluar dari sarang memang adalah obat ampuh melepas kebosanan dan rutinitasmu. Itulah yang aku lakukan. dan percayalah, itu sangat menyenangkan. hehehe.
Bertemu ortu, adik2ku, keponakanku yang lucu2. 
Perjalanan sendiri membuat aku merasa seperti masih single. :p "Aku koq berasa kayak mudik dari liburan kuliah ya??" Begitu komentarku ke papa.

Belum banyak yang berubah dari kota ku tercinta. Tata letak di rumahku juga tidak banyak yang berubah. 
Hanya satu yang terlihat mencolok; aksesoris pelengkap "Mohon Doa Restu" pernikahanku kemarin masih terpampang sempurna pada tempatnya.
"Nanti papa copot kl kamu sdh punya anak. Selama km msh berdua, bagi papa km selalu penganten baru."

Duh papa...
I Love you so...
I'll always do my best for you...


P.S : Thanks so much for my lovely husband.







Sabtu, 12 Juni 2010

When pictures say...

Sekian lama membiarkan blog terbengkalai, seperti ada rasa berdosa. Tapi aku jg lagi males bercerita. So, aku posting saja beberapa gambar wkt aku (lagi2) kondangan di tempat salah satu driver kantor suamiku. Cerita kondangannya gak jauh beda dengan title "Jalan-Jalan" yg judulnya "kondangan" yang pernah aku posting  beberapa pekan lalu disini.

 Ini gambar dari jauh rumah yang mengadakan hajatan. Atap Biru.


Adek-adek yang sengaja di pajang di bagian depan untuk nyambut tetamu:


Next...Suasana di pelaminan dan tetamu



Mantennya:


Gak kayak kondangan pd umumnya, letak sajian makanan & kotak angpao nya ditaro di depan pelaminan. Gatau alasannya apa, tp yg pasti memang sudah begtu kebiasaan disini. :) Satu lagi, ktanya untuk warna pelaminan minimal HARUS dua warna (merah-kuning atau merah-hijau. Kl pake 3 warna; merah-kuning-hijau).

Yuk...mari melihat sesi icip2 kue-kue yang pernah saya ceritakan sebelumnya. hihihihi


Meja berbentuk "L" yg isinya penuh kue warna-warni. Beginilah beberapa (pic.atas-bawah) macam kue yg biasa disajikan. Secangkir teh manis hangat biasa menjadi teman aneka kue tsb.


Beberapa jenis kue yang biasanya wajib ada di atas meja:
Ini kue terbuat dari nutrijel. dibentuk sebesar kelereng. Biasanya kuah nya terbuat dari santan/susu-gula merah atau santan-sirup pink. Bisa juga terbuat dari susu putih saja yang di cairkan. Kalo ditanya namanya, mereka cuma bilang "nutrijel! haha. So, kl blm ada yg namanya nutrijel, pake agar2 kali yah??






Kalo ini namanya Barongko'. Terbuat dari pisang, gula pasir, santan. Dibungkus di daun pisang. Trus di kukus. Teksturnya lembut, dan aroma pisangnya gak terlalu kuat. Biasanya pake pisang raja.








Kue ini gak tahu namanya apa. Setiap ku tanya, mereka cuma bilang kue yg terbuat dari telur, santan, dan di atasnya ditaburi coklat bulat kecil. Rasanya telur banget. ada yang warna ijo juga.









Nah, ini kue andalan di sini. Namanya Katiri Sala. Bagian atas terbuat dari telur, santan, gula merah. Bagian bawahnya terbuat dari ketan hitam dan ketan putih. Bikin kue ini katanya ribet karena memasukkan telurnya saja tidak bisa sembarangan. Belum lagi untuk menyatukan kue dan ketan nya. Butuh kesabaran ekstra. Mungkin karena itu kue ini spesial banget disini (Sulsel). Soal rasa, gak jauh berbeda dengan kue-kue lain. Manis dan beraroma telur. Teksturnya lembut. Ketan hitam dan putih menetral rasa eneg di kue ini.



Yaaaaa!!! Kalo ini rombongan orang narsis yang sempet2nya foto2 dulu sebelum berangkat! wakakakak. Meski yang bisa dateng cuma se uprit, tapi suasana tetap seru. hehehehe. 

Sabtu, 22 Mei 2010

Kondangan Euy ^^

Minggu ini yang paling berkesan adalah KONDANGAN! Hehehe
Sebenernya kondangan adalah hal biasa. Tapi yang membuatnya menjadi luar biasa adalah ini kondangan keduaku di tempat dan dengan situasi yang berbeda.
Kondangan di gedung seperti kebanyakan bukan menjadi ceritaku kali ini, karena kondangan ini terjadi dirumah penduduk setempat. Yah, kompleks kami dikelilingi kehidupan penduduk sekitar yang rata-rata berpenghasilan dari panen coklat, jagung, dst. Maka tak heran kalau perusahaan tempat suamiku bekerja ini merekrut penduduk sekitar untuk menjadi tenaga bantu. Peran mereka terlihat sepele. Tapi tanpa mereka, kufikir kompleks ini tidak akan terlihat asri dan bersih. Dan sangat pantas sekali jika kita menaruh perhatian yang sama kepada mereka, salah satu nya menghadiri undangan yang mereka berikan.

Rumah masyarakat penduduk asli disini berkaki dan bertangga (panggung) seperti rumah adat sumatera pda umumnya. Mungkin yang membuatnya sedikit berbeda dengan rumah adat di Palembang adalah jarak antara plafon dengan lantai yang lebih rendah, atap yang tidak terbuat dari genteng melainkan dari seng, serta arah tangga yang rata-rata menyamping dari pintu. Jadi kalau dilihat dari luar dan di amati , terlihat kalau kaki rumah akan nampak lebih tinggi daripada badan rumah. Maka tidak heran kalau bawah rumah mereka sering dijadikan bale-bale tempat bersantai dan makan siang bersama keluarga, atau bahkan digunakan sebagai tempat untuk dipasangnya pelaminan jika ada pesta pernikahan.


Ini salah satu contoh rumah penduduk di sana. Ada parabola-nya loh...hehe...


Karena berfikir bahwa tidak akan ada acara naik tangga, seperti kondangan pada umumnya aku memakai high heels. Tapi ternyata kondangan kali ini sedikit berbeda. Dibutuhkan sedikit usaha untuk sampai ke tempat tujuan dengan menapaki tanjakan berbatu dan tanah yang tingginya lebih-kurang sekitar 30 derajat. Cukup melelahkan, apalagi ketika posisi menurun. Kalau tidak hati-hati bisa tergelincir! Ditambah cuaca hujan saat itu. Wuuuuw! Hahaha.

Yang lebih menarik bukan pada saat itu. Tapi pada saat aku diajak naik oleh salah satu keluarga mempelai pria untuk melihat prosesi akad. Benar-benar suasana yang ‘adat’ banget. Apalagi diruang tengah ada meja kecil berbentuk “L” yang di atasnya terhampar hidangan kue beraneka ragam dan rasa! Sekejap mataku langsung “blink-blink”. Terbayang mencomot satu per-satu kue beraneka rasa dan warna itu! Hahaha.

Aku duduk berjejer bersama beberapa tetamu lainnya. Konon yang berhak duduk disini adalah keluarga dan atau orang-orang spesial. Wah…jadi gimanaaa gt…. Hehehe…
Dua bapak-bapak berkumis dengan pakaian safari sesekali melirikku sambil sesekali melempar senyum. Mungkin wajahku yang asing menarik perhatian mereka. Bukan wajah pribumi. atau bapak2 itu nyadar aku lirik kue-kue yah?? Hahaha. Ternyata bapak-bapak itu adalah dua tetamu agung. Anggota DPRD dan (mungkin) salah satu nya dari kantor camat?
Mempelai pria di tempatkan di posisi khusus yang sudah disekat seperti menjorok kedalam. Berbentuk petak. Tempat sudah dihiasi dengan pernak-pernik has sulawesi berwarna kuning-hijau. Disitu nantinya akad juga akan dilaksanakan. Sementara mempelai wanita masih disembunyikan di dalam kamar.

Sebelum akad dimulai, ada satu acara yang unik; menyodorkan sisa ‘uang naik’ kepada kedua orangtua perempuan dan tetamu agung (disini dipilih bapak-bapak safari itu). Yah, di sini ada istilahnya ‘uang naik’ atau kalau di palembang ‘uang asap’, atau istilah umumnya uang belanja. Sejumlah uang pemberian dari pihak calon mempelai pria yang diberikan kepada keluarga calon mempelai wanita guna dibenjakan untuk acara pernikahan. Nah, sisa belanja tersebut wajib diserahkan sebagai ‘tanda jadi’. Uang akan dihitung oleh saksi (tamu terhormat) dan disaksikan oleh keluarga. Jadi jangan terkejut kalau jumlah nominal uang sampai disebutkan. Agak mirip dengan adat palembang. Tapi adat Palembang itu yang harus ditunjukan adalah mas kawin.

Kemarin ketika pernikahanku, sebelum akad dilangsungkan, calon mempelai laki-laki harus menunjukan kepada orangtua dan saksi mas kawin yang dibawa. Selanjutnya mas kawin ditunjukkan ke aku sebagai calon mempelai wanita yang saat itu masih disembunyikan dikamar. Tapi di sini uang naik sepertinya sesuatu yang sangat penting sehingga menjadi syarat yang wajib dipenuhi. Bahkan kemarin aku tidak melihat adanya penyerahan mas kawin. Hhmm…disini sepertinya status uang naik memang lebih tinggi dibandingkan dengan mas kawin.

Ikrar akad tidak dibacakan melalui pengeras suara. Untuk yang satu ini sepertinya bukan pakem disini. Pake alat pengeras suara atau tidak, yang penting ikrar sudah dibacakan.
Setelah akad, mempelai pria digiring masuk ke dalam kamar guna menjemput mempelai wanita. Acara sungkeman. Lalu turun kebawah menuju pelaminan. Selebihnya, tidak jauh berbeda dengan acara kondangan ‘kota’.
Unik. Berkesan. Tapi sayang saat itu aku dan suamiku tidak bawa kamera ataupun hape. Jadinya ga bisa difoto deh…